Hadapi Pandemi dengan Paduan Kekuatan

Guncangan hebat yang disebabkan oleh Covid-19 telah merugikan banyak negara di dunia. Amerika Serikat saja sebagai negara adidaya dunia harus menanggung beban pengangguran warganya pada enam pekan terakhir ini sebanyak 33,3 juta jiwa. Pada saat yang sama korban meninggal dunia karena terserang Covid-19 telah melampaui 75.000 jiwa.

Di sisi lain, rasionalitas dan kelapangan dada menjadi hal yang kian tak sejalan. Akibatnya tidak jarang sebuah kebijakan yang ditetapkan justru memancing masalah yang tak kalah runyam dari keadaan semula. Latvia misalnya, begitu pemerintah menetapkan pemotongan anggaran untuk Kementerian Kesehatan setempat, sang menteri, Ivar Eglitis lebih memilih mengundurkan diri. Baginya pemotongan anggaran itu hanya akan menjadikan layanan kesehatan yang dinahkodai olehnya akan berjalan percuma.

Pejabat tinggi kesehatan di Spanyol Yolanda Fuentes juga memilih mengundurkan diri pada 7 Mei 2020 dari jabatannya setelah masyarakat meminta pemerintah setempat melonggarkan lockdown di Madrid.

Fakta di atas memberikan sebuah sinyal penting bagi dunia bahwa telah terjadi tubrukan serius antara sains, politik, dan sosial masyarakat itu sendiri. Semua itu terjadi karena satu sama lain memandang dengan orientasi yang berbeda-beda. Akibatnya, mereka yang katakan lebih memahami secara mendalam sisi yang sedang terjadi, memilih untuk angkat tangan daripada situasi kian buruk.

Sementara, pihak yang melihat dengan orientasi lain dan memiliki otoritas untuk memberlakukan kebijakan, merasa bahwa situasi bisa disikapi dengan cara yang lebih longgar, santai, sehingga kelesuan ekonomi dan kepayahan sosial publik secara psikologis dapat teratasi. Namun sayangnya, semua itu dipandang tanpa melihat dan mempertimbangkan aspek dari keberadaan virus itu sendiri yang secara nyata telah banyak membunuh nyawa manusia.

Di Indonesia pun situasinya bisa dikatakan sebelas dua belas dengan apa yang terjadi pada beberapa negara di dunia. Bahkan belakangan isu pelonggaran PSBB telah mencuat dan mengambil perhatian publik cukup serius. Dan, seperti di negara-negara lainnya, para ahli dari beragam disiplin ilmu memandang, opsi pelonggaran PSBB benar-benar belum mendesak untuk diberlakukan. Terlebih jika memerhatikan sebaran virus yang sekalipun mulai landai di Jakarta, tetapi dikabarkan meningkat di sejumlah daerah.

Memadukan Kekuatan

Lantas apa yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Indonesia agar benar-benar lulus dari ujian pandemi ini?

Pertama pemerintah harus mampu memadukan kekuatan bangsa dan negara ini dengan melibatkan unsur penting di tengah-tengah masyarakat, mulai dari ahli, pemimpin ormas, tokoh masyarakat dan tokoh agama, termasuk organisasi kepemudaan untuk secara aktif melakukan diskusi dan memberikan saran yang diperlukan untuk mengatasi wabah Covid-19.

Langkah ini penting karena pada faktanya, pandemi ini tidak saja telah mengoyak-ngoyak kesehatan manusia, tetapi juga meruntuhkan kekuatan ekonomi masyarakat, bahkan belakangan mulai mengundang beragam tindak kejahatan yang meresahkan warga, seperti penjambretan dan perampokan.

Jika hal itu dilakukan, maka energi publik akan terarah pada pemahaman yang utuh dan dapat secara langsung kooperatif dengan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Jika tidak, dan negara atau pemerintah hanya berpandangan pada basis kebutuhan menguatkan ekonomi dengan tidak begitu memerhatikan aspek lainnya, bukan saja kritik dan penolakan yang akan dituai, beragam masalah baru pun akan bermunculan. Jika ini tejradi, sudah sangat jelas akan menjadikan pemerintah semakin tidak berdaya mengendalikan situasi.

Kedua, secara khusus pemerintah harus mengambil langkah cepat dengan melibatkan unsur tokoh agama, pemimpin ormas Islam, untuk mendorong anggota yang dipimpinnya dapat menjadi komunitas percontohan bebas Covid-19.

Hal ini sangat mungkin, karena dalam realitas nyaris semua ormas punya basis-basis kehidupan sosial atau sebut saja miniatur peradaban masyarakat, yang di dalamnya ada warga, masjid, toko, dan aktivitas sebagaimana di masyarakat, sehingga warga sekitar dapat meniru bagaimana pola hidup sehat dan bersih diterapkan secara langsung dan konkret. Dengan demikian pendekatan edukatif pemerintah untuk mendorong literasi masyarakat secara nyata dapat ditingkatkan dengan upaya ini.

Ketiga, untuk mengamankan potensi dan masalah sosial yang telah terjadi, pemerintah secara langsung dapat mengajak semua pihak, mulai dari sekolah, kampus, pesantren, masjid dan desa-desa yang secara kultur memadai dalam hal kekompakan untuk sama-sama melakukan aksi sosial secara nyata dengan saling membantu. Hal ini akan sangat membantu meredam potensi timbulnya aksi kejahatan sekaligus korban jiwa karena ditimpa kelaparan. Secara lebih cepat, langkah ini dapat dilakukan dengan sangat baik oleh Lembaga Amil Zakat di seluruh Indonesia.

Inilah sebuah jaring kekuatan yang secara kultur telah lama ada di negeri Indonesia. Sebuah keunggulan yang tidak ada di Amerika dan Eropa, atau pun China. Dan, menariknya, kultur itu adalah nafas peradaban rakyat Indonesia, karena bukan sekedar dibentuk atas kesadaran sosial, tapi juga dilegitimasi oleh nilai religius bangsa ini sejak berabad silam lamanya.

Apabila langkah ini dapat segera dikomunikasikan dan dilaksanakan, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara yang benar-benar lulus menghadapi pandemi ini dengan sebuah bonus yang amat penting bagi kemajuan bangsa dan negara, yakni bersatunya kembali jaring kekuatan sosial yang sejak dahulu telah tersedia dan hingga saat ini belum benar-benar digunakan. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.