BI Dukung Kemandirian Ekonomi Pesantren

bi dan pesantrrenHidayatullah.or.id — Bank Indonesia (BI) ingin meningkatkan kemandirian ekonomi lembaga pesantren yang dijalankan oleh santri dan lingkungan di sekitar pesantren.

Hal itu ditegaskan Gubernur BI, Agus Martowardojo, dalam bincang nasional bersama dengan pemimpin pesantren dan Gubernur Jatim, dikutip dari laman Okezone Finance, Rabu (5/11/2014) lalu.

“Bagaimana pesantren kita berdayakan untuk memiliki ekonomi yang mandiri dan tentu kemandirian ekonomi santri-santri dan lingkungan yang dekat dengan pesantren,” papar Agus.

Kalau kita amati, lanjutnya, pesantren sudah ada sejak tahun 1949 sampe sekarang jumlah pesantren sudah lebih dari 27 ribu pesantren.

“Kalau kita bicara tentang pesantren supaya bisa jadi lembaga yang mandiri secara ekonomi, kita amati selama ini pesantren fokus pada pendidikan akhlak santri, persiapkan semua kegiatan syiar Islam,” tambahnya.

Agus menuturkan, kegiatan bincang-bincang nasional ini bertujuan untuk memberdayakan pesantren agar mampu mengembangkan kemandirian ekonomi masyarakat dan ekonomi syariah. Menurutnya, lewat ponpes, potensi perkembangan ekonomi syariah menjadi begitu besar.

Lantas, dengan mulai memberikan pemahaman mendalam di antara akar rumput, masyarakat pun diharapkan bisa memanfaatkan produk ekonomi syariah dengan lebih maksimal. Terutama, untuk memperbaiki taraf hidupnya.

“Potensi untuk berkembang ke depan jauh lebih besar. Maka kita ingin mengembangkan pesantren agar juga menjadi lembaga sosial dan mengembangkan ekonominya agar menjadi lebih mandiri,” tuturnya.

Sejalan dengan BI, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad mengatakan untuk merealisasikan hal tersebut pesantren harus melakukan beberapa cara. Misalnya dengan memperkuat akses jasa keuangan yang ada di kawasan pesantren.

“Memperkuat akses terhadap jasa keuangan dan pemasaran di pesantren, meningkatkan cakupan layanan SMK berbasis pesantren, meningkatkan kualitas dan relevansi SMK pesantren, dan memperkuat jejaring antar pondok pesantren,” tukas Hadad.

Keseriusan pemerintah memperdalam akses dan pendidikan ekonomi syariah melalui pondok pesantren tidak hanya berdampak positif bagi pertumbuhan industri keuangan syariah di Tanah Air.

Dalam rangkaian Indonesia Syari’a Economic Festival (ISEF) tampak jelas adanya dampak lain, yaitu potensi peningkatan taraf hidup masyarakat menengah ke bawah di Indonesia.

Bagi Muliaman, pesantren yang jumlahnya begitu banyak di Jawa Timur bahkan bisa menjadi pusat pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan. Lewat pendidikan ekonomi dan keuangan syariah di pesantren-pesantren, tutur Muliaman, tujuan pemerintah menjalankan inklusi keuangan pun bisa tercapai. (okz/dbs)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.