Warga Hidayatullah Harus Berupaya Menjadi Figur Al Amin

Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad pada acara Silaturahim Syawal 1438 H di Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Senin, 10 Juli 2017‎ (Foto: Abdus Syakur / Hidayatullah)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Segenap kader dan warga Hidayatullah dipesan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah untuk selalu berusaha menjadi figur manusia yang dapat dipercaya atau menjadi pribadi Al-Amin.

Spirit tersebut diserap daripada perikehidupan perjalanan dakwah Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alahi Wasallam yang dikenal sebagai figur terpercaya.

Gelar Al-Amin bagi Nabi Muhammad SAW disandangkan oleh penduduk Mekkah karena dikenalnya Nabi Muhammad SAW sebagai seorang laki-laki yang penuh amanah, jujur dan dapat dipercaya.

Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menjelaskan, kader Hidayatullah pun harus berusaha meneladani akhlak mulia Rasulullah tersebut, bahkan terhadap hal-hal yang barangkali dianggap sepele seperti ketika berada di masjid.

Dia mencontohkan, dikala awal perintisan Hidayatullah, kader dai yang dikirim berdakwah ke berbagai penjuru negeri hanya dipesan untuk membangun kepercayaan umat terlebih dahulu. Dan, ketika sudah dipercaya, maka jaga betul betul kepercayaan tersebut.

“Kader harus jadi Al Amin dulu. Harus terpercaya dulu, bisa amanah. Ketika tiba di tempat tugas baru, bersihkan saja masjid, bersihkan MCK, perbagus hubungan dengan masyarakat, selalu di masjid di awal waktu. Jangan menggurui. Intinya Hidayatullah di situ, yaitu mencontoh saja kebaikan. Menduplikasi dan mengekspansi,” kata Abdurrahman dalam taushiah shubuh di Masjid Ar Riyadh, Kampus Ummul Quro Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan, Kaltim, Sabtu shubuh (13/2/2021).

Dia lantas menceritakan kisahnya. Dalam rangka berupaya menduplikasi kebaikan, saat berhaji ke Baitullah, di benaknya tiba-tiba muncul satu pemikiran untuk melahirkan gerakan yang kini diberi nama langsung olehnya yaitu Gerakan Dakwah Nasional Mengajar-Belajar Al-Qur’an atau Grand MBA.

Alhamdulillah, dengan Grand MBA, bukan saja orang orang pintar yang datang ke kampus Hidaatullah Gunung Tembak ini, bahkan yang di sini mau pintar dengan majunya pendidikan. Jadi kita menduplikasi saja. Mencontoh dan memberi contoh kebaikan bagaimana beribadah keras dan bekerja keras,” katanya.

Dia menjelaskan, dengan disertai spirit Bismirabbik, Hidayatullah hadir untuk memberikan kebaikan dan meluaskan kemaslahatan untuk alam semesta terlepas banyaknya kekurangan dan ketidakmampuan yang dimiliki.

“Pegangan kita adalah bagaimana kita menghadirkan diri bahwa kelebihan kita adalah kelemahan kita sehingga kita hanya mengadu kepada Allah dan tetaplah istiqamah dalam ketaatan,” imbuhnya.

Beliau menerangkan, setiap warga Hidayatullah dan umat Islam secara luas perlu untuk selalu gigih dalam menuntut ilmu meskipun berat dan sukar. Karena itu, baginya, ilmu itu kecil dan apapun yang berhasil didapat di sekolah kecil. Namun yang betul betul penuntut ilmu adalah yang kurang tidurnya.

“Kalau santri Hidayatullah menduplikasi kebaikan demi kebaikan, melayani umat, mengambil peran kebaikan. Datangi masyarakat dengan kesalehan dan karakter kelembutan. Insya Allah, Allah menyambut. Yang diperlukan sekarang adalah tindakan, bukan omongan. Hadirlah dengan membawa karakter ar Rahman Ar Rahim,” ujarnya. (ybh/hio)