Orang yang Sehat Berfikir dan Mengambil Peran Terdepan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Seorang mujahid dakwah harus sehat fisik mental dan fikirannya. Diantara yang bisa menjadi tolok ukur mental sehat itu adalah berani, tidak boleh pengecut, dan selalu mengambil peran terdepan dalam kebaikan.

Demikian disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dalam taushiyah pengarahannya dalam acara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Hidayatullah di Jakarta, 17/12/2019.

“Orang sehat harus selalu berfikir dan mengambil peran terdepan. Itulah sehat yang prima. Orang tidak sehat, tidak mau mengambil beban dan resiko. Dia cenderung pengecut,” katanya.

Alhamdulillah, lanjutnya, Allah berkenan memberikan kekuatan kepada kita berupa kesehatan. Hanya dengan sehat inilah kita bisa mengerjakan berbagai aktivitas, apalagi kegiatan Rakernas ini.

“Tanpa sehat kita tidak bisa berakernas. Rakernas ini rapat untuk bekerja. Setelah beriman kita bekerja. Rakernas ini untuk membuahkan hasil baik berupa materi ataupun spirit,” ujarnya.

Pada umumnya, jelasnya, yang dikatakan orang sehat itu sehat secara fisik saja. Kebanyakan orang tidak melihat bahwa pekerjaan untuk memcapai suatu pencapaian tujuan, baik itu pribadi keluarga, maupun lembaga adalah suatu hal yang sehat.

“Orang hanya melihat sehat secara jasmani, meski demikian tidak ada orang yang sehat jasmani seratus persen. Ukuran umumnya, kalau sudah sehat 60 persen, itu sudah sehat. Meski ada sakit gigi, sakit ini dan itu sudah dianggap sehat,” terangnya.

Namun, imbuhnya, untuk beraktifitas ternyata tidak cukup sekedar jasmani tapi harus sehat mental dan fikiran.

“Alhamdulillah, kita semua yang hadir disini sehat jasmani, dan pasti sehat mental dan pikiran juga. Karena sudah bisa hadir di Rakernas ini,” katanya.

Beliau menerangkan bahwa orang-orang beriman adalah orang sehat yang memiliki tawakkal yang tinggi serta tidak banyak keluhan.

“Orang yang banyak ngeluh itu tidak sehat. Orang sehat Allah akan dikasih kesadaran yang banyak. Orang tidak sehat kalau diberi tugas, diberi amanah, kadang banyak sekali pertimbangannya, kadang dia mengatakan rumah saya tidak aman, urusan tetek bengek menjadi alasan,” jelasnya seraya mengutip Al Quran Surah Ibrahim Ayat 12, yang artinya:

“Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri.”

Ia mengingatkan, bahwa puncaknya orang orang yang diberikan kenikmatan kesehatan oleh Allah SWT adalah mereka yang bertawakkal dan bersabar pada jalan perjuangan.

“Kalau sehat mental saja terbatas energinya. Jika sehat rohani, kita tidak akan pernah kehabisan energi sumber daya. Orang yang sehat rohani, akan ada kekhusyuaan dalam dirinya,” terangnya.

Dia lalu berkisah tentang peristiwa yang sempat dilalui Rasulullah Muhammad SAW dikala di-isra’mir’raj-kan, dimana Rasulullah diperlihatkan semua aktivitas dan kesibukan orang-orang dan nabi nabi terdahulu.

Kala itu Nabi Muhammad hampir mengambil kesimpulannya sendiri. Bahwa tidak perlu lagi kembali, tapi Allah beritahukan bahwa ada yg lebih tinggi dari kenikmatan iman itu, yaitu jihad.

“(Memang, red) nikmat beriman di rumah, sama anak isteri, shalat dan tadarrus bersamanya, tetapi aktivitas berjuang di luar rumah jauh lebih tinggi manfaatnya, jauh lebih tinggi perjuangannya,” tandasnya seraya berpesan agar kader dai tak henti mencerahkan umat dengan dakwah apapun bentuknya.*/Sarmadani Karani

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.