Pesan Cinta Kerelawanan Dai Indonesia untuk Melawan Covid-19

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Ust Ahmad Suhail menyampaikan pesan kerelawanan nasional dalam rangka menghadapi coronavirus disease (COVID-19) yang penyebarannya masih mengkhawatirkan.

Ahmad Suhail mengatakan serangan Covid-19 telah menimbulkan kesusahan hidup dan kematian di mana-mana. Dia menyebutkan, yang paling banyak menjadi korban tentu saja adalah orang-orang yang lemah: orang-orang tua yang imunitas tubuhnya telah menurun; orang-orang miskin yang harus bekerja hari ini untuk makan hari ini, esok entah bagaimana.

Apalagi untuk ongkos berobat; dan orang-orang yang memiliki penyakit dalam tubuhnya, yang akan makin parah hingga menyebabkan kematian bila terhinggapi virus.

Suhail pun menyampaikan pesan kerelawanan nasional yang menyerukan kesadaran kolektif untuk melakukan pencegahan wabah ini.

“Prinsip yang diajarkan Nabi saw dalam menghadapi wabah menular semacam covid-19 ini adalah masing-masing tidak beranjak dari tempatnya agar wabah tidak semakin meluas. Yang diluar tidak boleh masuk, yang di dalam tidak boleh keluar,” kata Suhail dikutip dari artikelnya “Halau Wabah dengan Cinta” di laman Persaudaraan Dai Indonesia, Rabu (1/4/2020).

Tentu saja akibat dari perintah tak beranjak tersebut memiliki dampak tak sederhana, orang tidak bisa kemana-mana. Namun, apakah dalam kondsisi terjepit itu berarti kita tidak dapat berbuat kebaikan?

“Justru di saat inilah amal-amal utama itu terlahir. Seringkali kepedulian itu muncul di tengah kekurangan. Peduli itu tanda cinta. Cinta itu teruji ditengah krisis,” imbuhnya seraya mengutip hadits Nabi ”Atasilah kesulitan rizkimu itu dengan memperbanyak shadaqah”.

“Sikap terbaik yang dapat diambil di tengah wabah ini adalah hendaknya setiap orang berlomba untuk ber-shadaqah,” tegasnya.

Suhail mengatakan, shadaqah itu tidak harus berwujud uang, namun bisa berbagai macam kebaikan. Dan jika tidak ada lagi kebaikan yang mampu dia lakukan, maka menahan diri dari perbuatan buruk itu termasuk shadaqah, sebagaimana terang Nabi saw dalam sabdanya.

Maka, terangnya, yang mampu hendaknya menolong yang tidak mampu: tenaga, pikiran, finansial, logistik, obat-obatan atau yang lainnya. Yang tidak mampu tidak perlu berkecil hati.

“Dengan berusaha menahan diri untuk tidak menjadi beban dan menambah runyam permasalahan itu sudah cukup membantu. Itu sudah shadaqah. Itu pemberian. Itulah yang akan melahirkan kebahagiaan, karena kebahagiaan sesungguhnya itu muncul pada saat memberi, bukan pada saat menerima,” kata Suhail.

Menurutnya, jika setiap orang dapat menjauhkan kekikiran dalam dirinya dan saling peduli, maka inilah yang akan mengundang kemenangan dan pertolongan dari Allah.

“Cinta selalu berbalas cinta. Itu sudah menjadi jaminan dari-Nya, sebagaimana yang disampaikan lewat lisan Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wassalam, Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama ia mau menolong saudaranya,” pungkas Suhail seraya menukil hadits Nabi diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.