Ikutilah Nabi kalau Benar Cinta Kepada Allah

cinta nabiSYARIAT Islam sebagai aturan yang bersifat universal menempatkan cinta sebagai bagian dari ibadah seorang hamba. Jika cintanya kepada Allah Ta’ala benar dan terbukti, orang tersebut akan mendulang pahala.

Sebaliknya, ia bisa mendapat dosa hanya gara-gara urusan cinta yang keliru, mengaku cinta tapi perbuatannya tidak sesuai dengan pengakuannya. Menyatakan cinta, namun perbuatannya justru bertentangan dengan kemauan zat yang dicintainya. Itu sama halnya dengan bentuk-bentuk ibadah hati yang lain.

Cinta juga memiliki makna sebagai pilar penting dalam kesempurnaan ibadah seorang muslim. Lebih lanjut syaikh al-Islam Muhammad bin Abdul Wahab menegaskan, meskipun orang-orang kafir mengerjakan seluruh perintah Allah yang ada, namun apa yang mereka lakukan tidak diterima oleh Allah, selama mereka tidak cinta kepada Allah sebagai dasar diterimanya amalan tersebut (lihat kitab at-Tibyan Syarah Nawaqidh al-Islam).

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 31: ”Katakanlah (Muhammad) jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang”.

Imam at-Thabari menyebutkan, sebab turunnya ayat ini berkenaan dengan pengakuan suatu kaum pada masa Nabi Muhammad SAW . Mereka berkata, “Wahai Nabi, persaksikanlah kami adalah orang-orang yang mencintai Rabb kami. Nabi lalu berkata,”Jika kalian benar-benar jujur dengan perkataan kalian, maka hendaklah kalian mengikuti aku, sebagai bukti kejujuran ucapan kalian.”

Dalam ayat di atas terkandung beberapa penjelasan terkait kewajiban mencintai Allah, tanda-tandanya, serta hasil yang didapatkan dari cinta tersebut.

Imam Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan, pengakuan cinta kepada Allah adalah maqom tertinggi dalam hubungan manusia dengan Rabbnya. Terlebih jika ternyata Allah juga berkenan ridha dan mencintai hamba itu, maka akan terjadi hubungan timbal balik yang sangat kuat.

Seorang muslim menyatakan cinta kepada Allah, sedang sang Khaliq menyatakan ridha atas cinta hamba-Nya itu. Hal inilah yang pernah dialami oleh para sahabat, generasi terbaik yang hidup pada masa Rasulullah SAW, seperti apa yang yang dijelaskan dalam surat at-taubah ayat 100.

Dimana-mana yang namanya mencintai sesuatu membutuhkan pembuktian. Sebab, ia bukanlah lipstik yang hanya menjadi penghias bibir saja. Dalam konteks keluarga, seorang ibu rela bersusah payah membesarkan anaknya semata demi kecintaanya kepada belahan jiwanya.

Seorang anak saleh juga siap berkorban apa saja demi kecintaan kepada orang tuanya yang telah merawatnya sejak ia masih dalam kandungan ibunya.

Surat Ali Imran ayat 31 di atas juga menjelaskan, bukti nyata mencintai Allah adalah mencintai Rasulullah SAW, dan sekaligus ajaran yang dibawanya. Baik aqidahnya, akhlaqnya, ibadahnya, sunah-sunnahnya dan sendi kehidupan lainya. Kewajiban mencintai Allah sama kedudukannya dengan mencintai Rasul-Nya.

Oleh karena itu, ujian pertama pengakuan cinta hamba kepada Allah bisa diukur dari ketaatan kepada Nabi-Nya. Sebab, sejatinya perintah Allah adalah perintah Rasulullah SAW sebagaimana semua larangan Allah telah tertuang dalam hal-hal yang dilarang oleh Nabi.

Berkata Sahl bin Abdullah, tanda cinta kepada Allah yaitu, “Mencintai Al-qur’an, tanda cinta kepada Al-qur’an adalah dengan mencintai Nabi. Sedang alamat cinta kepada Nabi dengan menghidupkan sunnah. Tanda cinta kepada Allah, al-Qur’an, Nabi, dan sunnah yaitu mencintai akhirat. Selanjutnya tanda orang itu cinta akhirat adalah dengan mencintai dirinya sendiri. Hal itu bisa terlihat ketika ia membenci dunia dengan hanya mengambil sedikit darinya sebatas perbekalan dalam menempuh perjalanan kembali ke kampung akhirat”.

Cinta yang jujur kepada Allah dengan sendirinya mengantar seorang Muslim untuk senantiasa taat dan bersyukur kepada-Nya. Semakin ia mendekat kepada Rabbnya, semakin ia rasakan limpahan rahmat dan karunia yang begitu banyak dari Allah SWT.

Namun, hal tersebut jarang manusia memahaminya, karena kebanyakan manusia hanya mampu memaknai kenikmatan dalam bentuk materi dan fisik saja. Lalu lupa akan nikmat terbesar yang Allah berikan sebagai bentuk kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Padahal Allah justru mencintai kaum muslimin dengan senantiasa menaungi karunia dan ampunan kepada mereka.

Alhasil, dengan mencintai Allah dan Rasulullah SAW serta berupaya maksimal melaksanakan syariat Islam menjadikan seorang muslim berpeluang meraih janji yang ditawarkan oleh Allah SWT mendapatkan kecintaannya serta adanya garansi ampunan atas dosa dan kesalahan selama ini.*

___________
MUHAMMAD SAMSUDI, S.PD.I, penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar, Bali.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.