Peradaban Islam yang Mulia Kedepankan Perdamaian

menag lukman hakim sHidayatullah.or.id — Esensi peringatan Isra Mi’raj adalah mendorong umat terus membangun dan mengembangkan peradaban Islam yang mulia. Demikian dikatakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

“Peradaban Islam yang mengedepankan perdamaian, kemajuan, keadilan, keseimbangan, dan persamaan,” kata Menag dalam peringatan Isra Mi’raj di Jakarta, belum lama ini dan ditulis Hidayatullah.or.id, Selasa (26/5/2015).

Menurut dia, pengembangan peradaban itu bertumpu pada konsep Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Ia menyebutkan penyatuan dimensi sosial dan dimensi spiritual pada ibadah salat itu ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maun yang mengecam orang-orang yang mengerjakan salat, tetapi tidak berusaha mengejawantahkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Menag, pada era post-modern ini, Islam kembali dihadapkan pada tantangan baru untuk merevitalisasi dimensi kekayaan spiritual yang terdapat dalam ajaran-ajarannya.

“Isra Mi’raj tidak hanya memiliki dimensi kekayaan spiritual serta pesan-pesan kehidupan, tetapi juga mengandung dimensi ilmu pengetahuan yang cukup menantang di kalangan para ilmuwan,” katanya.

Menurut dia, akan bijaksana jika peringatan Isra Mi’raj juga dimaknai sebagai wahana transformasi peradaban ilmu pengetahuan.

“Paling kurang, melalui Isra Mi’raj, umat Islam tidak hanya diperkenalkan dengan ilmu pengetahuan yang bersumber dari hasil observasi, tetapi juga diperkenalkan tentang ilmu pengetahuan yang bersumber dari kitab suci, yang disebut sebaga ayat-ayat ‘qauliyah’,” katanya.

Dengan pemahaman integralistik, dia berharap melahirkan bentuk dan praktik pendidikan yang tepat sehingga akhirnya melahirkan manusia yang berkepribadian utuh.

“Selain itu, berwawasan iptek dan imtak yang siap memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Lukman Hakim.

Isra Mi’raj merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW suatu malam sekian abad yang lalu yang fantastis dan dramatik.

Ada dua etape perjalanan, yaitu etape horizontal dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Etape kedua adalah etape vertikal dari Masjidil Aqsa ke sidratul muntaha di langit ke tujuh.

Menag menyebutkan peristiwa yang dialami Nabi Muhammad SAW itu merupakan tonggak sejarah penting dari rangkaian perjuangan Nabi dalam membangun masyarakat berkeadaban dan berkeadilan bagi seluruh umat.

“Kewajiban salat tidak hanya ditafsirkan sebagai kewajiban yang sifatnya ritual individual semata, tetapi juga sebagai wahana transformasi sosial untuk mencegah kemungkaran,” kata Menag (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.