Semarak Sambut Silatnas dan Berbunganya Ummahat

AKHIR-akhir ini, ada fenomena yang sama-sama kita amati dan nikmati, apalagi kalau bukan kehebohan para ummahat berburu bunga. Perkara bunga ini bukan hal yang sepele, pembicaraan tentangnya memenuhi hampir seluruh chat di grup-grup WhatsApp.

Mulai dari grup guru, grup halaqoh, grup pelapak, grup keluarga, sampai grup-grup alumni. Perkara bunga menjadi trending topic setelah dikeluarkannya himbauan kepada seluruh ibu-ibu warga untuk mempercantik tamannya dengan menanam bunga-bungaan, sebagai salah satu bentuk persiapan menyambut Silatnas Hidayatullah November nanti.

Tersisa waktu kurang lebih sebulan sebelum perhelatan akbar tersebut digelar, maka tidak heran ketika kemarin saya menemani Bunda tersayang berburu bunga, para penjual bunga yang berjejer di sekitaran Dome Balikpapan bertanya-tanya.

“Mau ada acara apa bu? Beberapa hari ini banyak itu ibu-ibu jilbab panjang cari bunga juga.” Atau,

“Dari Hidayatullah ya? Katanya disuruh tanam bunga semua ya?”
“Kemarin Ibu-ibu Hidayatullah borongnya yang jenis ini, potnya yg begini, tali gantungannya yang begitu.” Dan yang semacamnya.

Sekarang ini adalah saat-saat yang paling membahagiakan bagi para ummahat, tetapi masa yang mengenaskan bagi para suami. Apalagi yang suaminya diseret ikut ke toko bunga, sehabis memilih bermacam-macam jenis bunga si Istri kemudian meninggalkan Suami untuk berurusan dengan si penjual.

Trik jitu mengamankan isi dompet sendiri tapi mengeringkan isi dompet suami. Kapan lagi para ummahat ini meminta anggaran belanja bunga dengan dalih ketaatan terhadap aturan Kampus Hidayatullah Gunung Tembak sebagai tuan rumah Silatnas. Betul, tidak? 😉

Ummahat hari ini, jalan kemana saja yang dikeker bunga, yang diincar bunga, yg diminta bunga. Habis shalat subuh, saya terheran-heran menyaksikan bunda membaca tawajjuhat sambil berdiri dibalik gorden ruang tamu, ternyata oh ternyata, beliau baca wirid subuh sambil menengok keadaan bunga-bunga barunya, masih bernafas atau tidak.

Malam sebelum tidurpun begitu, di tengok dulu, setelah memastikan bunganya aman, damai dan sejahtera barulah beliau terlelap.

Lain lagi ceritanya ketika saya ke pasar beberapa hari lalu, maksud hati ingin membeli tali untuk menggantung pot, setelah basa-basi dengan penjualnya, ditanyalah untuk apa tali tersebut.
Begitu tahu tujuan saya membeli tali, si ibu penjual ini dengan semangat ’45 bercerita tentang koleksi bunganya, sampai-sampai diajak ke taman bunga di rumahnya yang berjarak beberapa meter dari tokonya.

Alhamdulillah, diijinkan jepret-jepret (padahal pengennya minta bibit bunganya, cuma malu), dan diajari tips and trik merawat bunga.

Ibu-ibu kalau sudah bicara bunga, beda sorot matanya. Bisa jadi berbinar-binar, bisa jadi berapi-api. Berbinar ketika suami tiba-tiba bawa bunga pulang ke rumah, berapi-api ketika melihat bunga kesayangan luluh lantak diterjang ayam tetangga, disenggol motor suami, atau digunduli buah hati.

Dulu, pernah ada quote viral; “Jangan sekali-kali menyenggol ibu-ibu yang sedang menggambar alis, kelar hidup lo!” Kalau untuk ummahat Gutem bukan alis, tapi, “Jangan sekali-kali menyenggol pot bunga ibu-ibu, bisa kena ceramah yang panjangnya ngalah-ngalahin khotbah Jum’at.”

Nah, biar kegiatan menanam bunga kita efektif, bernilai dan bermanfaat, yuk kita sama-sama mengilmui bagaimana sebenarnya menanam dan mengoleksi bunga dalam Islam.

