Idealnya Sikap Mental Seorang Pemimpin Sebuah Negeri

Jika kepemimpinan dipandang sebagai amanah, maka sudab barang tentu seseorang akan sulit menduduki sebuah amanah alias jabatan, sedangkan dirinya tak peduli dengan kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Demikianlah dilakukan Umar bin Khathab, sehingga sepanjang kepemimpinan ia tak pernah santai apalagi bercanda dengan urusan-urusan keumatan. Sampai-sampai, ia harus rela memanggul sekarung gandum untuk membuktikan dirinya adalah pelayan rakyat.

Pernah suatu waktu, Amirul Mukminin itu berjalan-jalan ke pasar. Saat ia melihat sekelompok unta gemuk dan sehat, ia bertanya kepada penjaga pasar, “Kepunyaan siapa itu?”

Penjaga pasar mengatakan, “Itu milik putra Anda, wahai Amirul Mukminin.” Disangka Umar akan senang. “Dimana dia, suruh ke sini!” Begitu Umar memberikan respon.

“Mengapa untamu gemuk dan sehat. Ingat, jangan sampai karena kamu dipandang putra pemimpin lantas orang mengistimewakan kamu, sehingga orang akan memberikan porsi istimewa dari makanan yang tersedia di tanah milik umat ini. Jual dan ambi pokoknya saja. Ada pun keuntungannya, serahkan ke negara.”

Sebagai anak yang patuh, Abdullah bin Umar taat dan tersenyum bangga, memiliki seorang ayah yang menjadi pemimpin manusia tegas, adil, dan hati-hati di dalam menjaga keluarganya dari fitnah.

Demikianlah idealnya seorang pemimpin, fokus, konsentrasi, dan sungguh-sungguh di dalam menjalani amanah sebagai pelayan umat. Perhatiannya hanya pada keridhoan Allah dan kesejahteraan rakyat, sehingga tak sempat banyak bicara apalagi berkelakar yang tidak jelas.

Fokus Pada Kemampuan

Seorang pemimpin atau yang dipercaya mengemban urusan orang banyak harusnya fokus pada kemampuannya. 

Artinya, bekerjalah, berbicaralah, dan berkomentarlah pada apa yang menjadi domain masing-masing. Terlebih sekarang sudah tidak ada lagi orang bisa multitasking dalam hal kepemimpinan. Jika diamanahi urusan kesehatan, maka bicaralah dan bekerjalah sesungguh-sungguhnya di bidang itu. Jangan kesana kemari. Demikian pula pada pejabat yang diberi amanah pada bidang tertentu. 

Sebab ini tidak saja berlaku dalam level pemerintah, tetapi semua jenis organisasi, bahkan dalam level rumah tangga sekalipun. Seorang kepala rumah tangga tentunya harus bicara dan mampu melakukan kontrol terhadap ibadah dan akhlak istri dan anak. Sebaliknya seorang anak harus fokus mempertajam adab dan akhlak kala berinteraksi dengan orangtua. 

Apabila kemampuan yang dimiliki dan ditajamkan ternyata dibutuhkan bangsa dan negara, maka terhadap jiwa yang memang cakap dalam sebuah urusan, Islam bahkan memberikan bukti bahwa orang yang demikian “diperbolehkan” untuk mengajukan diri. Lebih-lebih jika situasi darurat dan benar-benar membutuhkan.

قَا لَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَآئِنِ الْاَ رْضِ ۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ

“Dia (Yusuf) berkata, Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf [12]: 55).

Ayat ini menegaskan bahwa jika memang ada kemampuan pada saat yang sama kondisi sangat membutuhkan, artinya memang dalam rangka menyelamatkan sebuah urusan besar, yang orang lain tidak mampu. Jadi, konteksnya bukan dalam situasi biasa dan cenderung ingin menikmati keadaan. 

Dalam situasi yang normal, Nabi Muhammad ﷺ jelas memberikan ketegasan. “Sesungguhnya kami, demi Allah tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada seorang pun yang memintanya, atau seorang pun yang sangat menginginkannya.” (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hal ini maka ada dua tugas yang melekat pada seorang pemimpin. Pertama harus mengetahui betul siapa sosok yang berkompeten dan bertanggungjawab. Di sini seorang pemimpin harus seperti raja Mesir, mau mendengar dan berdialog dengan orang yang kompeten. 

Kedua, memastikan bahwa dari setiap orang yang akan diberikan amanah adalah sosok yang memang tidak berhasrat, apalagi sampai mengemis jabatan. Dalam situasi menghadapi pandemi ini misalnya, langkah ini mutlak bahkan harus segera dijalankan. Jika tidak, kekacauan sudah barang tentu tidak lagi bisa dihindarkan. Semakin santai, apalagi dibiarkan, semakin jelas ketidakjelasan akan terjadi.

Kembali pada sosok Nabi Yusuf alayhissalam, fokus beliau dalam kepemimpinan adalah memastikan konsep, strategi dan langkah implementasi gerakan cocok tanam yang masif dan efektif. Pada saat yang sama menyiapkan model penyimpanan yang memadai, sehingga kala tiba musim paceklik (krisis pangan), stok pangan negara aman untuk memastikan seluruh rakyat tetap bisa hidup dengan baik.

Andai kata negeri ini menyadari sejarah ini dengan baik, maka sudah barang tentu penentuan siapa menduduki jabatan apa tidak akan menimbulkan kegaduhan. Karena kriterianya jelas, tugasnya fokus dan yang mengisi pun dinilai dan terbukti secara rasional setidaknya dapat mengemban amanah dengan sebaik-baiknya. 

Jika ditarik dalam konteks ke-Indonesia-an yang sudah demikian keadaannya, langkah paling mungkin adalah segeralah menyadari bahwa amanah kepemimpinan ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala. Sadar, bangkit, dan bekerjalah sungguh-sungguh untuk mensejahterakan rakyat, setidak-tidaknya, jangan membingungkan rakyat. 

Saya rasa tidak ada kata terlambat, segera saja lakukan, insya Allah kebaikan akan segera datang dengan izin-Nya. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.