Alumni Diklat BTH Sebagai Mujahid Iqtishodiyah Penggerak Ekonomi Pemberdayaan Umat

Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo / Dok. Hidorid

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo mengatakan para alumni peserta Pelatihan dan Pendidikan Baitul Tamwil Hidayatullah (Diklat BTH) adalah mujahid Iqtishodiyah yang berjuang untuk menegakkan izzah Islam di bidang ekonomi.

Kata Asih, “musuh” utama para alumni Pelatihan dan Pendidikan Baitul Tamwil Hidayatullah ini adalah kemiskinan dan ketidakberdayaan ekonomi.

Hal itu diutarakan Asih Subagyo dalam pernyataan pokok pikirannya penutupan acara Diklat BTH I di Kampus Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (27/08/2017).

“Musuh antum adalah kemiskinan dan ketidakberdayaan umat di sektor ekonomi. Juga dikangkanginya sektor ekonomi dan keuangan oleh kapitalisme. Sehingga beban yang ada dipundak antum tidak ringan,” kata Asih Subagyo.

Asih menjelaskan, dalam PDO (Pedoman Dasar Organisasi) dan kemudian jadi salah satu jatidiri, Hidayatullah adalah Al Harokah al Jihadiyah al Islamiyah.

Artinya, terang Asih, bahwa Hidayatullah merupakan gerakan jihad yang melingkupi berbagai aspek kehidupan dalam rangka landingnya Peradaban Islam.

Menurut Asih, sebagai harakah (gerakan) tentu dibutuhkan penggerak agar gerakan bisa jalan. Butuh mesin penggerak, yang dinamakan dengan sistem. Butuh bahan bakar penggerak berupa dana. Lalu, harus ada pengemudi yang menentukan arah. Ada tujuan yang jelas dan ada kompas yang menunjukkan arah.

“Sehingga setiap tahapan kita tahu sampai dimana, dan berapa jauh serta lama lagi perjalanan ditempuh. Dan ini secara organisasi sudah ditata dengan baik,” kata Asih.

Sebagai lembaga al Jihadiyah al Islamiyah, maka Hidayatullah, mengartikan jihad dengan makna yang luas. Baik bermakna qital, maupun dalam rangka bersungguh-sungguh untuk menegakkan peradaban Islam.

“Tidak bisa parsial, harus integral alias syumuliyah. Semua sektor mesti harus disentuh, digarap secara profesional dan akuntabel, sehingga darinya akan terpancar kemuliaan Islam,” jelasnya.

Sehingga, lanjut dia, kita yang bergerak di sektor ekonomi, harus meyakini bahwa, amaliah kita sesungguhnya adalah implementasi dari jihad. Dan ini merupakan bagian, bahkan salah satu pilar peradaban Islam.

“Artinya, jika kita mampu menegakkan ekonomi, sama artinya dengan memperkokoh bangunan Peradaban Islam,” imbuhnya.

Begitu pula sebaliknya. Menurut Asih, gagal membangun ekonomi yang baik berarti kita sedang menggerogoti, bahkan merobohkan bangunan Peradaban Islam itu sendiri. Sehingga, tegasnya, betapa vital dan strategisnya peran kita, tidak bisa main-main, tidak bisa sambilan.

“Ekonomi yang tegak, juga berarti mandiri, berdaya dan sejahtera umatnya. Sehingga umat yang sejahtera, berarti pula menuju kemandirian organisasi. Sebab dari sini, anggota (umat) akan berkontribusi ke organisasi, baik melalui iuran, infaq maupun bentuk lainnya,” ujar dia.

Asih menerangkan, dana dalam organisasi ibarat darah dalam tubuh manusia. Dia harus mengalir ke seluruh anggota tubuh sesuai kebutuhannya. Kelebihan dan kekurangan dalam satu anggota tubuh, bisa menyebabkan penyakit. Sehingga selain darah yang mengalir harus bersih, juga mesti merata dan proporsional.

“Olehnya, antum yang kini sedang mengikuti Diklat Pengelola BTH ini, sesungguhnya adalah seorang mujahid. Sehingga pada diri antum harus menggelora semangat jihad itu,” pesannya seraya menambahkan seorang mujahid haruslah faham rukun dan syarat mujahid.

