Secarik Kisah Dr Abdul Mannan Merintis Hidayatullah Jakarta

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dengan maunah Allah Subhanahu wa Ta’aala, Hidayatullah kini telah hadir ke seantero Indonesia. Hidayatullah eksis di sedikitnya 343 kabupaten/kota dan di sebanyak 34 provinsi.

Hidayatullah pun telah hadir di Jakarta yang kini menjadi pusat kedudukan ormas Islam yang berdiri pertama kali di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Selalu ada kisah heroik nan haru di setiap perjalanan perintisan kampus-kampus Hidayatullah oleh kader-kadernya, tak terkecuali perintisan Hidayatullah di Ibu Kota Negara tercinta ini. Kehadiran Hidayatullah di Jakarta dimotori oleh kader senior, Dr. H. Abdul Mannan, MM.

Dalam kesempatan peletakan batu pertama peresmian pembangunan Masjid Baitul Karim dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah yang beralamat di Jalan Cipinang Cempedak I/14 Otista Polonia, Jakarta Timur, Abdul Mannan menuangkan secarik kisah perjalanan dakwahnya di kota metropolitan ini.

Secarik kisah, sebab Abdul Mannan, tidak saja berjibaku dengan panasnya Ibu Kota. Abdul Mannan pun adalah diantara tenaga perintis cabang Hidayatullah lainnya termasuk Depok dan Surabaya.

Mantan sekretaris pribadi pendiri Hidayatullah, Ust Abdullah Said, ini berkisah tentang awal mula dirinya terdampar di Jakarta. Kala itu, pada tahun 1988, dirinya ditugaskan oleh Abdullah Said berangkat ke Makkah Al Mukarramah.

“Disuruh buka cabang Hidayatullah di Makkah. Saya pikir ini tidak masuk akal. Bagaimana caranya. Makkah pusatnya peradaban Islam dari zaman Nabi Adam sampai akhir Zaman. Tapi karena doktrin sami’na wa atha’na, saya berangkat,” katanya saat menyampaikan sambutan sekaligus mewakili pewafak tanah di lokasi groundbreaking Masjid Baitul Karim dan Gedung Dakwah Hidayatullah, Sabtu (3/2/2018).

Ditugaskan berangkat, Abdul Mannan pun bergegas berangkat. Dari Balikpapan, tujuannya pertama tentu adalah Jakarta. Abdul dilepas tanpa dibekali uang tiket.

Karena keterbatasan yang ada, tak pelak Abdul Mannan terdampar di Jakarta. Namun dia tak berhenti berfikir bagaimana cara bisa ke Makkah di tengah kondisi dirinya yang tidak memungkinkan saat itu. Setelah sekian waktu, dengan takdir Allah, Abdul Mannan pun ditakdirkan berangkat ke Makkah.

“Justru yang membiayai saya ke Makkah adalah penjual koran,” katanya.

Setiba di Makkah, Abdul Mannan sempat bingung harus tinggal di mana. Tak ada kenalan. Perbekalan pun alakadarnya. Ayah dari 8 anak ini tetap berbesar hati, dan lagi-lagi pertolongan Allah SWT pun datang.

Tak dinyana, Abdul Mannan berjumpa dengan Hj. Orny Loebis, H Andi Imam Loebis, dan keluarga Hj Rina Loebis di bawah Ka’bah. Ia tak pernah menduga pertemuan itu. Dalam pertemuan itu mereka berdiskusi tentang bagaimana dakwah di Jakarta dan sebagainya.

“Panjang lebar, akhirnya saya sampakan keperluan dan kebutuhan kalau kami akan membuka (Hidayatullah) di Jakarta,” kata Abdul Mannan.

Singkat cerita, Abdul Mannan kembali ke Tanah Air. Pertemuan kala di Makkah itu ditindaklanjuti. Abdul Mannan bersilaturrahin ke kantor Java Motor di Kramat yang merupakan usaha mendiang H Tahir Karim Loebis.

Abdul Mannan berkisah, dalam pertemuan di kantor Java Motor itu hadir juga tokoh lainnya. Abdul Mannan menyebut diantaranya Dr Imaduddin Abdurrahim atau Bang Imad yang merupakan salah satu tokoh pendiri ICMI dan penggagas Bank Muamalat serta Prof. Dr. dr. Akmal Taher, seorang ahli bedah pemilik hak paten inhibitor of phosphodiesterase IV yang juga mantan Direktur Utama RSCM.

“(Saat itu) saya sampaikan misi dan visi besar Hidayatullah membangun peradaban di Jakarta. Semuanya menyambut dengan gembira dan senang hati,” turur Abdul Mannan mengisahkan perjalanan dakwahnya di hadapan hadirin yang juga dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.

