Sekali Lagi, Tidak Cukup Hanya Sekolah!

TIDAK lama lagi sekolah di Indonesia akan menerapkan kurikulum baru. Kurikulum yang dinilai banyak pihak tidak begitu penting untuk diimplementasikan. Berbagai pihak memberikan respon kritis terhadap rencana perubahan kurikulum tahun ini.

Satu di antaranya adalah seorang Pakar pendidikan dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Daniel Mohammad Rosyid. Ia mengatakan bahwa perubahan kurikulum tahun ini justru hanya menghasilkan generasi tukang.

Demikian disampaikannya dalam Diskusi Publik Kurikulum 2013 Menjawab Tantangan Generasi Emas 2045 di Ruang KK II DPR RI, Jakarta, Senin (18/2/2013).

Menurutnya, perubahan kurikulum saat ini hanya akan membawa kemunduran menuju pada abad 17-18 yang kala itu tengah masuk masa industrialisasi. Hal itu tidak lain karena kurikulum 2013 terlalu ilmiah, sehingga lebih mengedepankan materi Matematika dan Sains.

Padahal, lanjut dosen yang cukup akrab dengan para aktivis muda di Surabaya itu, agar generasi muda dapat memiliki kompetensi seimbang, kurikulum membutuhkan banyak sentuhan artistik yang tidak hanya mengandalkan wawasan ilmiah saja.

Kegagalan Sekolah

Jauh sebelum Daniel Mohammad Rosyid mengatakan hal itu terhadap kurikulum 2013. Lawrence Ellison CEO dari Oracle yang merupakan orang kedua terkaya dunia, telah menegaskan bahwa dunia pendidikan modern hanya akan melahirkan generasi pecundang.

Berdiri di hadapan wisudawan sarjana Yale University pada September tahun 2000, Lawrence Ellison mengatakan begini;

“Berdiri di hadapan Anda semua hari ini, saya tidak melihat harapan yang cerah untuk hari esok. Saya tidak melihat ribuan calon pemimpin di berbagai industri. Bahkan saya melihat ribuan pecundang. Anda bertanya-tanya, “Masih adakah harapan untukku?” Sayang sekali, tidak. Sudah terlambat!

Karena itu, saya hanya ingin memberi harapan kepada adik angkatan Anda, saya katakan: Keluarlah!. Kemasi barang-barang dan isi benakmu, dan jangan kembali. Keluar sekarang dan mulai bisnis sendiri. Topi dan toga yang kamu kenakan hanya memberi beban yang terus membuatmu tersuruk-suruk……”

Ungkapan spektakuler Ellison tersebut terangkum di dalam buku berjudul “Sekolah Saja Tidak Cukup” diterbitkan Kompas Gramedia yang ditulis oleh Andrias Harefa.

Senada dengan Lawrence, Roger Konopasek, masih dari sumber yang sama, juga mengungkapkan ihwal yang sepenarian. Motivator yang juga pengusaha dan penulis buku bestseller itu mengatakan;

“Anda pernah menghadiri reuni sekolah? Setelah sekian lama tak bertemu, menarik sekali mendapati bahwa orang-orang yang tak terlalu sukses di kelas justru lebih sukses dalam hidup.

Mereka datang dengan pesawat kelas satu atau mengendarai sedan mewah, sementara jago-jago kelas datang dengan tiket kelas ekonomi atau mobil keluarga dan mengeluhkan sakit pinggangnya. Prestasi akademik hanya baik di kelas, tetapi bisa amat merugikan untuk berlaga dalam kehidupan nyata”.

Ungkapan seperti itu juga muncul dari Dirjen Dikti, Prof. Dr. Djoko Suyanto. Dalam pemaparan ilmiahnya di STEKPI Kalibata Jakarta, yang kebetulan saya hadir di sana, mantan rektor ITB itu mengatakan bahwa bangsa ini telah mengalami kekeliruan yang tidak sepantasnya.

Hal itu disampaikannya terkait dengan sosialisasi program Dikti yang mewajibkan syarat lulus untuk calon sarjana S1 harus menulis jurnal yang dimuat dalam jurnal nasional yang terakreditasi.

Menurutnya saat ini sangat banyak sekali orang bergelar akademik yang cukup panjang, baik di depan mau pun di belakang namanya, tetapi mereka tidak mampu menelurkan karya. “Mau berkarya apa, menulis saja tidak bisa,” jelasnya.

Tetapi, mendidik sarjana mulai dari S1 hingga S3 hanya sekedar mampu menulis juga bukan solusi yang mampu menyentuh akar masalah bangsa. Tentu masih banyak fakta yang memberikan bukti bahwa sistem pendidikan sekarang mendesak untuk dievaluasi dan dibenahi.

Terlebih jika kita merenungkan ungkapan Prof. Dr. Winarno Surakhmad yang dikutip harian Kompas, 3/2/2000; “Apakah sumbangan pendidikan sejauh ini? Nihil. …Sekarang ini hampir tidak ada sisa pengaruh yang menunjukkan bahwa bangsa ini telah [pernah] besar atau dibesarkan oleh pendidikan di masa lalu”.

