Peradaban Islam yang Kian Dekat

Memperhatikan beragam dinamika mutakhir, baik global maupun nasional, tanda-tanda kebangkitan peradaban Islam semakin dekat. Hal itu ditandai oleh dua hal, pertama berskala global, yakni kembalinya Masjid Aya Sofya. Kedua, berskala nasional, yakni meningkatnya kesadaran umat untuk berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

Kembalinya Aya Sofya ternyata bukan semata menghadirkan euforia, tetapi komitmen lebih membaja dari Turki dalam beragam aksi-aksi nyata kemanusiaan. Dikabarkan, ketika ledakan besar terjadi di Lebanon, Turki adalah negara yang telah mengirimkan bantuan; medis dan kemanusiaan.

Sedikitnya 20 dokter dan 400 ton gandumg telah dikirom oleh Turki ke Beiurt pada Rabu, 6 Agustus 2020, tepat sehari setelah ledakan terjadi. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Mehmet Nuri Ersoy mengatakan di twitter bahwa Turki telah “mengambil tindakan untuk menyembuhkan luka Lebanon.”

Kita memahami bersama bahwa asas peradaban adalah iman. Iman itu menghunjam dalam batin dan sistem kesadaran manusia sehingga melahirkan tindakan-tindakan yang hakikatnya adalah manifestasi dari keimanan itu sendiri. Tidak bisa dimungkiri bahwa peradaban Islam terbaik adalah di masa Rasulullah ﷺ. Namun, penting juga diperhatikan bahwa capaian-capaian intelektual yang menghadirkan kekuatan, pengaruh, sekaligus kemajuan adalah bagian dari prestasi gemilang dari sejarah panjang peradaban Islam itu sendiri.

Tentu saja masyarakat dunia sebagian tersentak, bahwa Aya Sofya ternyata sebuah masjid yang penuh spirit dan sejarah. Di saat yang sama, dunia mulai melihat secara telanjang bahwa Spanyol dahulu adalah pusat peradaban Islam terbesar di Eropa yang nyaris semua masjidnya kini berubah menjadi katedral.

Kondisi itu, cepat atau lambat akan memantik kesadaran sekaligus ketertarikan umat manusia dan tentu saja umat Islam itu sendiri untuk selanjutnya meningkatkan kualitas ber-Islam-nya dari sekedar ritual menjadi intelektual dan spiritual secara fundamental. Dalam kata yang lain, cara beragama Islam seperti era 80-an akan menemui masa akhir, dimana kala itu agama dipandang cukup hanya sarungan dan wiridan dan bermain di wilayah-wilayah pinggiran.

Terlebih, Turki secara nyata menjadi negara yang kini terdepan merespon kejadian mengerikan di Beirut. Artinya mulai tampak hadirnya sebuah entitas dari kekuatan umat Islam yang secara peradaban jauh lebih patut dibanggakan sekaligus dipelajari, karena saat dunia sibuk dengan isu Corona, ternyata Turki mampu hadir menggelontorkan biaya yang tidak sedikit untuk membantu mereka yang terluka, yang disebutkan mencapai 5000 orang di Beirut.

Dari sini kita dapat memetik pelajaran langsung bahwa spirit ibadah di masjid, kebanggaan terhadap masjid harus mendorong umat ini semakin terdepan dalam merespon kesulitan dan kesusahan yang terjadi di berbagai negara di belahan dunia. Namun, itu dapat diwujudkan manakala umat Islam mampu memadukan dua kekuatan sekaligus, religiusitas dan kekuasaan. Turki adalah contoh terkini, bagaimana sebuah nilai dapat dimanivestasikan dengan gagah berani.

Kemudian skala nasional dimana masyarakat kembali menemukan figur penting di dalam membangun bangsa dan negara merupakan sebuah fenomena yang tidak bisa dianggap biasa. Betapa tidak, dalam situasi carut-marut politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan, para intelektual bangsa bahkan ulama telah terdepan sejak lama menyuarakan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Sekalipun dalam upaya tersebut, sebagian berhadapan dengan tantangan berat. Namun konsentrasi, fokus, bahkan spirit untuk terus memperjuangkan nilai-nilai Islam semakin menyala-nyala. Tampak memang harus menerima ketidakadilan dari sisi hukum, namun itu bukan seperti malam yang menyapu sinar mentari, lebih seperti sebuah intan yang dibakar, ditempa, dan diproses untuk menjadi perhiasan terbaik di dunia.

Bisa diibaratkan, apa yang belakangan diterima oleh umat Islam, terutama oleh para tokoh, intelektual dan ulama seperti apa yang harus dialami umat Islam di masa Makkah, lemah dan tak berdaya. Namun kesadaran, visi, dan karakter yang dibangun semakin menguat dan menunjukkan warna ke-Islam-an. Dalam kata yang lain, babak baru keberIslaman umat Islam di Indonesia sedang berlangsung dan ini akan terus meningkat, bahkan mungkin meroket untuk selanjutnya memberi warna bahkan arah bagaimana membawa negeri ini maju, sejahtera dan berpengaruh di kancah internasional, seperti yang kini telah dicapai oleh Turki.

Meminjam cara berpikir Durkheim (Sosiolog) apa yang sedang berlangsung di Tanah Air hakikatnya adalah fakta sosial yang belakangan terbentuk adalah menguatkan kesadaran publik akan moralitas yang akan terus menggumpal bahkan mengkristal. Dimana semakin tidak amanah para pengelola kebijakan, kekuatan moral itu akan semakin kuat dan menjulang ke langit.*

Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.