Ketum Hidayatullah: Harus Ada Proses Tarbiyah untuk Mencetak Negarawan

Ilustrasi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Untuk menjadi negarawan, seorang pemuda harus berilmu dengan belajar sejarah sebagai pijakan dan proses tarbiyah. Selain itu, kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Nashirul Haq, bekal yang tak kalah penting adalah tampil menjadi pelopor dalam beramal mengambil peran untuk terus memberikan pencerahan kepada umat.

“Negarawan lahir dari sosok tokoh atau pembimbing. Ada syeikhnya, harus ada proses tarbiyah dalam mencetak negarawan dan harus dalam bimbingan,” ujar Nashirul dalam webinar Pemuda Hidayatullah bertema “Songsong Negarawan Masa Depan”, Jumat (16/10/2020).

Menurut Nashirul, lahirnya negarawan juga harus disiapkan dengan mengikatkan diri dalam ikatan jamaah kaum Muslimin agar dapat terus menguatkan diri dari godaan dan menjaga idealisme.

“Apabila dekat dengan mereka yang kuat iman dan imunitasnya, insya Allah akan kuat juga. Kalau jalan sendiri akan mudah diterkam seperti analogi domba dalam pesan Rasulullah,” ujar Nashirul sambil mengutip hadits hasan yang diriwayatkan Abu Daud, An Nasa-i, Ahmad dari Abu Darda’, pada webinar yang disiarkan kanal Youtube Pemuda Hidayatullah TV.

“Apabila dekat dengan mereka yang kuat iman dan imunitasnya, insya Allah akan kuat juga. Kalau jalan sendiri akan mudah diterkam seperti analogi domba dalam pesan Rasulullah,” ujar Nashirul sambil mengutip hadits hasan yang diriwayatkan Abu Daud, An Nasa-i, Ahmad dari Abu Darda’, pada webinar yang disiarkan kanal Youtube Pemuda Hidayatullah TV.

Seiring itu, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi, mengatakan sudah saatnya pemuda mengambil peran kenegarawanan sekecil apapun kiprah yang dapat dilakukan. Sehingga, menurutnya, sangat penting bagi kaum muda Indonesia mengerti soal hadirnya sikap mental kenegarawanan.

Imam mengatakan, di antara tema arus utama diskusi ataupun kajian-kajian pemuda Hidayatullah ke depan akan mengangkat, selain dakwah dan tarbiyah, yaitu bagaimana membangun mental kenegerawanan. Topik itu di dalam Islam adalah apa yang disebut dengan amanah kekhalifahan.

“Kelak dari sini diharapkan akan lahir pemuda masa depan yang bisa menjadi sosok negarawan sehingga Indonesia bisa menjadi negara berpengaruh, beradab, konsisten di atas nilai nilai dan dasar falsafah negara serta pada saat yang sama mampu berkontribusi dalam kancah internasional sebagaimana tertuang dalam konstitusi kita,” ujar Imam.

Pada webinar yang sama, Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid mengatakan definisi negarawan perlu didudukkan bersama. Kalau mengacu pada KBBI, negarawan memang terkait dengan memimpin yang kaitannya dengan politik.

Tapi, tegas HNW, sapaannya, politik jangan diartikan semata partai politik. Politik, jelasnya, yaitu kegiatan atau kondisi untuk menghadirkan kebijakan dan kebijaksanaan yang itu dilakukan dalam satu kawasan atau konteks negara yang dilakoni oleh mereka yang memang memiliki wawasan, kewibawaan, punya kemampuan untuk mengelola, dan tentu karena mempunyai kebijaksanaan.

“Dalam konteks Indonesia, sifat negarawanan ini juga merupakan pengejawantahan dari sikap keislaman dan nubuwwat. Sebagai pemuda Muslim yang tinggal di Indonesia, kita sesungguhnya bagian dari sejarah itu sendiri,” katanya.

Dalam menengarai definisi negarawan, HNW mengemukakan kaidah yang masyhur dalam tradisi pesantren: “Al-Hukmu ‘ala Sya’in Far’un ‘an Tashawwurih” (menghukumi sesuatu itu cabang dari pengetahuan hakikat sesuatu itu).

Menurutnya, jika mau menghadirkan kejelasan defenitif atau kejelasan hukum, atau kejelasan pengertian atas sesuatu, maka harus ada titik temu dalam persepsi terhadap definisinya. Jika persepsinya tidak disepakati atau mungkin tak tepat, tentu kejelasan definitifnya akan bias. Mengacu dari situ, HNW mengemukakan bahwa relasi keislaman dan keindonesiaan sudah selesai.

Ia mengungkapan sangat penting juga memahami jaring peta ke depan. Tapi dia menegaskan, peta ke depan bukan sesuatu hal yang harus menjadikan kehilangan warisan sejarah, apalagi kehilangan Qur’an, Hadits, dan Islam bagi kaum Muslim. “Justru peta ke depan harus membawa kepada kelanjutan mujahadah, ijtihad, dan syura dari apa yang telah dilakukan oleh the founding father kita,” ujarnya.

Webinar yang dipandu Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah, Mazlis B. Mustafa, ini merupakan salah satu rangkaian acara pra Munas V Hidayatullah. Munas ini akan digelar secara virtual pada 29-31 Oktober 2020 ini.* (Ainuddin)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.