Pendidikan Integral Lahirkan Karakter Berperadaban Mulia

PROSES pendidikan selalu integral antara materi, metode dan guru yang mendidik. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, namun bisa dinilai tingkat pengaruhnya dalam pembelajaran.

Sebuah kalimat Hikmah berbunyi At Thartiqatu ahammu minal maaddah, al mudarrisu ahammu minat thariqah, ruhul mudarrisi ahammu minkulli syaii.

Kalimat hikmah ini mengandung pesan bahwa sebuah metode lebih berpengaruh dibanding materi, guru lebih berpengaruh dibanding metode, dan ruh guru lebih berpengaruh dari segalanya.

Dan kita sangat mafhum bahwa guru memang lebih kuat pengaruhnya dalam transformasi pendidikan.

Apa yang menjadi esensi ungkapan diatas, sesungguh nya telah dipraktekkan dalam penyelenggaraan pendidikan kita. Sebagai contoh, upgrading guru dari semua jenjang pendidikan sudah sangat memadai.

Terutama ketika terjadi perubahan kurikulum, maka kegiatan up grading akan dilaksanakan secara massif. Kepala Sekolah dan guru bidang studi menjadi perioritas pertama, kemudian menyusul tenaga kependidikan lainnya.

Maka tidak mengherankan Diklat Pendidikan Pusat dan Wilayah Regional senantiasa padat dengan kegiatan up grading tersebut.

Dari rangkaian pelatihan Kepala Sekolah dan guru bidang studi, terasa memberi signifikasi pada model manajemen, kurikulum dana metode pendidikan.

Di kota dan di daerah terpencil diasumsikan memiliki kualitas rata-rata, sehingga pemerintah tetap mempertahankan kegiatan Ujian nasional.

Secara kognitif kita berkesimpulan bahwa tingkat kecerdasan lulusan sekolah kita berada pada kuadran yang sama, karena angka kelulusannya relatif sama.

Dengan demikian, perlu apresiasi atas keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan kualitas guru pada aspek materi dan metodologi pengajaran, yang dibuktikan dengan kemampuan kognitif lulusan yang memadai dan hampir merata di kota dan di daerah terpencil.

Namun dalam menilai kesuksesan pendidikan, ada aspek lain yang lebih penting dari sekedar cerdas dan lulus ujian, yaitu aspek apektif. Dalam Islam, aspek ini indikatornya adalah taqwa, akhlak dan kepribadian.

Tujuan Pendidikan Nasional juga mencantumkan tujuan ini sebagai target pertama dan utama. Namun sangat disayangkan, tidak terdengar dan tidak familiar bagi kita istilah up grading taqwa atau up grading akhlak.

Kalau aspek ini tidak diberdayakan mulai dari gurunya, maka sangat wajar kalau anak didik dan para alumni pendidikan berprilaku kurang terpuji.

Karena taqwa dan akhlak adalah ruh guru yang secara spiritual berpengaruh kepada muridnya.

Sebelum tampil ke dunia pendidikan, Rasulullah terlebih dahulu membekali diri dengan akhlak terpuji. Semua bentuk pemikiran, prilaku dan gerakan Rasulullah tersimpul nilai kebaikan padanya.

Sehingga Allah SWT memberi predikat kepada Rasulullah dengan ayat-Nya “Wa innaka la’allaa khuluqin ‘adhim” Sungguh pada dirimu (Muhammad) terdapat akhlak yang terpuji (Q.S. Al Qalam: 4).

Rasulullah dengan mudah melakukan transformasi nilai dan pembentukan karakter kepada para muridnya, karena memiliki ruh atau kekuatan spiritual yang berpengaruh langsung dalam pembentukan akhlak yang agung.

_______
*) Drs. M. Tasmin L, M.Pd.I, penulis adalah Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah dan pegiat islamic parenting

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.