PUZ Hidayatullah untuk Penuhi Kebutuhan Kader Dai Muallim

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Saat ini Hidayatullah telah hadir di 320 daerah dengan basis gerakan pondok pesantren dan layanan dakwah. Ratusan titik yang tidak sedikit itu memerlukan kader yang tidak sedikit pula.

Karenanya, alumni program khusus Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah nantinya akan diarahkan menjadi kyai dan kader dai muallim serta murabbi bagi santri dan mad’u secara umum.

Demikian dikatakan Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Drs. Tasyrif Amin, M.Pd.I saat memberikan sambutan dalam acara kuliah perdana program Pendidikan Ulama Zuama Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Senin (21/08/2017).

“Bahwa perkembangan Hidayatullah butuh energi tambahan. Para pendiri dan perintis sudah berhasil membangun sistem dan kultur keaagamaan. Mereka mampu mebghadirkan dakwah Islam di seluruh wilayah njsantara,” kata Tasyrif.

Dia mangatakan, dengan perkembangan yang merambah pada pendidikan dan dakwah secara terbuka, Hidayatullah butuh tambahan sumber daya insani (SDI) dengan kualifikasi ilmu diniyah yang memadai.

“Dengan sebuah catatan, Tauhid, karakter, dan semangat juang pendahulu harus tetap menjadi bingkai gerakan,” lanjutnya.

Tasyrif mengimbuhkan, Selain STIS Hidayatullah, sebanyak 4 perguruan tinggi (PT) Hidayatullah lainnya tetap akan dikuatkan sesuai Tupoksi dan disiplin ilmu masing-masing.

“PUZ ditempatkan di STIS karena memang lebih sesuai dengan disiplin ilmunya. Kita memberi muatan sisi keulamaan dan kepemimpinan. Sehingga, alumni STIS betul-betul hadir sebagai kader sesuai disiplin ilmunya, penguasaan ulumuddin yang berjiwa pemimpin,” ujarnya.

Jumlah mahasiswa program khusus PUZ menjaring 20 orang yang lulus seleksi. Mereka hampir seluruhnya putra kader Hidayatullah.

Di antara mereka, ada 8 orang putra Ketua DPW Hidayatullah dan ada juga putra anggota DPPU Hidayatullah.

Asal sekolah para mahasiswa PUZ yang lulus seleksi ini tersebar dari beberapa Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah (LPIH). Ada alumni MA Hidayatullah Yogyakarta, Al Kahfi Hidayatullah Solo, Ahlussuffah Hidayatullahy Pucak Makassar dan Hidayatullah Depok. Ada pula lulusan Isykariman Solo dan beberapa jebolan Ma’had Tujutuju Kajuara Bone.

“Mereka semua penghafal al Qur’an. Ada yang khatam, ada 25 juz, 20 juz, 10 juz. Paling minimal 5 juz,” ungkap Tasyrif.

Ustadz Hasyim HS, Ketua Pembina Kampus Induk Hidayatullah berpesan pada sambutan pembukaan program ini bahwa, “Sejak awal Allahu Yarham Abdullah Said mencita-citakan lahirnya lembaga PUZ”.

Namun, lanjut dia, kalau menunggu sosok ideal untuk menjalankan program itu baru jalan, maka tidak akan hadir Hidayatullah seperti hari ini.

“Mereka yang dulu bertugas juga ada ulama sesuai kebutuhan umat. Karena terbukti mereka mampu menghadirkan dakwah di seluruh Indonesia,” kata Ust Hasyim.

Selanjutnya, kata beliau, PUZ yang sekarang ini untuk menjawab kebutuhan saat ini. Tapi dengan catatan, tegasnya, jangan meninggalkan warisan sebelmunya.

“Tetap harus dengan ibadah, kerja keras, dan tentu dengan sentuhan ulumuddin yang standar,” tandasnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.