Allah Ta’ala dalam firman-Nya menyebutkan tentang bunga secara implisit dalam surah Al-Hajj ayat 5;

وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan makna ayat ini, yaitu apabila Allah telah menurunkan hujan ke bumi, maka اهتزت, yaitu dia bergerak pada tumbuh-tumbuhan serta menghidupkan dan mengembangkannya setelah kematian.

Kemudian menumbuhkan apa-apa yang dikandungnya berupa warna, berbagai jenis buah-buahan dan tanam-tanaman. Berkembanglah tumbuh-tumbuhan itu dengan berbagai ragam warna, rasa, bau, bentuk dan manfaatnya.

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (Dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah), yaitu indah dipandang dan harum baunya. Adapun yang sama-sama kita pahami, bahwa tumbuhan yang indah dan baunya harum ini salah satunya adalah bunga.

Rasulullah s.a.w bersabda:

“Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman atau menaburkan benih, kemudian dimakan oleh burung atau manusia, melainkan dia itu baginya merupakan sedekah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan sabdanya pula yang artinya sebagai berikut:

“Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan merupakan sedekah baginya, dan apa yang dicuri juga merupakan sedekah baginya dan tidak juga dikurangi oleh seseorang melainkan dia itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.” (Riwayat Muslim)

Penegasan hadis tersebut, bahwa pahalanya akan terus berlangsung selama tanaman atau benih yang ditaburkan itu dimakan atau dimanfaatkan, sekalipun yang menanam dan yang menaburkannya itu telah meninggal dunia; dan sekalipun tanaman-tanaman itu telah pindah ke tangan orang lain.

Para ulama berpendapat: “Dalam keleluasaan kemurahan Allah, bahwa Ia memberi pahala sesudah seseorang itu meninggal dunia sebagaimana waktu dia masih hidup, yaitu berlaku pada enam golongan: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mau mendoakan orang tuanya, tanaman, biji yang ditaburkan dan binatang (kendaraan) yang disediakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.” Bunga termasuk tanaman, meskipun tidak bisa dimakan, namun dinikmati dengan cara yang lain, yaitu melalui pandangan.

Menanam bunga bisa bernilai ibadah dengan syarat:

1. Luruskan niat.
Bahwa kita menanam bunga untuk mendapatkan keridhoan dari Allah Ta’ala, bukan untuk pujian apalagi untuk disombongkan. Sebab keindahan mempunyai dua sisi, kesenangan atau kesombongan. Hadits yang sering dijadikan dalil tentang keindahan adalah,

إن الله جميل يحب الجمال
“Allah Maha Indah dan menyukai keindahan” (HR. Muslim)

Sababul wurud-nya hadits ini berkenaan dengan kesombongan, sehingga baik Muslim maupun al-Tirmidzy memasukkan hadis tersebut dalam bab pembahasan tentang al-kibr (Muslim memasukkannya dalam bagian Iman sementara al-Tirmidhy memasukkannya dalam bagian al-Birr wa al-Shilah).

Ada baiknya kita mencermati pendapat Al-Qadi ‘Iyad yang memberikan pemaknaan bahwa kata الجمال yang terdapat dalam hadis ini dan semakna dengan الحسن (kebaikan), dan kata الجميل dengan الحسن من كل شيئ (kebaikan dalam segala hal).

Dari hadits di atas dapat diambil faidah bahwa menggunakan pakaian yang bagus dan indah, memperindah fisik dan lingkungan selama tidak disertai dengan kekaguman pada diri sendiri (‘ujub) dan kesombongan baik secara lahiriyah maupun batiniyyah, maka hal tersebut tidak tergolong dalam kategori al-kibr (mengingkari kebenaran dan merendahkan manusia)

Maka penting untuk memperbaiki niat sebelum menanam bunga-bunga ini, jangan sampai menjadi hal yang sia-sia, apalagi jika sampai menjadi penyebab dosa dan kemurkaan Allah, Na’udzu billah. Niatkan untuk memperindah lingkungan, menyenangkan hati yang memandangnya, sebagai sarana bersedekah kepada saudara, dan niat-niat baik lainnya.

2. Tidak berlebih-lebihan
Menanam atau mengoleksi bunga jangan sampai berlebihan. Dalam hal biaya dan waktu. Terkadang ada yang keranjingan atau kecanduan mengumpulkan bunga sehingga rela mendatangkan bunga dari luar daerah atau bahkan luar negeri, dengan biaya mahal.

Padahal, dengan biaya sebesar itu, jauh lebih bermanfaat jika kita sumbangkan untuk para pengungsi, atau pembangunan masjid, atau menyantuni fakir miskin dan yatim piatu.

