Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah

This is a madarasa of the Jamia Masjid mosque in Srirangapatna, India. This mosque dates back to the 1700s and is where Tipu Sultan used to pray/ WIKIPEDIA

This is a madarasa of the Jamia Masjid mosque in Srirangapatna, India. This mosque dates back to the 1700s and is where Tipu Sultan used to pray/ WIKIPEDIA

Hidayatullah.or.id — Madrasah sama dengan sekolah, hanya penyebutannya yang berbeda. Namun bila digali lebih lanjut tenyata keduannya sangat beda. Sekolah tempat mencari atau menuntut ilmu pengetahuan dengan bersumber dari guru sedangkan madrasah berasal dari Allah Ta’ala.

Demikian disampaikan Wakil Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, pada pembukaan KSM (Kompetisi Sains Madrasah) di Makassar, Senin lalu.

Dalam menjawab makna dibalik motto “Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah” tersebut, guru besar tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini kembali menegaskan bahwa `murid` yang padan katanya adalah madrasah, dalam ilmu tasawuf bisa diartikan sebagai orang mencari ilmu yang berasal dari Allah.

“Murid setara bukan dengan muallim (guru) akan tetapi identik dengan mursyid (guru spiritual), oleh karena itu `murid` disebut murid spiritual”, tegas Pak Nasar.

Madrasah kembali dimaknai sampai level ketiga perintah `iqra` dalam al Qur`an yaitu bagaimana menghayati, meresapi dan menjiwai apa yang dibaca dan dipelajari. Berbeda dengan sekolah yang hanya pada level dua saja, mendalami apa yang ia baca.

“Perintah `iqra` dalam al Qur`an terdiri atas tiga level; membaca, mendalami (istiqra`), dan menghayati. Bahkan bisa level empat pemaknaannya yaitu konteks iqra` bismillahi rabbik, sebagaimana Imam Al Ghazali, ia adalah murid Rasulullah SAW secara langsung padahal jarak hidupnya sekitar 600 abad”, tegas Nasar yang akan menerbitkan karya tafsirnya dalam waktu dekat ini.

Oleh karena itu Nasaruddin kembali menyemangati para murid, guru serta pejabat yang hadir, untuk tidak puas terus mencari inti dari madrasah yang sekarang ini terus berproses.

“Jangan pernah puas seperti Bawang Merah ketika dikupas, ternyata masih ada lagi, di dalam kulit masih ada kulit, sampai menemukan inti yang terdalam darinya, demikian madrasah dalam mencari jati dirinya”, lanjut Nasar.

Menyinggung kenapa madrasah menyelenggarakan kompetisi sains bukan ilmu yang lain, ia mengatakan bahwa sebenarnya ilmu sains tidak hanya ada di dalam al Qur`an akan tetapi para ilmuwan Islam abad pertengahan telah menemukan terlebih dahulu dibandingkan orang-orang Eropa/Amerika.

“Ilmu kimia ditemukan oleh santri tulen, Abu Musa Jabir bin Hayyan (720 M), the father of chemistry. Ilmu optik oleh Ibnu Hayyan, mematahkan buku The Optic karya orang Eropa yang ternyata buku itu jiplakan dari Kitabul Manadzir,” jelas dia.

Demikian juga teori Algoritma, Al Jabar dalam ilmu matematika, Ilmu Kedokteran oleh Ibnu Sina dan masih banyak lagi lainnya. Bahkan orang asli Makassar yang hidup abad 17 (1620-an M) yang bernama Karaeng Patingallong adalah seorang saintis yang terkenal sampai benua Eropa, papar Nasaruddin penuh semangat.

Pengajar Institut Ilmu Al Qur`an (IIQ) ini juga berpesan agar madrasah bisa mencetak generasi kuat, tahan uji dan amanah.

“Innal khoira manista`jarta qowiyyul amin, sesungguhnya generasi yang paling handal yang akan melanjutkan tongkat estafet negeri adalah yang kokoh/kuat serta penuh integrasi”, ungkap Nasaruddin mengakhiri sambutannya. (kem/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.