Pelajaran dari Sawit

Salah satu program pengkaderan sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah adalah penanaman dan perawatan sawit. Tentu agak terdengar aneh, mahasiswa syari’ah berprogram menanam sawit, apa hubungannya? Kalau mahasiswa pertanian masih cocok dan memang mungkin itu bagian dari dunia akademisnya.

Secara kebijakan dari pengurus yayasan bahwa penanaman sawit bertujuan untuk memanfaatkan lahan tidur yang sudah bertahun-tahun tidur tidak produktif. Kedua, diharapkan dengan penanaman sawit ini setelah panen bisa menjadi sumber perbaikan ekonomi atau peningkatan pemasukan untuk operasional yayasan terutama pendidikan. Ketiga, juga sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah dengan nikmat lahan yang luas harus dimanfaatkan lebih baik lagi.

Kemudian motivasi normativnya adalah memberi kesempatan dan peluang kepada mahasiswa untuk bisa beramal sholeh jariah yang mengalir pahalanya nantinya. Mahasiswa dilatih untuk memiliki mentalitas memberi, berbuat dan berkarya tanpa mengharap imbalan materi. Mereka mungkin tidak menikmati langsung hasil sawit tersebut tapi generasi berikutnya dan mungkin anaknya yang menikmati hasil dari sawit tersebut.

Mengkader dan Menanam Sawit

Sebenarnya ada dua target lain yang diambil dari program menanan sawit tersebut. Pertama, memaknai bahwa untuk mengkader sawit saja agar tumbuh, berkembang dan berbuah memerlukan proses panjang dan kinerja yang tidak mudah. Mulai dari membibit sawit yang unggul sampai cukup umur, kemudian menyiapkan lahan yang kondusif, menyiangi rumput-rumput sekitarnya, memupuk, memberi obat agar kebal dari berbagai penyakit.

Tahap-tahap ini tidak dalam waktu satu dua hari tapi sampai sekitar 4 tahun baru bisa dipanen hasilnya. Jika proses dan prosedur tidak dilalui dengan baik maka biasanya sawit akan mati atau enggan berbuah. Perawatan sawit saja yang tidak pernah bergerak ke mana-mana, tidak melawan dan protes kalau di apa-apain, ada kesulitan. Apalagi mengkader anak orang atau mahasiswa.

Ini beratnya sebuah proses pengkaderan yang sulit dan rumit. Harus juga tekun, disiplin, tega dan tegas. Membuat dan mengkawal aturan demi lahir kader, jika ada yang melanggar juga harus ditegur, nasehati dan diberi sangsi. Tidak cukup mengkader itu dengan mengajar di kelas atau lewat pemberitahuan saja tapi harus ada pendampingan dan pengawalan yang ketat. Belajar dari sawit di atas.

Mahasiswa juga harus menyadari dirinya adalah bibit yang terpilih oleh Allah untuk bisa menjadi bagian dari kader Islam yang akan memperjuangkan Islam. Ini bentuk kemuliaan dan harus dijaga dengan ketaatan dalam mengikuti proses pengkaderan.

Bukti Etos Kerja

Program menanam sawit dengan sistem usroh atau kelompok keluarga untuk memiliki tujuan untuk menilai etos kerja mahasiswa. Etos kerja ini terkait dengan tanggung jawab, cara kerja, kekompakan dan amanah terhadap tugas. Ini sederhana, kalau proyek yang kasat mata artinya kelihatan dan tolok ukurnya juga nyata bukan menduga-duga.

Jika teryata banyak sawit yang kuning dan tidak terawat maka itu indikasi usroh mahasiswa yang malas dan rendah etos kerjanya. Kemudian sebaliknya jika ada sawit yang subur, menghijau dan bersih dari penyakit dan rumput maka berarti ini tanda mahasiiswa yang rajin dan memiliki tanggungjawab tinggi terhadap tugasnnya. Bagaimana sawit antum? Masa depan sawit mahasiswa?

**Ditulis oleh Abdul Ghofar Hadi (Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.