Ada juga yang berlebihan dari segi waktu, akibat merawat bunga lalu menghabiskan sebagian besar waktunya, padahal mungkin jauh lebih bermanfaat kalau dipakai untuk mengaji, belajar, mendidik anak, mengurus rumah dan lain sebagainya. Menanam bunga dan merawatnya menjadi kesia-siaan jika berlebihan.

Dalam al-Qur’an, Allah dengan jelas menyebutkan:

وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf 31, al-An’am 141)

Dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Nabi saw bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan”, tiga kali Rasulullah menyebutkan hadits ini, baik sebagai berita tentang kehancuran mereka ataupun sebagai do’a untuk kehancuran mereka. (Diriwayatkan oleh Muslim hadits nomor 2670).

Orang-orang yang berlebih-lebihan ini, seperti dikatakan oleh Imam Nawawi, ialah orang-orang yang ucapan dan perbuatan mereka terlalu dalam dan melampaui batas. (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, 5/525, terbitan Asy-Sa’b, Kairo).

Berkata Ibnu Jureij dari `Atho` bin Abi Rabaah : “Mereka dilarang dari sikap berlebih-lebihan dalam segala sesuatu”.

Tanamlah bunga sesuai fungsinya, untuk menghias rumah dan memperindah taman, jangan bablas jadi pameran bunga-bungaan atau kolektor bunga-bunga langka dengan harga selangit.

3. Tidak Memaksakan Diri
Himbauan untuk menanam bunga dari Kampus Hidayatullah Gunung Tembak ini sifatnya anjuran, bukan kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa. Jadi, jangan memaksakan diri untuk pengadaan bunga sampai-sampai harus mengutang. Sesuaikan dengan keadaan keuangan.

Menanam bunga adalah kebutuhan tersier, jadi dahulukan kebutuhan yang sifatnya primer. Jangan sampai uang belanja bulanan dihabiskan untuk beli bunga, sementara beras di rumah habis. So, be wise, mak!

4. Memupuk Jiwa Seni
Dengan menanam bunga, secara tidak langsung memupuk jiwa seni para ummahat. Kesadaran mengenai keindahan adalah satu faktor yang amat penting dalam Islam. Sebab dalam jiwa setiap manusia memiliki keinginan dan rasa suka akan keindahan, inilah yang kemudian disebut seni.

Ajaran Islam berkaitan erat dengan unsur-unsur seni yaitu hakikat, keuletan, kesucian, dan kejujuran, yang mana semua ini menjadi karakter seorang muslim.

Al-Farabi menjelaskan bahwa seni sebagai ciptaan yang berbentuk keindahan. Imam Al-Ghazali pula menjelaskan seni dengan maksud kerja yang berkaitan dengan rasa jiwa manusia yang sesuai dengan fitrahnya.

Kerja dalam hal ini adalah menanam dan merawat bunga, yang berkaitan dengan nilai estetika atau kecintaan wanita terhadap keindahan.

Yang harus digarisbawahi adalah, bahwasanya konsep kesenian menurut perspektif Islam ialah membimbing manusia ke arah konsep tauhid dan pengabdian diri kepada Allah Ta’ala.

Fungsi seni kurang lebih sama dengan akal, yakni agar manusia menyadari keterkaitan antara alam dan pencipta-Nya, sehingga dengan seni tersebut ia menyadari keagungan Allah dan keunikan ciptaan-Nya.

Sampai disini, kira-kira jelas yaa..

Terakhir, saya ingin mengutip salah satu quote favorit saya;

“Minds are like flowers. If you let it sit there without soaking anything up, it will dry up.” —Ken Hill– (Pikiran seperti bunga. Jika kamu membiarkannya duduk di sana tanpa membasahi apa-apa, itu akan mengering).

Ummahat yang dirahmati Allah, jadikan kegiatan menanam bunga kita sesuatu yang lebih dari sekedar hobi atau kesenangan pribadi, atau jangan sampai hanya keterpaksaan karena himbauan dari lembaga, apalagi jika dijadikan ajang gaya-gayaan dan pamer. Tetapi, menanamlah dengan ilmu, sehingga kita dan tanaman sama-sama tumbuh dengan cerdas, menjadi indah luar dalam. Happy flowering!

_______
*) EMA NAHDHAH, penulis adalah seorang mahasiswi yang lahir di Kampus Hidayatullah Gunung Tembak.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.