Menjauhi Pergaulan Bebas Mengatasi Penyakit HIV/AIDS

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Masyarakat Indonesia kian mengkhawatirkan semakin merebaknya pergaulan bebas yang salah satu dampaknya adalah meluasnya penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Bukan hanya dari seks bebas, Ketua Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah, Drg. Fathul Adhim, M.K.M, mengatakan AIDS juga memapar merrka yang tak berdosa seperti banyak diidap para ibu atau anak yang ditularkan melalui penggunaan bersama jarum suntik yang tidak steril dan transfusi darah.

Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut ada 48.300 kasus HIV positif yang ditemukan pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut, 9.280 di antaranya juga positif AIDS. Untuk tahun 2018, hingga triwulan II sudah ditemukan 21.336 kasus HIV, dengan 6.162 di antaranya positif AIDS.

Lantas apa solusi mengatasi AIDS? Menurut Fathul Adhim, selain menghindarkan penggunaan jarum suntik bersama, ia menekankan agar menjauhi seks bebas.

Ia pun menyebutkan kondom bukan solusi yang tepat mengatasi HIV/AIDS. Namun, karena sudah kadung menjadi trend di dunia, kondom dianggap sebagai solusi praktis padahal sebenarnya tidak menyelesaikan masalah.

“Referensi seluruh dunia saja begitu, mengatasi AIDS pakai kondom. Kenapa begitu, karena di Barat orang bebas mau apa saja dalam pergaulan,” kata Fathul ditemui media ini disela acara Musyawarah Majelis Syura Hidayatullah di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Karena itu, Fathul menegaskan solusinya adalah jangan seks bebas. Fathul menerangkan, AIDS adalah penyakit luar biasa paling berbahaya.

Dia menjelaskan, AIDS hanya memiliki dua saja jalur penularannya yaitu melalui darah dan dan hubungan seksual.

Namun, masalahnya, keduanya sudah menjamur di masyarakat sehingga akan sukar menanggulanginya kecuali dengan kecermatan dan kehatihatian. Misalnya, dalam masalah pertukaran jarum suntik bergantian oleh pengguna narkoba.

“Jika menggunakan jarum yang sudah terinfeksi dengan darah yang positif HIV, kemungkinannya besar terkena juga. Jadi bukan hanya sekedar bahaya narkoba, tapi bisa menularkan AIDS,” ujarnya.

Ketimbang jarum suntik, menurut Fathul, hubungan seksual adalah yang paling dekat dan sangat besar pengaruhnya untu penularan HIV. Siapa yang suka seks bebas, kemungkinan besar kena HIV.

Masalahnya, banyak referensi supaya tidak kena Aids solusinya adalah pakai kondom. Akhirnya ada bagi bagi kondom dan dijual bebas.

“Hal ini kan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Kok berzina silahkan asal pakai kondom. Seharusnya solusinya, ya jangan seks bebas,” tegas pendiri Islamic Medical Service (IMS) ini.

Fathul menjelaskan, HIV/AIDS merupakan penyakit mengerikan karena seringkali tidak terdeteksi. Masa inkubasinya bisa sampai 10 sampai dengan 15 tahun.

“Sekarang kena dia bisa santai seolah-olah sehat padahal sudah kena. Termasuk alat tato juga berpotensi menyebarkan AIDS. Karena itu yang hapus tato harus cek lab dulu,” pungkas Fathul.

Soal alat tatto removal ini, IMS misalnya, pernah punya pengalaman mendeteksi sepasang suami istri yang ternyata terjangkit HIV/AIDS usai dilakukan uji lab yang mereka tidak sadari selama ini.

“Mereka ya menangis. kebetulan punya tato dua-duanya. Sedih. Selama ini merasa aman saja ternyata kena AIDS. Kejadiannya di Palembang tahun 2018 lalu,” pungkasnya.(ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.