Menghadapi Pandemi dengan Memadukan Protokol Langit dan Protokol Bumi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, mengatakan dalam menghadapi pandemi covid-19 harus disikapi tidak saja dengan menggunakan protokol kesehatan berbasis ilmu pengetahuan dan sains, melainkan juga memadukannya dengan apa yang disebutnya sebagai “protokol langit”.

“Kita harus memadukan antara ikhtiar dan doa secara maksimal. Dalam istilahnya, yaitu memadukan antara protokol langit dan protokol bumi,” katanya beberapa waktu lalu dalam acara Taushiyah dan Takbiran Nasional 1442 Ormas Islam.

Beliau mengimbuhkan, segala bentuk ikhitiar dan doa harus dilakukan secara bersamaan dalam menghadapi pandemi ini.

“Protokol langit dalam bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Sedangkan protokol bumi adalah menjalankan protokol kesehatan sebagaimana telah kita pahami dan upayakan bersama,” katanya.

Jika keduanya sudah dilaksanakan secara sungguh sungguh, lanjutnya, maka apapun ketentuan Allah SWT maka itulah yang terbaik di sisi-Nya.

“Maka salah satu doa yang diajarkan oleh Nabiullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam setiap kali seorang mukmin menghadapi musibah adalah Allaahumma ajirnii fii mushiibatii wa akhlif lii khairan minhaa. Ya Allah, berilah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya,” lanjutnya seraya menyelipkan kiat doa.

Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) ini berpesan kepada diri dan kaum muslimin untuk tetap bersabar dalam menghadapi situasi ini. Sebab, terang dia, boleh jadi setelah ini Allah akan memberikan sebuah karunia bagi orang orang yang menjalaninya dengan penuh kesabaran, penuh optimisme dan penuh husnudzon kepada Allah SWT.

“Semoga kita semua selalu dalam keadaan baik dan sehat. Semoga yang sakit disembuhkan. Yang mengalami kesulitan dimudahkan dan yang telah dipanggil oleh Allah diampuni segala dosa dan kesalahannya, diterima amalnya dan mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya,” katanya.

Beliau menambahkan, dalam kondisi yang kita hadapi seperti saat sekarang ini, spiritualitas dan kedekatan diri kepada Allah SWT harus lebih ditingkatkan, termasuk kesabaran dan sikap optimis menjalani kehidupan di hari hari mendatang.

“Karena kita yakin selalu ada hikmah besar yang terkandung di dalam setiap ketetapan dari Allah SWT,” ujarnya.

Lebih jauh, pria yang karib disapa UNH ini mengingatkan bahwa sebagai orang beriman kita harus yakin bahwasanya setiap Allah menurunkan cobaan dan ujian ujian ada hikmah besar yang menyertainya. Sehingga, terangnya, sikap yang seharusnya dimunculkan adalah sabar, tawakkal dan optimis seraya berdoa semoha Allah SWT memberikan karunia yang lebih baik lagi.

Beliau lantas menukil sebuah hadirs dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang diriwayatkan Imam Muslim:

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”

UNH menerangkan bahwa orang beriman itu keadaannya selalu baik. Dalam keadaan ia susah mendapatkan ujian dan cobaan, ia bersabar dan itu baik baginya. Dalam keadaan ia mendapatkan kenikmatan, dia bersyukur.

“Dalam mengarungi kehidupan ini selalu ada ketentuan Allah yang tidak bisa kita hindari, yang, boleh jadi, sebenarnya untuk kebaikan dan kemaslahatan hambanya namun hamba yang dhaif yang belum mengetahuinya,” imbuhnya seraya mengutip firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 216:

وَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ خَيۡرٌ لَّـکُمۡ‌ۚ وَعَسٰۤى اَنۡ تُحِبُّوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمۡؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

“Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal menurut Allah baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal buruk bagimu. Allah Maha Tahu, sedang kita tidak tahu”.

Beliau menukaskan, bahwa mungkin kondisi yang kita hadapi saat ini adalah sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi itu boleh jadi baik bagi Allah SWT agar kita bermuhasabah. “Agar kita menyadari segala keterbatasan dan kelemahan kita,” pungkasnya. (ybh/hio)