PTH sebagai Simbol Bangunan Peradaban di Bidang Keilmuan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr KH Nashirul Haq, MA, meluangkan waktu memberi pengarahan dalam acara Rapat Koordinasi Perguruan Tinggi Hidayatullah (Rakor PTH) yang digelar selama tiga hari di Jakarta.

Dalam pengarahannya, Dr Nashirul Haq mendorong PTH terus merancang diri agar bisa menghadapi peluang dan tantangan di masa mendatang. Dalam pada itu, ia mendorong PTH bisa menjadi model dalam pengembangan peradaban Islam.

““PTH harus menjadi symbol bangunan peradaban di bidang keilmuan. Bahkan bisa menjadi mata kuliah tersendiri adalah Islamic Worldview, jika belum mampu, setidaknya semua dosen harus memberikan warna keislaman bagi mahasiswa melalui proses pembelajaran dan kultural,” katanya.

Beliau lantas sedikit menyitir sejarah pendidikan pada masa Rasulullah baik Kuttab maupun Masjid. Dimana istilah jami’ah (pendidikan tinggi) mengambil dari spirit Masjid jami’ (masjid Nabawi). Artinya, kata beliau, secara historis pendidikan tidak boleh kehilangan ruh spritual dan moralitas.

“PTH secara umum memiliki kekuatan dan peluang sepeti jaringan yang luas, lapangan kerja yang secara internal dengan istilah tugas atau pengabdian. Jaringan Pendidikan pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia menjadi khazanah tersendiri bagi keberlangsungan PTH,” ujarnya.

Namun di tengah peluang dan kekuatan tersebut ada tantangan besar juga yang harus diperhatikan oleh pengelola PTH yaitu semakin besarnya kebutuhan sumber daya insani (SDI). Tingkat kebutuhan SDI di semua jenjang Sekolah yang dimiliki Hidayatullah menaruh harapan besar kepada PTH. Mampukah PTH menjawab persoalan ini, tantangnya.

“Selain itu, tantangan bagi PTH juga adalah harus punya ideolog yang bisa mewarnai pemikiran. Maka secara hirarki civitas akademika figur yang pertama adalah Ketua PTH,” imbuhnya.

Beliau mencontohkan bagaimana kejayaan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) atau International Islamic University Malaysia (IIUM) yang tidak punya nama besar di dunia, tapi karena punya guru besar yang ideolog dan pemikir yaitu Prof Syed Muhammad al Naquib Al Attas, maka ISTAC menjadi perguruan bagi para talabul “ilm tak terkecuali dari Indonesia.

Beliau juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas dan profesionalitas dan pengelolaan PTH seperti dalam pembukaan Prodi yang harus diatur dalam regulasi yang baik. Agar setiap pembukaan program Studi baru terlebih dahulu melalui kajian dan studi kelayakan.

Ia mengingatkan bahwa spirit awal yang melatarbelakangi PTH lahir adalah untuk melahirkan kader, ulama dan pelanjut. Karenanya, beliau menegaskan, meski sudah membuka untuk umum tidak boleh disorientasi dan tidak boleh juga terlalu larut dalam arus yang dapat menghilangakn orientasi awal yaitu PTH adalah ceruk kader.

Bertempat di Komplek Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Rapat Kordinasi Pendidikan Pendidikan Tinggi Hidayatullah ini diprakarsai oleh Departemen Ristekdikti ini berlangsung tanggal 4-6 Juli 2019.

Hadir pada kesempatan tersebut pimpinan PTH dan bakal kampus pengelola PTH dari seluruh Indonesia yaitu STIE Hidayatullah (Depok), STAI Lukman Al Hakim (Surabaya) , STIKMA International (Malang), STIS Hidayatullah (Balikpapan), IAI Abdullah Said (Batam) dan STKIP Al Bayan (Makassar). */Mohammad Ramli

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.