“Medan jihad antum adalah membebaskan umat dari jeratan riba, mengangkat kaum dhuafa dan mustadhaafin jadi berdaya, meningkatkan orang yang berdaya agar lebih bermanfaat bagi orang banyak demi tegaknya Peradaban Islam,” tambahnya.

Dia menegaskan, musuh para peserta Diklat adalah kemiskinan dan ketidakberdayaan umat di sektor ekonomi. Juga dikangkanginya sektor ekonomi dan keuangan oleh kapitalisme. Sehingga beban yang ada dipundak mereka tidaklah ringan.

“Selesainya antum dari Diklat ini, artinya antum akan memasuki medan jihad yang sesungguhnya. Tantangan yang menghadang tersebut, meskipun berat, akan terasa ringan. Sebab antum telah dibekali ‘persenjataan’ yang komplit selama Diklat,” tantangnya.

Asih berpesan, sebagai mujahid, tentu tidak akan putus asa jika ada problem yang dihadapi. InsyaAllah akan selalu ada cara penyelesaian bagi orang yang beriman.

Untuk itu, pesannya lagi, mujahid ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan otak dan ilmu saja dalam menghadapi tantangan tersebut. Mujahadah harus membersamainya.

“Kita mesti memperbaiki diri, terutama aspek ibadah. Baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Baca Qur’an, Sholat Sunnah terutama Qiyamul Lail, Dzikir dan lain sebagainya, jangan pernah ditinggalkan. Justru ini merupakan senjata pamungkas yang perlu terus diasah. Dan kekuatan ilahiyah dan ruhiyah itulah yang sesungguhnya menjadi kunci kemenangan disetiap sejarah umat Islam.,” imbuh Sekjen Muslim Information Technology Association (MIFTA) ini.

Selanjutnya, Asih juga mengingatkan, tugas alumni Diklat BTH adalah melandingkan berdirinya BTH di tempat tugas masing-masing. Koordinasi dan komunikasi yang baik dengan seluruh stake holder, agar memberikan dukungan yang proporsional.

Asih menyebutkan, data empiris menunjukkan bahwa BTH akan eksis, jika didukung oleh komunitas. Maka, BTH ini ditegaskan dia merupakan bagian dari pemberdayaan ekonomi berbasis halaqah.

Komunitas dalam berbentuk halaqah, menurut Asih, adalah merupakan komunitas yang dibangun atas dasar ikatan iman. Sehingga BTH ini diharapkan akan membawa keberkahan bagi masyarakat (umat) sekitar.

“Akhirnya, selamat bertugas wahai para mujahid. Antum semua adalah mujahid Iqtishodiyah, yang berjuang untuk menegakkan izzah Islam di bidang ekonomi. Allahu Akbar!,” pungkasnya.

Departemen Koperasi dan Kewirausahaan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bekerjasama dengan Laznas BMH bersama  menggelar acara Diklat Baitut Tamwil Hidayatullah  selama 4 hari (2-5 Dzulhijjah 1438 H/ 24-27 Agustus 2017 M) di Kampus Utama Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat.

Acara yang bertujuan mempersiapkan calon pengelola BTH itu dihadiri oleh 40 peserta. Mereka merupakan utusan dari delapan kampus utama Hidayatullah se-Indonesia, dan satu kampus madya dari Bontang, Kalimantan Timur.

Kepala Departemen Koperasi dan Kewirausahaan DPP Hidayatullah Hamzah Akbar menjelaskan, target jangka pendek dari pelatihan BTH ini adalah lahirnya pegiat micro finance di seluruh Indonesia.

“Pelatihan ini diharapkan melahirkan para pegiat ekonomi di bidang micro finance yang dapat mendorong bergeliatnya gerakan ekonomi real di tengah-tengah masyarakat,” kata Hamzah saat membuka acara ini.

Hamzah menambahkan, usai pelatihan ini diharapkan semua peserta segera mendirikan Baitut Tamwil di daerah-daerah secara profesional.

“Dengan demikian, upaya menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat secara konkret bisa segera dimulai dan terus dikembangkan melalui BTH ini,” tuturnya (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.