Prof Arskal Salim: Sarjana Muslim Harus Jadi SDM Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Sarjana muslim harus menjadi bagian dari masyarakat SDM unggul dalam proses peningkatan kualitas manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Demikian hal itu disampaikan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi, Balitbang-Diklat, Kementerian Agama RI Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag, pada acara Stadium General, Kuliah Umum Pendidikan Tinggi Hidayatullah Batam, di Kampus 02 Putri Tanjung Uncang, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau, Selasa, 7 Shafar 1443 H (14/9/2021).

Kata Prof. Arskal, demikian ia akrab disapa, dalam menuju SDM unggul maka pilar pembangunan Indonesia 2045 adalah masyarakat yang unggul, berbudaya, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Pilar berikutnya setelah SDM Unggul, yaitu ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Pembangunan yang merata dan inklusif. Negara yang demokratis, kuat, dan bersih,” imbuh Guru Besar Shiyasah Syar’iyyah (Ilmu Politik Islam) ini.

Kegiatan yang menandai kuliah perdana tahun akademik 2021/2022 tersebut, lebih lanjut Prof Arskal memaparkan sejumlah data tentang fenomena perubahan global. Misalnya, perubahan penduduk (demographic chages).

Prof. Arskal menyebut data, bahwa penduduk dunia akan bertambah menjadi 8 milyar pada 2025 dan penduduk Afrika meningkat 100 persen pada 2050, sedangkan Eropa turun drastis.

“Fenomena lainnya juga yaitu shift economic power, peralihan kekuatan ekonomi dunia pada kelas menengah di Asia Pasifik jauh lebih besar daripada gabungan Eropa dan Amerika. Sedangkan Bangladesh, Kolombia, Maroko, Nigeria, Peru, Filipina, dan Vietnam, yang disebut dengan F7 Frontier Markets akan menjadi pasar utama,” paparnya memberi pengantar dalam tema “Tantangan dan Peluang Budaya Literasi Sarjana Muslim di Era Digital Menuju Indonesia Emas 2045.”

Belum lagi perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya alam (climate change and resource scarcity), katanya lebih lanjut, bahwa sejak revolusi industri suhu bumi terus naik dari 2,5-10 derajat hingga satu abad ke depan.

Begitu juga permintaan energi, makanan, dan air yang semakin meningkat seiring bertambahnya populasi.

“Dan perubahan paling masif adalah technology breaktrough, yaitu terobosan teknologi yang mengubah seluruh tatanan sosial dan interaksi manusia hari ini yang kita sebut dengan revolusi industri 4.0, sistem digitalisasi secara total,” jelas Guru Besar UIN Jakarta ini.

Sehingga bagi sarjana muslim, jelasnya lebih lanut, mesti ada kecakapan hidup abad 21 yaitu apa yang disebut dengan 21st Century learning to know, to do, to be, and to live together, maka mesti punya kemampuan digital literacy, yaitu keterampilan untuk mampu membaca segala hal di era digital sekarang ini.

“Inilah tantangan generasi hari ini, yaitu meningkatkan budaya literasi. Sebab hari ini, literasi dimaknai sebagai kecakapan berbahasa dan menggunakan informasi. Literasi juga sebagai proses pembelajaran yang melibatkan kegiatan membaca dan menulis sebagai media berpikir,” ungkap Alumnus Universitas Melbourne lebih lanjut.

Untuk diketahui, terang Prof Arskal, bahwa salah satu penyebab rendahnya mutu lulusan perguruan tinggi adalah rendahnya budaya literasi. Era media sosial semakin menambah faktor kemalasan mahasiswa dalam membaca dan mencari literatur akademik.

“Bangsa yang besar ditandai dengan masyarakatnya yang memiliki budaya literasi dan peradaban tinggi dan aktif memajukan masyarakat dunia,” pungkas Prof Arskal.

Acara yang diadakan di Aula Serbaguna Gedung Hidayatullah Asia Raya ini dihadiri Ketua Badan Pembina Kampus Utama Hidayatullah Batam, Ustadz Jamaluddin Nur, Ketua Yayasan Ustadz Khoirul Amri, anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ustadz Khairil Baits, Rektor Institut Agama Islam Abdullah Said, Dr (Cand.) M. Sidik, Ketua STIT Hidayatullah Batam, M. Ramli M.PdI, dewan dosen, dan 150 an peserta mahasiswa baru.*/Azhari