Membangun Kedekatan, Mengeratkan Persaudaraan

Suasana silaturrahim nasional atau Silatnas Hidayatullah yang dulu dikenal dengan usrah. Acara ini digelar kali pertama pada tahun 1973 di Karang Bugis, Balikpapan [DOK]

Suasana silaturrahim nasional atau Silatnas Hidayatullah yang dulu dikenal dengan usrah. Acara ini digelar kali pertama pada tahun 1973 di Karang Bugis, Balikpapan [DOK]

Hidayatullah.or.id — Satu hal yang sangat dijaga oleh Ustadz Abdullah Said adalah terpeliharanya keutuhan persaudaraan dan ukhuwwah islamiyyah.

Kalau Pondok Pesantren Hidayatulah ini memiliki pondasi yang kuat sejak awal adalah karena Ustadz Abdullah Said telah membangun persaudaraan dan keakraban dengan sahabat-sahabatnya. Dan itu sangat dalam kesannya di kalangan sahabat-sahabatnya.

Memang sering ada teguran-teguran yang agak menyakitkan perasaan tapi justru membuat pershabatan semakin dalam. Mungkin karena yang melatarbelakangi cubitan-cubitan itu adalah rasa cinta. Rasa cinta ini terasa sekali dalam kehidupan sehari-sehari di dalam berpesantren.

Tidur bersama, makan bersama, bercanda kepada santri-santrinya yang walaupun kedudukan beliau sebagai pimpinan dan guru tapi tidak membuat jarak yang jauh dengan santrinya.
Santri-santrinya yang sekaligus sebagi teman dan sahabat juga tidak merasakan adanya jarak itu. Namun tidak berarti bahwa kedekatan itu mengurangi wibawanya. Wibawa dan kharisma itu terbangun dengan sendirinya, tidak terkesan dibuat-buat.

Beliau selalu mengingatkan kalau ada muncul di dalam hati perasaan benci kepada saudaranya, segeralah sadari bahwa kita datang ke tempat ini bersusah-susah, berpahit-pahit adalah dengan tujuan yang sangat suci: untuk menggurat sejarah.

Kita ingin menciptakan masyarakat dan lingkungan islami yang belum ada sekarang dan sangat dirindukan oleh orang Islam dan manusia pada umumnya.

Ustadz Abdullah Said sangat menjaga kemungkinan timbulnya hal-hal yang dapat merusak persaudaraan. Ditolaknya tawaran menunaikan ibadah haji oleh Pak Walikota H. Asnawie Arbain tidak lepas dari pada menjaga keutuhan ukhuwwah, jangan sampai terjadi keretakan persaudaraan, kalau hanya beliau sendiri yang dinaikkan haji sementara kawan-kawan seperjuangannya tidak.

Beliau sangat khawatir akan timbul anggapan bahwa, “Pada waktu berpahit-pahit dan bersusah-susah kita bersama-sama tapi setelah berhasil, hasilnya dinikmati sendiri”. Kalau ungkapan ini sampai terbetik dalam hati kawan-kawan, tidak usahlah keluar dari mulutnya, ini sudah merupakan malapetaka besar bagi pertumbuhan dan kelanjutan Hidayatullah”.

Maka pada 7 April 1982 beliau mengirim surat kepada walikota mengemukakan alasan-alasan penolakan. Khawatir kalau Walikota salah faham, kok ada orang ditawari naik haji menolak. Alasan itu adalah: Tidak bersedia naik haji sebelum Ustadz Hasan Ibrahim, Ustadz Hasyim HS, Ustadz Nazir Hasan dan Ustadz Usman Palese naik haji, sebelum ibu kandung saya naik haji, dan pembangunan mesjid sedang berlangsung.

Nama-nama yang tersebut dalam poin satu adalah orang-orang yang berjasa mendirikan pesantren ini. Alasan kedua adalah karena takut durhaka kalau mendahului orang tua. Dan yang ketiga adalah takut mendapat sorotan masyarakat sehubungan dengan dimulainya pembangunan mesjid.

Khawatir kalau masyarakat menyorot, “Mesjid sedang dibangun, Ustadz kok naik haji, barangkali uang mesjid yang dipakai”. Dan kalau sudah ada sorotan demikian maka hancurlah kepercayaan umat kepada saya. Sementara inilah modal dan kekayaan yang harus dijaga. Untuk menjaga perjalanan lembaga selanjutnya”.

Salah satu media yag dijadikan lem-perekat persaudaraan adalah kerja bakti setiap saat terutama pada hari Ahad. “Bukan hasil kerjanya yang terlalu penting tapi adalah terjalinnya keakraban sebagai hasil dari kerja bakti itu.”

Juga sangat sering diadakan makan bersama di Dapur Umum bersama santri-santri dikala ada orang yang mengaqiqah anaknya atau acara-acara lain yang ditempatkan di Dapur Umum. Maka Ustadz Abdullah Said menginginkan Dapur Umum diperbesar bangunannya.

Salah satu penyebab mengapa pelaksanaan pernikahan harus ditangani oleh sebuah panitia karena dikhawatirkan terjadi keretakan akibat dari pernikahan yang ditangani sendiri oleh orang tua. Karena bagi orang yang sering keluar ceramah yang sudah barang tentu banyak jama’ahnya jika melangsungkan pernikahan anaknya atau keluarganya pasti banyak yang datang; dan banyak memberikan kado.

Hal ini pasti akan menimbulkan perasaan tidak enak bagi yang kerjanya cuma dikampus dan tidak dikenal orang, pernikahannya pasti sepi. Ini jadinya tidak indah dalam hidup berjama’ah. Ujung-ujungnya akan terjadi gap psikhologis.

Di rumah-rumah dilarang pakai kursi tamu. Karena dikhawatirkan terjadi perlombaan membeli kursi . Dan lagi pula rumah yang begitu sempit kalau diisi dengan kursi ruangannya akan semakin sempit dan muatannya pasti sangat terbatas. Orang-orang yang suka menggunakan Bahasa Daerah sesukunya pada saat suku lain berada di dekatnya akan mendapat teguran karena khawatir kalau suku lain akan tersinggung, mengira dia yang disinggung. Ini akan merusak persaudaraan. Dan masih banyak sudut-sudut kehidupan yang sering disoroti yang perlu di perhatikan untuk tidak terjadi keretakan persaudaraan sebagai modal yang sangat mahal.

Mengapa shalat berjama’ah begitu ditekankan? Disamping karena agama memang memerintahkan demikian, juga karena merupakan media perjumpaan yang efektif untuk menabur benih-benih persaudaraan dipersemaian jiwa jama’ah ketika mendo’akan lewat salam yang diucapkan ketika menengok ke kanan dan ke kiri. Apalagi pada saat berjabatan tangan dan bertatapan mata disertai senyum tulus.

_______
Artikel di atas dikutip dari buku “Sejarah Hidayatullah” karya almarhum Ustadz Manshur Salbu yang juga merupakan kader senior Hidayatullah.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.