Pemuda Hidayatullah Harus Terus Berkarya dan Berpikir

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah dimanapun berada harus selalu berupaya menempatkan dirinya sebagai figur teladan baik dalam menghasilkan karya maupun dalam tradisi membangun cakrawala berfikir. Dengan demikian pemuda selalu dibutuhkan peran dan senantiasa diharapkan keberadaannya.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi dalam kesempatan kunjungan bersilaturrahim menjumpai Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Jawa Barat, belum lama ini.

“Teruslah bergerak dan melahirkan karya, sekecil apapun itu. Olehnya itu sebagai pemuda kita dituntut untuk selalu produktif dalam menggunakan waktu,” katanya seraya mengimbuhkan bahwa gerakan pembinaan Pemuda Hidayatullah adalah dalam rangka menguatkan komitmen ikut serta menerangi negeri.

Dalam pada itu, Imam mengatakan tradisi berpikir harus selalu dibangun untuk bisa menerangi negeri. Untuk menerangi negeri, maka, katanya, kita harus memiliki cahaya.

“Dan Islam dengan Al-Quran dan hadis adalah cahaya itu sendiri. Karena itu satu perintah yang sangat ditekankan oleh Al Quran adalah berpikir. Berpikir artinya menggunakan akal untuk melihat segala hal dengan kaidah keimanan, logika dan maslahat,” katanya.

Sayangnya, lanjut Imam, perkara berpikir ini belum banyak dipahami termasuk oleh sebagian besar kaum muda. Maka dalam kesempatan tersebut Imam memberikan penguatan tentang tingkatan berpikir yang setidaknya ada lima level.

Pertama, berpikir teknis. Imam menjelaskan, tingkatan level berfikir ini adalah satu aktivitas akal yang berguna untuk memecahkan persoalan-persoalan biasa dalam keseharian. Misalnya, dia mencontohkan, seseorang baru selesai mencuci baju. Maka dia akan menjemur pakaian itu.

Begitu awan mendung dan hujan turun, orang ini segera mengamankan jemurannya. Itu adalah contoh berpikir teknis.

Kedua, berpikir akademik. Dijelaskan Imam, tingkatan berfikir ini adalah kemampuan manusia menggunakan akal untuk melihat hubungan sebab dan akibat.

“Ringkasnya kita bisa lihat hal ini pada riset yang dilakukan oleh mahasiswa, baik ketika menyusun skripsi, tesis hingga disertasi,” kata Imam menyebutkan contoh berfikir akademik.

Ketiga, berpikir distantif. Level berfikir ini sama dengan berpikir out of the box. Yakni dengan cara mengambil jarak dari realitas bahkan teori yang berkembang untuk menemukan satu model pendekatan yang lebih tepat dan applicable dalam kehidupan.

Keempat, berpikir reflektif. Level berfikir ini menurut Imam adalah menggunakan akal untuk menemukan hal mendasar sekaligus fungsional dari segala sisi kehidupan yang mengitari kehidupan manusia.

Dan, Kelima, berfikir abstraktif. Level berfikir terakhir ini adalah menggunakan akal dalam menjelaskan dan memahami sesuatu dengan bahasa yang memungkinkan semua orang terdorong untuk berpikir lebih jauh dan mendalam.

Dari pemaparan tersebut, diketahui pengalaman perdana hampir dari semua peserta mengaku baru mengetahui akan tingkatan berpikir ini. Hal ini mendorong mereka untuk lebih antusias lagi di dalam membangun budaya belajar.

“Kita ketahui bahwa bangsa kita adalah bangsa yang belum seutuhnya dan sepenuhnya mengajarkan generasi mudanya tentang perlunya berpikir. Sempat suatu waktu Rocky Gerung mengatakan bahwa ijazah yang diperoleh dari sekolah ataupun kuliah hanyalah bukti seseorang pernah belajar atau pernah sekolah, bukan berarti ia pernah berpikir,” kata Imam.

Lebih jauh Imam menerangkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki setiap umat Islam aktif membaca, gemar memperhatikan, dan antusias mencermati segala sesuatu. Dengan cara itu zikir yang dilakukan dapat dipadukan dengan kekuatan akal sehingga dia dapat menemukan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kehidupan.

“Manusia yang seperti itu disebut sebagai ulul albab. Dan kaum muda yang memiliki karakter ulil albab inilah yang nantinya dapat menjadi lentera kehidupan dan mampu terangi negeri dengan ilmu, iman dan amal,” pungkasnya.

Dalam kunjungannya menghadiri undangan PW Pemuda Hidayatullah Jawa Barat ini, Imam Nawawi dibersamai sejumlah sejawatnya yaitu Tri Winarno, Bustanul Arifin, dan Ainuddin Chalik serta turut dihadiri Haniffudin Chaniago ketua PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta. (ybh/hio)