Raih Sukses Ramadhan dengan Evaluasi Diri dan Kesungguhan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ust Akib Junaid, mengatakan sukses ibadah Ramadhan insya Allah dapat dicapai dengan melakukan evaluasi diri dan dengan adanya tekad yang sungguh-sungguh.

Hal itu disampaikan beliau kala menjadi narasumber Mabit Silaturrahim & Tarhib Ramadhan di Masjid Ummul Quro, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (3/4/2021).

Evaluasi kehidupan, tema ini merupakan bagian dari taushiyah mendalam yang disampaikan oleh dai senior ini. Evaluasi, menurut Akib, adalah bagian dari nafas ajaran Islam.

“Evaluasi itu penting agar kita tidak mengulangi kesalahan,” tegasnya.

Dia menerangkan, tidak ada yang namanya sukses kalau tidak ada yang namanya evaluasi. Sebab, tanpa evalusi kita tidak akan pernah tahu, sudah dimana dan sampai mana diri kita dalam perjalanan iman dan taqwa ini.

“Terlebih kalau bicara mau sukses Ramadhan tahun ini, kita harus berani evaluasi secara jujur Ramadhan sebelum ini,” imbuhnya menegaskan.

Menurut pria murah senyum itu, banyak orang mau sukses Ramadhan tapi tidak memiliki rencana. Bagaimana mau berencana dengan baik, katanya, kala evaluasi tidak dilakukan.

“(Evaluasi) dilakukan mungkin, (namun) belum dengan kejujuran atau kesungguhan,” imbuhnya.

Target itu perlu dan bagus setelah ada rencana. Kalau mau diurut tentu akan sangat panjang, karena memang perkara evaluasi bukanlah hal sederhana.

Namun, kalau ada kesadaran, maka setidak-tidaknya akan ada sebuah pemahaman bahwa inilah saat terbaik melangkah lebih jelas dengan target terpenting dalam kehidupan ini, yakni menjadi pribadi bertaqwa.

Islam adalah agama yang selalu mengajak umat ini terus menambah ilmu. Kita ketahui, peradaban yang maju adalah karena ilmu, demikian pula kebudayaan dan hal apapun di dunia ini.

Jika pun harus melihat sejarah, Al-Quran menyediakan perihal ini, yakni kisah Nabi Yusuf Alayhissalam.

Kata Ustadz Akib sapaan akrab beliau, Nabi Yusuf adalah sosok Nabi yang mampu melakukan evaluasi lalu membuat perencanaan untuk 14 tahun kehidupan mendatang, sehingga selamatlah rakyat Mesir dan sekitarnya dari ancaman kelaparan.

“Evaluasi dan rencana akan lebih mudah disusun kalau jelas targetnya. Nabi Yusuf targetnya selamatkan manusia dari kelaparan. Maka beliau melakukan analisa mendalam perihal pergudangan sekaligus pertanian,” katanya.

Kalau mau dirinci, Nabi Yusuf merancang semuanya, soal gudang misalnya, bisa dilihat berapa gudang yang dibutuhkan, luas dan tinggi ruang gudang yang memadai, serta mampukah gudang itu menampung stok bahan makanan hingga 7 tahun lamanya.

Lebih jauh ini juga melibatkan kemampuan memastikan bagaimana bahan panan awet, tidak berjamur, tidak busuk, tidak dimakan tikus dan serangga. Termasuk di dalamnya manajemen pendistribusian, agar semua mendapatkan jatah bahan makanan yang tepat.

Kembali pada soal evaluasi untuk sukses Ramadhan, kalau memang target Ramadhan ini mau jadi insan bertaqwa, maka perencanaannya akan lebih mudah, karena taqwa itu sangat jelas.

“Taqwa itu sangat jelas. Kalaulah kembali kepada Al-Baqarah ayat 183, maka itu output yang harus dicapai oleh insan yang berpuasa. Sebagaimana orang terdahulu berpuasa,” urai Akib.

Kemudian, jika dihubungkan dengan Surah Ali Imran ayat 134 taqwa itu indikasinya ada output berupa perbuatan, yakni suka memberi.

“Kalau dilihat apa perbuatan (output) orang bertaqwa itu, satu di antaranya adalah gemar memberi. Memberi dia, mau dalam keadaan lapang maupun sempit. Baginya balasan Allah itu lebih utama daripada kalkulasi dirinya,” jelasnya.

Kata dia, banyak masalah orang di negeri ini bahkan di dunia terjadi karena output taqwa tidak muncul. Semua orang suka menerima daripada memberi. Bahkan kalau merasa yang diterima kurang ia akan menuntut dan melakukan hal-hal yang menurutnya dapat menjadikan penerimaannya terus meningkat.

“Padahal, kalau memang mau jadi orang bertaqwa lalu mindset memberi ini muncul, tidak ada itu pertengkaran, perkelahian, dan lain sebagainya. Oh, ini ada yang membutuhkan, ini saya berikan milik saya,” ucapnya mencontohkan.

Beres kehidupan ini kalau output taqwa memang berhasil dicapai, seperti target-target yang diperjuangkan untuk bisa dilampaui baik oleh manajemen perusahaan maupun oleh orang-orang yang memang memiliki rencana-rencana besar di dalam kehidupan ini.*/Imam Nawawi