Di Saat Belum Ada Internet, Pendiri Hidayatullah Sudah Gagas Konsep E-Commerce

Sumber Foto: Dokumentasi Pelatihan Bendahara Oleh Pengurus DPP Hidayatullah 2019

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Di saat sejarah internet Indonesia baru dimulai pada awal tahun 1990-an dan protokol Internet (IP) pertama dari Indonesia, UI-NETLAB (192.41.206/24) didaftarkan pada 24 Juni 1988, pendiri Hidayatullah almarhum Abdullah Said ternyata sudah punya visi ke depan tentang e-commerce, maketplace dan juga retail serta konsep home industry.

Hal itu diungkapkan Dewan Penasehat Aosiasi Pengusaha Hidayatullah (APHIDA) Asih Subagyo.

Dalam bidang ekonomi, kata Asih, obsesi Abdullah Said adalah membangkitkan perekonomian masyarakat ekonomi lemah dengan mencarikan dan memberikan pinjaman kepada para pedagang kaki lima dan santri santri yang mempunyai kecenderungan untuk berdagang.

“Pernyataan ini sampaikan tahun 1990 yang ketika itu belum ada e-commerce dan marketpalce tapi arahnya ke sana. Tapi problemnya, kami ini sebagai pendamping beliau gak paham. Pemimpin itu pasti mempunyai bashirah yang tajam dan ini yang beliau lakukan,” kata Asih pada Webinar Series 03 – Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Mencetak 10.000 Wirausahawan Mandiri dan Berdaya Guna” seperti dilansir kanal Youtube Hidayatullah ID, Sabtu (27/9/2020).

“Beliau juga berkeinginan membuat super market yang menyediakan segala macam kebutuhan. Dalam salah satu ceramahnya beliau berguyon, toko ini menjual terasi hingga helikopter tersedia dengan sistem pesan antar. Pesan di malam hari, pagi harinya diantarkan oleh petugas,” ujarnya.

Hal ini tidak saja saling menguntungkan, namun juga sebagai sebuah cara untuk menerbitkan hukum sehingga kaum wanita tidak perlu jauh jauh keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Obsesi Abdullah Said tersebut kini telah menjadi kenyataan dengan mulai menjamurnya ecommerce, marketplace dan UKM-UB termasuk konsep bisnis halal food dan indsutri rumah tangga.

“Dan produksinya, dari terasi sampai helikopter. Artinya, semua industri ini mesti digeluti oleh kader Hidayatullah. Kesadaran ini yang belum tertanam di kita. Bisnis Islam itu bukan hanya herbal dan bekam, beliau memyampaikan dari terasi sampai helikopter, kan dahsyat,” kata Asih.

Di samping itu Abdullah Said juga menginginkan agar kita memproduksi sendiri bahan bahan makanan dengan tujuan menyediakan lapangan kerja dan untuk menghilangkan keraguraguan terhadap produk produk makanan yang ada.

Asih menukil dalam sebuah kesempatan kuliah umum malam Jum’at, 25 Maret 1990, Abdullah Said menyampaikan bahwa, “kita harus kaya dan kaya, namun bukan untuk pribadi tetapi untuk lembaga. Karena yang kita pikirkan adalah seluruh dunia, bagaimana mengislamkan peradadaban sekarang”.

“Spirit ini yang seharusnya kita jaga. Tidak sekedar dijaga tapi juga diimplementasikan. Kita sudah punya Hidayatullah Incorporated meliputi ekonomi lembaga, ekonomi ummat dan ekonomi sosial,” pungkasnya.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.