Pemerintah Harus Perhatian Lebih pada Ancaman Narkoba

JAKARTA (Hidayatullah) — Pemerintah diharapkan memberi perhatian yang lebih serius terhadap status darurat narkoba yang telah melanda Indonesia. Sebab, jika masih tak ada langkah nyata dan progresif, hal ini dapat semakin berdampak buruk terhadap keberlangsungan generasi bangsa di masa mendatang.

Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah, Muhammad Arasy, mengatakan ke depan pengentasan persoalan darurat narkoba tersebut harus menjadi prioritas pemerintah. Peredaran narkoba kian mengkhawatirkan.

Dia menyebutkan, sejumlah daerah di Indonesia sudah dinyatakan darurat narkoba. Mulai Kalimantan Selatan, Kendari, Pangkalpinang, Cianjur, Sulawesi Selatan dan masih banyak keluhan dari daerah lainnya tentang ngerinya peredaran narkoba.

“Siapapun presiden yang terpilih nanti, masalah darurat narkoba ini harus menjadi salah satu prioritas penyelesaian utama. Tidak bisa main-main, narkoba sudah menjadi endemi,” katanya dalam obrolan dengan media ini, Selasa (15/4/2019).

Dia menambahkan, pihaknya yang banyak berkecimpung di bidang sosial dalam pengembangan kepantiasuhan dan penangkalan kenakalan remaja, melihat persoalan ini tidak sederhana sehingga membutuhkan keterlibatan penuh pemerintah.

Arasy berharap, mesti ada sinkronisasi sistem pelaksanaan penegakan hukum yang searah dengan tujuan dibuatnya UU No 35/2009 tentang Narkotika.

“Selain itu, perlu perhatian lebih terhadapan kehidupan sosial yang lebih baik khususnya pembinaan dan pendidikan anak yatim, fakir miskin dhuafa yang dijamin oleh konstitusi NKRI,” kata Arasy yang juga pendiri Yayasan Sahabat Anak Indonesia (SAI) ini.

Masalah narkoba memang kian mengkhawatirkan. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso atau Buwas mengungkapkan, Indonesia bahkan sudah dinyatakan darurat narkoba sejak tahun 1971. Ketika itu, Presiden RI ke-2 Soeharto menyatakan, Indonesia sedang dalam kondisi darurat narkoba.

Meski pada 1971 sudah berstatus darurat narkoba, belum ada upaya signifikan dalam mengatasi status tersebut. Bahkan, kasus yang berkaitan dengan narkoba terus meningkat hingga saat ini.

Begitu juga dengan struktur usia manusia. Menurut Buwas, hampir setiap generasi manusia sudah terkontaminasi narkoba. Mulai dari usia dini hingga tua. Ia mencontohkan adanya bayi usia enam bulan yang sudah terkontaminasi narkoba.

“Jangan-jangan janin sudah terkontaminasi narkotika, kalau kita kupas secara menyeluruh. Masalahnya kita tidak mau tahu,” ungkapnya dikutip laman Kompas.

Ia mengatakan, bangsa Indonesia terlalu terbuai dengan berbagai pujian yang datang dari negara luar. Akibatnya, bangsa Indonesia seakan abai dengan bahaya yang sudah mengintai di depan mata.

“Kita terbuai dengan pujian dari dunia luar. Kita terbuai dengan pujian itu, sehingga kita abai terhadap ancaman, bahkan bahaya yang ada di depan mata tidak terlihat,” tukasnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.