Al Qur’an Obat Kegersangan Hati, Bekal Utama Gapai Bahagia

SOAL motivasi, tidak ada yang bisa menandingi al-Qur’an. Jangankan melampaui mukjizat kitab suci umat Islam, mendekati kehebatannya saja tiada satupun yang mampu.

Ini berlaku sejak diturunkannya wahyu pertama pada 1400 tahun lebih yang silam. Hingga Hari Ditiupnya sangkakala, pertanda habisnya masa kehidupan di alam dunia ini. Tak heran, al-Qur’an dipenuhi dengan lembar-lembar sejarah yang sarat inspirasi. Kisah-kisahnya telah lama berlalu. Namun pelajarannya berlaku sepanjang masa.

Hebatnya, al-Qur’an tidak cuma soal motivasi biasa-biasa saja. Layaknya buku karangan manusia yang disesaki dengan ratusan kata-kata penyemangat jiwa. Al-Qur’an bukan pula hanya berisi tips-tips pengembangan diri dan sejenisnya. Sebagaimana yang sering didapati di training-training atau pelatihan yang diadakan. Tapi Kalam Ilahi tersebut juga berisi janji pasti dan solusi mumpuni untuk semua persoalan yang dihadapi manusia.

Contohnya, sebagian manusia modern kadang mengeluh hari ini. Mengaku bahwa bahagia yang dikejarnya tak kunjung ketemu. Hari-harinya justru diratapi setiap waktu. Dadanya sesak. Ia merasa hanya beralih dari satu duka ke lara berikutnya. Masalahnya tak pernah henti mendera. Ibarat gelinding bola salju, makin hari masalah itu terus menggunung. Akibatnya jiwanya stress. Pikirannya kalut. Seolah tak ada lagi solusi dalam hidupnya.

Dalam kondisi demikian, tiba-tiba timbul bisikan dalam hati. Bukankah dia punya Tuhan Yang Maha Penolong? Tapi kenapa dirinya seolah dibiarkan begitu saja. Tidakkah al-Qur’an pernah memberi janji? Namun kemana gerangan pertolongan itu? Dia pun mulai menggugat. Merasa tak ada yang peduli dengan keadaannya. Keyakinannya berangsur pudar. Seiring bintik-bintik keraguan itu terus tumbuh berkecambah dalam hatinya.

Masalahnya, dan inilah yang tak disadarinya. Rupanya dia sendiri yang selama ini menjauhi al-Qur’an. Mushafnya dibiarkan tergeletak berdebu. Teronggok begitu saja. Tanpa pernah dibukanya apalagi dipelajari.

Sekian banyak ilmu dikejarnya tanpa kenal rasa lelah. Dia lupa bahwa ilmu pasti, yaitu jalan keluar tersebut justru pada al-Qur’an yang diabaikannya. Ilmu tentang urusan-urusan dunia yang fana begitu diminatinya. Sedang terhadap perkara agama dan menyangkut kehidupan setelah mati yang pasti justru terabaikan.

Ia tampak sibuk bekerja untuk meraih bahagia. Tapi yang didapat justru kepayahan yang tak berbilang. Jiwanya kering. Fisiknya letih. Justru nafsunya yang kian lapar. Ibarat meneguk air laut, makin ditelan hausnya malah kian menjadi-jadi.

Ia benar-benar lupa. Atau mungkin lalai kalau di dalam al-Qur’an, ada banyak kisah yang serupa dengan jalan hidupnya. Tentang orang-orang yang mesti menanggung beban hidup dan beratnya ujian yang menimpanya.

Bedanya, sosok-sosok inspiratif dalam al-Qur’an tersebut punya iman yang teguh. Keyakinannya kepada Tuhannya tak pernah pudar. Setegar batu karang di lautan, seperti itu teguhnya kesabaran orang tersebut. Bahwa sabar yang disertai iman itu niscaya sanggup menyelesaikan masalahnya. Bahwa shalat yang sekira ditegakkan setiap waktu adalah sarana paling efektif mengadukan setiap persoalan hidupnya. Apakah hasilnya bisa dinikmati di dunia atau ditangguhkan dengan balasan di surga? Itu biar jadi kehendak Allah saja.

Baca kisah Nabi Yusuf, misalnya. Bisa apa Yusuf kecil saat dibuang ke dalam sumur tua oleh saudara-saudaranya yang penuh iri? Usianya masih anak-anak. Tenaganya begitu lemah. Sumurnya teramat dalam. Dindingnya sempit. Tempatnya jarang dilalui manusia. Tepat di tengah sahara.

Lalu, bisa apa Yusuf saat itu? Adakah solusi baginya? Bisakah ia keluar dengan selamat dari sumur tua itu? Sanggupkah dia bertahan dengan tubuh kedinginan berhari-hari? Dan masih ada sederet keraguan lainnya, jika itu yang dipermasalahkan.

Al-Qur’an menoreh kisah ajaib tersebut. Jawabnya, Yusuf bisa berdoa. Yusuf pernah dibekali ilmu dan dimotivasi ayahnya, Nabi Ya’qub, tentang Zat Yang Maha Kuasa. Bahwa meski dicebur dalam sumur tak bertuan, ada Tuhannya yang pasti bersamanya selalu.

Solusinya, Yusuf tawakkal dengan amal shalehnya, sebagai anak yang penurut lagi qurratu a’yun (penyejuk mata). Harapannya, ada doa sang ayah yang tak kunjung putus untuk kebaikan generasi pelanjutnya.

Inilah barakah ilmu yang sebenarnya. Manfaatnya bukan sekadar diri yang termotivasi atau terbakar semangatnya. Tapi motivasi ilmu itu menular hingga melahirkan gugusan keyakinan yang begitu kuat. Keyakinannya tak pernah pudar.

Bahwa bersama kesulitan yang mengadang selalu ada jalan yang terang benderang. Siapa sangka, atas izin Allah, tiba-tiba ada rombongan pejalan kaki yang melewati sumur itu? Siapa pula yang memotivasi dan menggerakkan hati mereka untuk menurunkan timba ke dalam sumur tersebut? Jawabnya, Allah-lah yang memberi motivasi dan Allah juga yang menjawab keyakinan itu.

MASYKUR SUYUTHI

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.