Suharsono tentang Teknologi dan Pendidikan Anak Era Digital

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Intelektual muslim yang juga Direktur Lembaga Studi Islam dan Peradaban (LSIP), Suharsono, mengatakan pesatnya perkembangan sains dan teknologi, terutama teknologi informasi, tak hanya memudahkan manusia, tetapi juga mengantarkan manusia berada di simpang jalan. Satu kakinya berada di dunia nyata, sementara kakinya yang lain melangkah di dunia virtual (virtual world).

Dunia virtual, adalah sesuatu yang diciptakan oleh ilusi digital untuk memberikan ruang rasa akan waktu dan tempat berisikan fenomena yang memiliki sebuah hubungan dengan ‘realitas’. Ruang dan waktu “dilipat” sampai ke titik nol, sementara ia juga hidup dalam budaya dan religiusitas sehari-hari yang nyata.

Suharsono lantas bertanya bagaimanakah Islam dan Muslim menyikapi dan mengambil peran dalam dunia maya?

Menurutnya, inilah persoalan besar yang menghadang kita dewasa ini. Orangtua dituntut untuk dapat memetakan dan bahkan memberikan solusi berkenaan dengan kehidupan dan lingkungan Islam maya.

Suharsono menilai, pendidikan yang baik dan pembelajaran yang penuh cinta dan kasih sayang adalah warisan terbaik orang tua kepada anak-anaknya.

Menurutnya, orangtua yang mencerdaskan anak-anak, ibaratnya seperti memberikan ‘aroma surgawi’ di dunia ini, karena dengan kecerdasan itulah berbagai masalah dan tantangan hidup dan kehidupan dapat diselesaikan dengan gemilang.

“Manusia yang cerdas memiliki masa depan yang cerah, dan hidupnya pun sangat berarti bagi orang lain. Tetapi untuk menjadikan anak kita menjadi anak yang cerdas, tidaklah semudah membalikkan tapak tangan. Kita perlu berkorban dengan waktu dan materi yang tideak sedikit,” katanya.

Lebih dari itu, lanjut dia, juga diperlukan suatu pola pembelajaran yang tepat, sepenuh hati dan ketulusan. Kapan “rancang bangun” pencerdasan itu dipancangkan, bagaimana modelnya, input, pola interaksi dan fase-fasenya, sehingga anak-anak kita dapat mengaktualisasikan kecerdasannya secara optimal.

Menurut Suharsono, pendidikan anak adalah proses aktif yang secara langsung dan sadar dalam memberikan motivasi belajar pada anak lebih giat, penuh dengan kesadaran akan sebuah tanggung jawab dalam mendidik dan mencerdaskan secara arif dalam memilihkan dan menawarkan perangkat permainan, mengajak ke tempat rekreasi dan pembentukan lingkungan anak yang dapat mendukung proses belajar dan pencerdasan anak.

Dikursus tentang pendidikan atau tarbiyah, dalam pengertiannya yang paling sederhana, menurutnya, berarti membahas tiga hal pokok, yakni anak didik (subyek didik, peserta didik), kurikulum dan guru serta lingkungan pendidikan itu sendiri.

“Demikian halnya dalam mencerdaskan anak, yakni tentang anak itu sendiri dan lingkungan yang harus kita persiapkan baginya,” imbuhnhya.

Suharsono menegaskan metode pencerdasan anak adalah dengan merujuk pada misi pendidikan Nabi saw dan memberikan penekanan pada pengaruh lingkungan.

Menurut Suharsono, alam merujuk pada misi pendidikan Nabi Muhammad saw, ada tiga aspek penting pencerdasan anak, yakni ta’limul ayat (membacakan ayat-ayat atau tanda-tanda Allah SWT), ta’limul kitab wal hikmah (Al Qur’an dan Hikmah), dan tazkiyah an-nafs (penyucian diri). Sebab dalam mendidik dan mencerdaskan anak tak ubahnya seperti menanam benih, agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, dibutuhkan lahan yang subur dan pupuk yang memadai.

Profil

Suharsono adalah seorang penulis yang berminat pada persoalan persoalan filsafat, epistemologi dan studi peradaban. Oleh masyarakat, Suharsono juga dikenal sebagai salah satu tokoh Islam yang berkompetensi di dunia pendidikan anak.

Suharsono lahir di Jepara, Jawa Tengah, 20 Desember 1961. Ayahnya bernama Darbi seorang guru SD di Desa Bangsri Kecamatan Bangsri, dan ibunya bernama Saudah seorang petani.