Dari silaturrahim yang terjalin dengan keluarga H Tahir Karim Loebis, Alhamdulillah akhirnya diberikanlah tempat lokasi Cipinang Cempedak I/14 untuk ditinggali yang kala itu masih menjadi gudang mobil Land Rover.

“Saya tinggal di sini. Tempat ini adalah tempat bersejarah juga yang merupakan kantor pusat Badan Intelijen Negara (BIN). Setelah BIN, saya yang nempati. Gantian jadi BIN,” kata Abdul Mannan setengah berseloroh.

Abdul Mannan mengisahkan, di awal-awal perlangkahan dakwahnya di Jakarta, dirinya aktif berkeliling dari rumah ke rumah tak jarang hanya dengan menggunakan sepeda pancal (engkol).

“Karena, makan pun susah apalagi motor. Ndak ada motor. Tapi semangat itu saya yakin bahwa Allah akan membantu. Intansurullaha yansurukum wayutsabbit aqdamakum,” kata Abdul Mannan seraya mengutip Al Quran Surah Muhammad ayat 7.

Karena Abdul Mannan belum punya pendapatan, anak dan istrinya ditinggalkan di rumah mertuanya di Surabaya. Lambat laun atas takdir Allah, akhirnya terbukalah lapangan dakwah ini.

Rangkaian Sejarah

Masih dalam sambutannya, Abdul Mannan mengatakan bakal Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah yang telah diresmikan pembangunanannya ini merupakan rangkaian sejarah yang saling berajutan.

Dikatakan beliau, komplek DPP Hidayatullah yang berlokasi di Cipinang Cempedak I/14 ini adalah tempat bersejarah. Selain pernah menjadi markas BIN, lokasi ini telah sekian lama menjadi tempat berkumpulnya para tokoh-tokoh Islam.

Diceritakan Abdul Mannan, sang ahli waris, Hj. Orny Loebis, suatu kali pernah bercerita kepadanya bahwa dulu Buya Muhammad Natsir, Buya Hamka, Buya K.H. Abdul Gaffar Ismail, Buya KHM. Rusyad Nurdin, dan tokoh lainnya, selalu berkumpul di sini mendiskusikan tentang agama.

“Saya langsung menyambung, Ya Allah, Ya Robb, ini mungkin tali daripada tali perjuangan tegaknya Islam di bumi nusantara ini,” imbuh Abdul Mannan usai mendengar cerita Hj. Orny Loebis.

Langkah dakwah Abdul Mannan di Jakarta terus mendapat sambutan positif. Keluarga H Tahir Karim Loebis dan Ibu Hj. Orny Loebis bersama ahli warisnya dengan penuh semangat memberikan dorongan dan motifasi untuk jalan terus.

“Dengan usaha beliau yang terus berkembang akhirnya membangun pesantren putri 3 lantai di Hidayatullah Gunung Tembak yang waktu itu ada 3000 santri putra putri. Lalu membangun Masjid Ummul Quro di Kampus Hidayatullah Depok dan membangun semua di mana-mana. Alhamdulillah,” kata beliau dari atas mimbar dengan suara tertahan dan mata yang tampak berkaca-kaca.

Abdul Mannan melanjutkan, sebenarnya Masjid Baitul Karim dan Gedung Dakwah Hidayatullah ini sudah lama mau dibangun. Namun di masa gubernur sebelum-sebelumnya, tidak jadi-jadi.

Nah, sekarang baru bisa. Ini takdirnya Pak Anies Rasyid Baswedan. Ada apa di balik ini. Saya yakin, ada ikatan sejarah yang penuh dengan idealisme yaitu beliau adalah cucu dari pahlawan Abdurrahman Baswedan. Kita tidak asing lagi dengan nama harum beliau yang sudah menikmati hidup di alam surga,” kata Abdul.

Oleh karena itu, lanjut beliau, peresmian dimulainya pembangunan masjid dan Gedung Dakwah Hidayatullah tersebut adalah hari bersejarah. Dan sinilah, kata beliau, dimulainya tegaknya peradaban Islam sebagai visi Hidayatullah.

“Dan, seluruh anak-anak kita akan kita kirim seluruh Indonesia dan seluruh dunia. Sekarang sudah kita kirim belajar ke Sudan ada 25, ke Mesir 30, di Makkah ada 25. Dan kita kirim wartawan kita ke Australia untuk belajar jurnalistik,” tukasnya.

Abdul berharap semoga Gubernur Anies Baswedan yang meletakkan batu pertama sebagai pembukaan tanda dimulainya pembangunan, selanjutnya nanti meletakkan batu terakhir di saat peresmian penggunaan.

“Maka sejarah terukir bahwa cucu pendiri negara yaitu Bapak Gubernur H Anies Rasyid Baswedan telah meletakkan batu sejarah peradaban Islam di tempat ini,” tandas Abdul. (ain/cha)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.