Jadi, semua pihak memang harus mengakui bahwa pendidikan kita masih belum berhasil untuk melahirkan manusia-manusia berdaya dobrak kuat untuk sebuah perubahan yang signifikan, utamanya dalam mengatasi problem kebangsaan saat ini dan masa mendatang.

Ungkapan Daniel Mohammad Rosyid bahwa kurikulum 2013 akan melahirkan generasi tukang layak direnungkan dan ditindaklanjuti.

Karena faktanya, penentu anak lulus sekolah hanyalah selembar kertas jawaban yang tidak mewakili apapun, selain kognisi yang masih absurd. Absurd karena dalam praktiknya, sudah bukan rahasia, kunci jawaban telah bocor lebih dulu. Sampai-sampai UN harus dijaga ketat polisi.

Tak Sekolah Tapi Berkiprah

Tetapi, apakah iya semua yang lulus sekolah tidak berguna? Tentu tidak! Masih ada, untuk menyebut di antaranya ada Hamid Fahmi Zarkasy, Marco Kusumawijaya, Ridwan Kamil, Rhenal Kasali, dan yang lainnya.

Tentu perlu dicatat, mereka bisa lain dari yang umum, lebih karena motivasi belajarnya yang memang didedikasikan untuk kemaslahatan bangsa. Tidak saja itu, mereka belajar sangat luar biasa, meski tanpa apresiasi manusia.

Meskipun demikian, dalam perjalanan hidup saya, ada juga orang yang tidak lulus kuliah, tetapi kecanggihan berpikirnya tidak kalah dengan professor.

Satu di antaranya adalah Mas Suharsono. Sekalipun tidak melanjutkan kuliahnya di Teknik Sipil UGM, beliau kini tetap produktif dengan menjadi seorang pemikir yang konsen dalam masalah peradaban. Dr. Fuad Rumi di Makassar, Dr. Adian Husaini, termasuk orang yang pernah menjadi partnernya dalam diskusi-diskusi peradaban di tanah air dan mengakui, buku terbaru Mas Suharsono sebagai buku yang layak didiskusikan para pemerhati peradaban.

Temasuk Abdullah Said, aktivis PII era 70-an di Makassar itu sungguh sangat luar biasa. Di usia remaja dia sudah menjadi khatib di berbagai masjid di Makassar. Bahkan ketika kuliah, ia malah justru berhenti. “Bukan sombong, tapi apa yang diajarkan di kuliah, saya sudah baca semua ketika belum kuliah,” ungkapnya.

Artinya Abdullah Said yang kemudian mendirikan Pesantren Hidayatullah di Balikpapan Kalimantan Timur itu adalah sosok pembelajar yang sangat kuat. Kegemarannya terhadap ilmu membuatnya begitu asyik membaca, menulis. Atas dasar itu, muncul ide untuk membangun media Islam.

Akhirnya berdirilah Majalah Hidayatullah yang oplahnya sempat mencapai angka 80.000 eksemplar per bulannya. Dan, kini, kader-kadernya mampu mengembangkan media cetak itu menuju media online yang menjadi berita Islam rujukan tanah air,www.hidayatullah.com.

Amin Rais menyebut Abdullah Said sebagai manusia kerja bukan manusia teori. Talk less do more, mungkin itu yang dimaksud mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu.

Mereka yang tidak sekolah, namun tulus berkiprah untuk rakyat pada akhirnya akan memberikan manfaat yang sangat luar biasa. Bahkan, sekalipun tidak sekolah, mereka tidak bisa dikalahkan tradisi belajarnya.

Jadi, sangat heran jika kemudian ada remaja berseragam sekolah, tetapi belajar malas, disiplin pun tidak. Bagi mereka yang bermental seperti itu, maka sekolah bukan tempat yang baik untuk perkembangan mereka, karena sekolah hanya akan menjadi tempat bersarangnya para penganggur terselubung.

Namun demikian, sekolah harus berbenah, menteri harus berkiprah, dan seluruh rakyat Indonesia harus bermujahadah (bersungguh-sungguh) untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Dan, itu dapat diwujudkan manakala motivasi tinggi bersarang dalam hati. Seperti mereka yang tak kuliah atau DO dari kuliah, tetapi berpikir berkiprah untuk maslahah.

Jika kurikulum 2013 dinilai masih belum tepat, maka pemerintah harus berlapang dada untuk buka hati, buka telinga. Pengalaman membuktikan bahwa sekolah memang belum berhasil, maka dari itu, jangan tergesa-gesa untuk menerapkannya.

Bangsa dan negara kita membutuhkan dosen, guru dan pelajar yang siap berkiprah di tengah masyarakat demi kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara. Bukan dosen, guru, dan pelajar yang senang duduk di balik meja belaka. Apalagi hanya menghafal ayat dan undang-undang, kemudian fokus mendapat sertifikasi, sementara hatinya tak peduli nasib sekitarnya.

IMAM NAWAWI, tulisan ini telah dimuat juga di www.kaltimtoday.com. Penulis adalah santri Hidayatullah, perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.