Kebenaran Harus Disampaikan dengan Cara Baik dan Benar

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, DR. H. Nashirul Haq, MA, mengatakan Islam adalah kebenaran namun belum disampaikan dengan cara yang baik dan benar, sehingga banyak dari umat ini yang belum merasakan kebahagiaan berislam.

“Kebenaran tidak disampaikan dengan cara yang benar. Disinilah letaknya kenapa gerakan dakwah kita selama ini belum menghasilkan sebuah kekuatan umat dan belum bisa menghantarkan umat ini memilki kesadaran iman yang tinggi,” kata Nashirul saat menyampaikan taushiah di hadapan jamaah Masjid Baitul Makmur, Monang Maning, Gn. Merbuk II, Tegal Kertha, Denpasar, belum lama ini.

Sebab itu, Nashirul mengingatkan pentingnya segenap kaum muslimin terutama para dai menyadari pentingnya dakwah yang mencerahkan. Menurutnya, hal yang amat penting harus dipahami dalam gerakan dakwah adalah materi atau konten dan metode atau manhaj.

“Pertama, kita harus memahami isi kandungan Al Quran dan Sunnah dengan benar sebelum disampaikan kepada umat. Kedua, memahami thariqah atau cara berdakwah yang benar,” imbuhnya.

Nah, lanjut dia, dalam dakwah yang disampaikan adalah kebenaran Al Quran dan sunnah, namun sayangnya seringkali tidak disertai dengan cara, metode, atau manhaj yang benar. Akibatnya, umat tidak tercerahkan, padahal yang disampaikan adalah kebenaran.

“Inilah yang diingatkan Allah dalam Surah Al Isra ayat 105, “Dan kami turunkan Al Quran itu, dengan sebenar benarnya. Dan turun membawa kebenaran,” katanya seraya menukil ayat suci Al Quran.

Dia menyebutkan penjelasan ulama tafsir bahwa Al Quran turun dengan sebenar-benarnya, artinya Al Quran turun dengan cara yang benar.

Cara yang benar itu dijelaskan dalam ayat berikutnya: “Dan Alquran ini Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia dengan perlahan-lahan,”

“Jadi manhaj dakwah yang benar itu harus sistematis atau bertahap”. jelasnya

Beliau juga menukil penjelasan seorang ulama tafsir, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitabnya, Taisir Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, bahwa al Qur’an diturunkan bagian demi bagian artinya sedikit demi sedikit agar umat bisa mentadabburi dan merenungi isi dari Al Quran dan memikirkan makna-makna yang terkandung didalamnya serta bisa menggali lebih dalam ilmu-ilmu yang terkandung dalam setiap ayat.

“Inilah yang menjadi rahasia, kenapa Al Quran ini bisa eksis dalam jiwa para sahabat-sahabat Nabi SAW. Bukan saja dipahami, tetapi betul-betul menjadi sebuah keyakinan dan merasuk ke dalam jiwa yang menggerakan untuk beribadah, berakhlak mulia dan bermuamalah yang benar,” jelasnya.

Nashirul pun menceritakan perihal aksi protes yang dilakukan orang-orang musyrik yang mempersoalkan kenapa wahyu Al Quran diturunkan sedikit demi sedikit bahkan selama kurang lebih 23 tahun lamanya. Allah SWT pun menjawab kegalauan orang musyrik tersebut sebagaimana dalam Surat Al-Furqan Ayat 32

“Ini agar Al Quran benar benar tidak hanya dipahami tetapi menjadi kenyakinan dan dari keyakinan itulah kemudian melahirkan sikap dan tindakan yang nyata untuk menjadikan Al Quran ini sebagai pedoman dalam hidup,” kata Nashirul.

Dalam rangka mereaktualisasi gerakan dakwah yang intensif, kohesif dan inklusif dengan menyasar semua umat manusia yang membutuhkan obat kegersangan hati, Hidayatullah pun melahirkan metodologi dakwah yang diistilahkan dengan nama Sistematika Wahyu (SW) yang menjadi manhaj gerakan tarbiyah dan dakwah Hidayatullah.

“Lahirnya Sistematika Wahyu agar dapat membumikan Al Quran ini sesuai dengan tahapan tahapan yang dilalui dan dijalani oleh Rasululullah SAW dan para sahabatnya. Itulah cara yang benar, yakni memulai dari mana Allah memulainya, yakni dari wahyu pertama diturunkan Surah al Alaq 1-5” tegasnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.