Beratnya Jalan Dakwah dan Membidik Militansi Kader

dai hidayatullahSEBUAH episode kecil terjadi pada level kepemimpinan di sebuah daerah, yang mengambil angel tentang penugasan seorang dai ke sebuah desa terpencil.

Jauh hari sebelumnya sudah kadung terpatri di benak kader bahkan lebih mirip kalau kita sepakati dengan virus istilah yang mewabah “daerah basah” dan “daerah kering”.

Ironi. Bahkan mestinya tidak ada kedua kata itu di ranah dakwah. Apapun dan bagaimanapun tempat tugas kita, kondisi itulah yang terbaik bagi kita. Yang sudah pasti adalah skenario Allah subhanahu wa ta’ala selalu baik sebagaimana prosesnya.

Kalau toh nanti diperjalanan ditemui trouble itu karena orangnya yang gagal mengimplementasikan iman ke dalam tugas dakwahnya. Meski dalam visi kita lebih ditekankan pada orientasi proses, lebih mudahnya soal hasil serahkan saja pada Yang Maha Memberi (hasil).

Jujur, sangat menarik ungkapan menyentuhnya seorang pimpinan daerah yang mengatakan “Yang penting syariatnya sudah saya penuhi dan hasilnya ada yang mengatur”.

Sebuah keyakinan yang terpatri bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sudah mendesain kita bahagia dengan apa yang telah kita miliki. Kita saja yang kadang terlalu takut dengan kebahagian yang hanya diselubungi sedikit kesusahan bahkan seperti ada kesan ragu terhadap Maha Murahnya Allah subhanahu wa ta’ala, Naudzu billah min dzalik!.

Terlalu banyak kisah-kisah kader hebat yang dimiliki lembaga kita, sampai hari ini. Kader Hidayatullah memilih untuk berani meski ada ketakutan dalam hatinya, memilih suka meski terkadang terselip perasaan benci dan dengan ringan mengatakan “ya” meski isteri dan anaknya tak jarang “mengajukan banding” kepada dirinya bahkan mereka.

Sudah gamblang, bagi kita sebagai dai, setiap putusan oleh orang-orang sholeh yang tergabung dalam sebuah majelis untuk bermusyawarah itu hasilnya tidak pernah membuat menyesal, itu mutlak. Pada tingkatan ini ketaatan bukan lagi pada hiasan ihsan verbal saja melainkan sudah menjadi life style.

Karena setidaknya dengan mendelegasikan kata “bahagia” sudah bisa mewakili rasa senang ketika bisa menjalankan amanah. Meski sebelumnya muncul persoalan penyebab keragu-raguan. Biasanya, yang paling mendominasi adalah rasa ketidakmampuan.

Kalau rasa ketidakmampuan ini yang muncul dibarengi kepasrahan yang total kepada Allah, itu berindikasi baik. Ini indikasi kerberhasilan menjalankan amanah, setidaknya akan melibatkan Sang Khalik dalam setiap kebijakannya.

Memang, akan sangat berbeda kalau sejak awal ada kepasrahan yang total. Yakin betul kalau di setiap detil amanah yang diemban bersamaan ada hiburan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan sebagai bonus. Lalu, kenapa musti ragu?

Keyakinan mahal yang selalu diberikan hampir di setiap event baik wilayah maupun skala nasional adalah keyakinan tentang kepasrahan yang totalitas. Mengikut skenario besar yang “disutradarai” oleh Sang Maha Pengatur.

Kemudian, indikator keberhasilan bisa dilihat pada harga pasnya kader saat menerima amanah tanpa mengajukan beberapa pertanyaan kecil seputar pribadi; Mata pencarian, pendidikan anaknya, status kepegawaian di pemerintah dan sejenisnya. Karena sesungguhnya sosok kader yang taat selalu diliputi kebahagiaan, dewasa dalam berpikir dan piawai menyiasati keadan.

Bisa memainkan semua kondisi menjadi pendukung untuk kader selalu tampil menarik di hadapan umat meski sedari pagi belum ada sesuatupun yang mengisi lambungnya.

Tetap tegar dengan berbagai suasana keumatan, dengan 35 orang yang ia bina terdapat 35 juga keinginan yang berbeda namun mampu disatukan dalam sebuah persepsi yakni ketaatan dan bersabar dalam kebenaran-Nya. Wallahu a’lam bishshowab.

________________
ABU UMAR BASYA, penulis adalah Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.