Suharsono dari kecil hidup di Desa yang Islamnya Abangan, tetapi sejak kecil Suharsono sudah tertarik dengan Islam. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia termasuk anak yang cerdas dan berprestasi, ia sering mendapat rangking atau peringkat 1 (satu).

Bahkan ketika kelas IV SD, ia sudah bisa mengerjakan soal-soal matematika kelas VI SD yang tidak dapat dikerjakan oleh anak-anak kelas VI.

Orangtua Suharsono selalu mengajarkan bahwa hidup harus jujur dan berintegritas yang tinggi selain itu hidup harus bisa memilih atau berani memilih. Maka dari itu semasa SMP (Sekolah Menengah Pertama), ia mempunyai prinsip bahwa hidup harus kuat dalam berbagai hal.

Semasa SMA (Sekolah Menengah Atas) ia sempat duduk di dua tempat Sekolah Lanjutan, yakni STM (Sekolah Tehnik Mesin) dan SMA (Sekolah Menengah Atas).

Dalam hidupnya, Suharsono suka membaca buku-buku filsafat, yang diantaranya karangan-karangan Muhammad Iqbal, Masnawi, HAMKA (tasawuf modern, dibawah lindungan ka’bah), bahkan karya-karya Hindu, Baghavad Gita.

Semasa SMA, Suharsono sudah menulis sebuah buku yang berjudul “Metode Berpikir” Agar Cepat Menangkap Pelajaran.

Pada tahun 1986-1987 ia menjadi ketua Litbang HMI cabang Yogyakarta, dan pada tahun 1988-1996, ia secara berturut-turut menjadi anggota Majelis Syura Organisasi HMI.

Disamping itu ia aktif menangani masalah pelatihan dan pengkaderan dan konsep-konsep Organisasi. Karena ia dipandang berjasa dalam mengembangkan tradisi intelektual di HMI MPO, maka ia memperoleh HMI Award, pada tanggal 5 Pebruari 1999.

Sejak tahun 1999, ia bekerja sebagai Direktur Eksekutif Institute of Islamic Civilization Studies and Development (Inisiasi). Kemudian pada tahun yang sama pula menjadi konsultan pada Yayasan Pusat Pendidikan Islam Internasional Indonesia.

Sebagai seorang penulis ia telah banyak menulis buku yang diantaranya sebagai berikut: “Rekonstruksi Jihad” 1986, “Telaah Ideologi” 1988, “Berfikir Islami” 1990, “Gerakan Intelektual, Jihad untk Masa Depan” 1992, “HMI MPO, Pemikiran dan Masa Depan” 1997, “Pola Transformasi Islam” 1999, “Cemerlangnya Poros Tengah” 1999, “Karya Bayraktar Bayrakli, Eksistensi Manusia” tahun 2000.

Sedang karya-karya yang berkaitan dengan tema-tema pendidikan anak adalah antara lain “Mencerdaskan Anak” tahun 2000, “Melejitkan IQ, IE & IS” tahun 2002, “Membelajarkan Anak dengan Cinta” tahun 2003, “Akselerasi IQ, EQ, dan SQ” tahun 2004, “Mencerdaskan Anak” Melejitkan dimensi moral, intelektual & spiritual (IQ, IE dan IS) dalam memperkaya khasanah batin dan motivasi kreatif anak, ditulis tahun 2004.

Selain menulis buku karyanya sendiri, ia juga menerjemahkan karyakarya orang lain yang diantaranya adalaht terjemahan Karya-karya Seyyed Hossein Nasr, Intelektual Islam” tahun 1994.

Dalam buku ini Suharsono memberikan keterangan, bahwasanya untuk menggeluti Intelektual Islam. Seseorang dituntut tidak hanya harus memiliki kemampuan penalaran yang memadai, tetapi juga kesucian hati, dan hatinya harus disucikan melalui usaha-usaha spiritual.

Ia juga menerjemahkan buku Nasr “Pengetahuan dan Kesucian karya Seyyed Hossein Nasr” tahun 1996. Suharsono dalam terjemahannya ini memberikan pandangan, bahwa manusia dari satu titik pandang yang pasti adalah makhluk rasional yang didefinisikan para filosof, tetapi kemampuan rasional dapat menjadi suatu kekuatan dan instrumental, jika dipisahkan dari intelektual dan wahyu, yang memberikan kualitas pengetahuan dan kandungan sucinya.

Suharsono juga menerjemahkan buku Karya Gany R. Bunt, Lampeter, Islam Virtual”, judul asli: Virtually Islamic, tahun 2005. Ia juga menelurkan sejumlah buku yang menelaah isu-isu keindonesiaan seperti masalah maritim dan kepemimpinan. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.