Kampus Hidayatullah Kaur Buka Unit Usaha Telur Asin, Maukah?

KAUR (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menunjang kemandirian pondok pesantren serta wadah pembinaan enrepreneurship santri, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, membuka unit usaha berupa bisnis telur asin yang bisa diorder secara eceran maupun secara partai (grosir).

Sekarang. Untuk warga Kaur dan sekitarnya, tak perlu susah mencari penganan konsumsi berupa telur bebek ini karena Pesantren Hidayatullah Kaur telah membuat unit usaha produksi telur asin. Hasilnya untuk dipasarkan di lingkungan sekitar.

“Kami jual ke rumah-rumah, warung makan dan warung bakso,” ungkap Ustadz Aspar Faqih, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kaur yang ikut terjun langsung dalam usaha tersebut dibantu para santrinya.

Untuk memudahkan pelanggan, pihaknya memberikan layanan antar jemput. “Kami siap antar untuk wilayah Maje ,Tetap, Nasal dan Kota Bintuhan,” kata Ustadz Aspar yang bisa dihubungi untuk order melalui nomor WA 0822-7120-1018.

Pelanggan juga bisa datang langsung ke Kampus Ponpes Hidayatullah Kaur yang beralamat di Jalan Lintas Barat, Desa Suka Menanti, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, Bengkulu.

Kandungan yang terdapat di dalam telur asin diketahui ada beberapa, di antaranya: sodium dari sebutir telur asin cukup tinggi yaitu bisa mencapai 397 mg, vitamin A, vitamin C, kalsium, fosfor dan zat besi.

Kalsium tinggi yang terkandung pada telur asin juga baik untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi, mencegah osteoporosis serta mempercepat proses pembekuan darah.

Telur asin merupakan salah satu jenis telur yang sudah lazim keberadaannya di tanah air. Dan termasuk salah satu makanan favorit yang mudah ditemukan di warung-warung atau tempat makan.

Telur asin yang terbuat dari telur bebek sangat nikmat disantap sebagai lauk makan. Ada juga varian makanan yang menggunakan telur asin sebagai bahan pelengkapnya. Bisa juga dimakan langsung tanpa campuran.

Cara membuat telur asin sebenarnya tak terlalu susah, dengan direndam ke dalam larutan air garam selama jangka waktu tertentu lalu dikukus. Namun, jika hanya membuat sedikit akan terasa mahal dan melelahkan. Lebih praktis beli dan siap santap.

Dikarenakan jumlah produksi yang masih terbatas, untuk pembelian diharapkan untuk pesan terlebih dahulu (pre-order). Hasilnya nantinya digunakan untuk biaya operasional pesantren yang menampung para santri dari berbagai daerah secara gratis. “Insya Allah penuh berkah,” pungkas Aspar. (ybh/hio)