Unggul dalam Pergerakan

Kita memang harus merespon apa yang terus berkembang, terlebih segala hal yang secara langsung berdampak bagi kelangsungan hidup umat Islam di negeri ini, seperti hadirnya RUU kontroversial seperti RUU HIP hingga beragam isu yang secara terang seakan menginjak-injak nilai luhur dan adat ke-Timur-an yang selama ini hidup di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, hal mendasar yang mesti dipahami, bagaimanapun apa yang belakangan muncul tak lebih dari sebuah akibat atau konsekuensi logis dari ketidaksigapan pergerakan umat di dalam konstalasi politik di negeri ini. Dalam kata lain, apa yang belakangan terjadi adalah buah dari upaya gerakan konkret beragam pihak dengan pemahaman atau isme yang tentu saja kering bahkan nir dari nilai-nilai adab dan kemanusiaan.

Menghadapi situasi seperti ini, langkah yang harus ditempuh minimal dua. Pertama terus merespon dengan basis data dan argumen yang superior melalui beragam saluran yang sah secara konstitusional. Kedua, terus menguatkan gerakan pembangunan sumber daya manusia yang spirit dan idealismenya tak dapat ditukar oleh apapun juga. Sebab, sebuah bangsa dan negara akan tetap utuh dan tegak berdiri, selama generasi mudanya memiliki spirit hidup sebagaimana para pendiri bangsa tegak dan berdiri menghadapi hegemoni penjajah.

Ibn Khaldun menjabarkan bahwa sebuah peradaban akan segera runtuh jika generasi pelanjutnya hanya mampu menjadi penerus dengan mental penikmat, bukan pejuang yang siap berkorban habis-habisan. Ini berarti, langkah ke dua sangat menentukan hidup dan matinya gerakan umat Islam di negeri ini di masa mendatang.

Langkah kedua cenderung tidak populer namun penting dan menentukan. Seperti yang diambil oleh Al-Ghazali dalam merespon kelemahan umat Islam dalam menghadapi tentara Salib. Anehnya, di dalam karya besarnya, Ihya‘ Ulumiddin, Al-Ghazali tidak menulis satu bab tentang jihad. Malah, dalam kitab yang ditulis sekitar masa Perang Salib itu, Al-Ghazali menekankan pentingnya apa yang disebut jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu). Akan tetapi dari jihad melawan hawa nafsu itulah segala kebaikan yang dibutuhkan dalam jihad dalam arti turun ke medan laga benar-benar dapat disambut penuh antusias oleh kaum Muslimin.

Relevan dengan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad ﷺ “Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat mudghah. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Itulah al-qalb.” (HR Muslim). 

Meneguhkan hati dan hadirnya idealisme serta visi sejati seorang Muslim tidak bisa tidak harus dengan ilmu. Dalam kajian Ustadz Abdullah Said itu perlu dilakukan dengan meresapi dan menginternalisasikan makna dari Iqra’ Bismirabbik, sampai pada tahap dimana tidak ada keraguan sedikit pun akan pertolongan Allah Ta’ala.

Dan, itu sebenarnya telah diteladankan oleh Nabi ﷺ kala umat Islam masih lemah, sedikit, dan harus sabar di dalam menghadapi keganasan dan kebiadaban orang kafir dari kalangan Quraisy. Kala itu, Nabi ﷺ tidak merespon langsung kekejaman dan kejahatan pembesar Quraisy.

Namun demikian beliau tak berhenti menempa lahirnya generasi yang tangguh iman dan syahadatnya, sehingga dalam situasi sulit seperti itu dakwah bergulir seperti angin yang berhembus. Bahkan beberapa kader terbaik berhasil dikirimkan menguatkan dakwah ke Yatsrib yang kemudian menjadi Madinah. Satu di antaranya adalah sosok pemuda bernama Mush’ab bin Umair, hingga kala tiba masa Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, tidak sedikit anak-anak remaja Madinah yang hafal sebagian besar dari ayat Al-Qur’an yang telah diwahyukan.  

Masa 13 tahun di Makkah memang terlihat seakan umat Islam tidak ada perlawanan, namun di sana pesona Islam sebagai agama sekaligus peradaban terus bersinar, hingga para pembesar Quraisy seperti Umar bin Khathab masuk Islam. Artinya, dalam konsentrasi membina iman dan Islam kaum Muslimin cahaya Islam tak mampu dihadang oleh kebengisan kaum kafir Quraisy. Justru sebaliknya, banyak orang yang tertarik dan menjadi Muslim yang tangguh dalam keimanan.

Pada saatnya, kala dua tahun telah berada di Madinah dan panggilan jihad dikumandangkan, kaum Muslimin telah siaga dan berangkat dengan gagah berani. Terbukti 313 umat Islam mampu mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy. Sayangnya tidak sedikit yang memahami bahwa fakta kemenangan di Perang Badar bukanlah hasil gagah-gagahan, tapi penempaan panjang kaum Muslimin dalam mengamalkan nilai dan ajaran Islam. Sebab betapa pun jihad adalah satu amal mulia, tapi tanpa kemuliaan pelakunya, kemuliaan jihad akan sirna.

Dengan demikian, jika pemuda Islam ingin unggul dalam gerakan masa depan harus mengambil dua langkah sekaligus dengan penekanan lebih kuat pada upaya melahirkan manusia-manusia yang kokoh aqidah dan keimanannya, sehingga kala tiba masa untuk bertarung dalam konteks peradaban, mentalitas kader muda umat benar-benar telah siap dan cakap untuk menjawabnya.

Jika tidak, boleh jadi umat ini akan terus menjadi “tukang” respon dimana tidak ada agenda utama yang bersifat strategis dan dapat diandalkan dalam jangka panjang guna meraih kemenangan dakwah dan pendidikan.

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.