Spirit Peradaban Ustad Abdullah Said

Tidak sedikit orang berwacana, bahkan dengan kecerdasan yang mumpuni disertai data yang memadai. Tetapi, begitu ditutup acara, seperti air yang dituangkan di tengah-tengah aspal, ia menguap entah ke mana.

Hal itulah yang menjadikan Ustaz Abdullah Said tak begitu tertarik dengan kecerdasan yang ditampilkan terus tapi tidak menggerakkan dan menguatkan dakwah. Itu juga yang mendorong beliau tak memilih menghimpun kekayaan lalu mendukung dakwah. Tapi beliau memilih menjadi pihak yang berjuang, memikirkan, mengamalkan, dan mengembangkan dakwah Islam. Tak boleh sendiri, harus berjamaah, maka dipilihlah pesantren sebagai wadah perjuangan.

Sebuah langkah strategis yang penuh hikmah dan pelajaran. Relevan dengan ungkapan bijak, “Jika kamu ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendiri. Tapi jika ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama.”

Sebenarnya Allah telah mengungkapkan bahwa orang Islam yang bisa berhimpun, berjamaah, solid, kokoh bak bangunan, yang satu dengan lainnya saling menguatkan sangat Allah cintai. Daripada sekedar sosok orang yang banyak bicara tapi kurang aksi nyata. Sebuah isyarat bahwa apa yang diperjuangkan oleh Allahuyarham Ustaz Abdullah Said adalah hal strategis, patut dijaga dan dikembangkan.

Oleh karena itu, teramatlah memprihatinkan jika ada kader yang kajian formalnya adalah kelembagaan, manhaj, namun dalam kehidupan sehari-hari, basis melihat kehidupan, perjuangan, justru lepas dari kenyataan indah yang telah Ustaz Abdullah Said wariskan.

Hidayatullah menghendaki setiap kader berbuat nyata dengan basis logika Ilahiyah yang dikukuhkan oleh argumen-argumen iman dan peradaban. Di sini, diskusi, cara bernarasi dan bahkan memilih diksi, bahkan saat bercanda sekalipun mengarah pada kebaikan-kebaikan iman dan persaudaraan. Bukan yang selainnya.

Pesan untuk Pemuda

Kapan sosok kader akan sampai pada kesadaran melihat apa pun dengan cara pandang Quran dan manhaj adalah ketika kualitas syahadatnya terjaga. Indikasinya ada dua menurut beliau dalam karyanya, “Kuliah Syahadat.”

“Apabila selesai dengan satu urusan, segeralah mengangkat urusan yang lain. Sibukkan diri dalam kegiatan, ambil dan pikul tanggungjawab sebanyak-banyaknya. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada, semua waktu punya harga yang tinggi, jangan dilewatkan. Kehilangan waktu sudah pasti kerugian dan kekalahan.” (lihat halaman 156).

Sebuah kriteria unggul yang kalau benar-benar menjadi karakter dalam diri setiap kader, Subhanallah, tentulah progresifitas itu akan hadir setiap kali kita berbicara, diskusi, apalagi bertindak nyata. Dalam situasi wabah seperti ini misalnya, Pemuda Hidayatullah itu harus hadir dan bertindak nyata, jangan lagi cerita apalagi sekedar berpanjang-panjang komentar pada hal-hal yang tak ada gunanya diperhatikan.

Indikasi kedua, “Kepada Tuhanmu, engkau pusatkan seluruh perhatian dan kekuatan untuk mencurahkan seluruh pinta dan harapan. Dengan demikian lewat ibadah, utamanya di tengah malam bisa dilakukan penyadapan haul dan quwwah Ilahi.” (halaman 156).

Itulah kunci utama untuk menjadikan jamaah ini benar-benar kokoh. Lebih lanjut Ustaz Abdullah Said menjelaskan.

“Manakala onderdil dan seluruh instrumen dalam diri organisasi tidak mengerti apa tugasnya, dan tidak bergerak bila tidak disuruh sebagai akibat kerapuhan manajemen atau program kerja yang sporadis serabutan – sibuk tetapi tidak mengarah maju ke depan, sistem kerja tidak melahirkan mekanisme yang lincah, bahkan proses pengambilan keputusan tidak merangsang dan tidak mendorong otak untuk inovatif dan kreatif – maka dapat dikatakan bahwa organisasi tersebut sedang tertimpa suatu akibat, sebagai hukuman, sama sekali bukan proses terminal.” (halaman 161).

Inilah spirit dan warisan yang telah dicontohkan oleh Ustaz Abdullah Said untuk kaum muda dimana pun berada. Peradaban itu seperti pohon yang baik, akarnya menghujam ke dalam bumi  dan cabangnya menjulang ke langit dan eksistensinya memberi buat berupa manfaat dan maslahat kepada kehidupan.

Itulah visi organisasi ini yang harus menjadikan setiap kader mulai sadar dan meningkatkan kualitas diri, mulai dari syahadat, ibadah, dakwah, tarbiyah, literasi, hingga amal-amal sosial secara nyata, terutama dalam situasi wabah seperti saat ini. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.