Mengimplementasikan Qum Faandzir Secara Kaffah

Situasi dan kondisi bangsa kini memanggil nurani, akal, bahkan keberanian untuk hadir. Namun, hal yang sangat mendasar penting hadir sebelum semua itu dilakukan adalah kesadaran, persatuan, dan tentu saja strategi perjuangan.

Jika merujuk pada historis kenabian, utamanya dalam kajian Sistematika Wahyu ada surah Al-Mudatstsir, yang satu ayatnya berbunyi, “Qum Faandzir.”

Ibn Katsir menuliskan, maksud dari Qum Faandzir adalah, “Bangun, lalu berilah peringatan.”

Kemudian dilanjutkan, maksudnya adalah “Bersiaplah untuk menyatukan tekad dan berikanlah peringatan kepada ummat manusia sehingga semua ini akan mencapai misi kerasulan..”

Ayat ini tentu saja tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian yang sistematis setelah diturunkannya perintah membaca dengan nama Tuhan, kemudian jaminan kepastian bahwa orang yang ber-Quran tidak akan pernah tersentuh oleh kegilaan, serta metode bagaimana menjadikan jiwa dan pikiran jernih, tenang, dan benar-benar terkoneksi dengan kehendak Tuhan.

Oleh karena itu, makna Qum Faandzir sejatinya bisa diperluas dari apa yang telah dikemukakan Ibn Katsir dengan merangkai atau menghubungkan rangkaian makna dari tiga surah yang turun sebelumnya, yakni Al-Alaq, Al-Qolam, dan Al-Muzzammil.

Di sini menjadi relevan jika kemudian Suharsono dalam bukunya Membangun Peradaban Islam menjabarkan bahwa yang dimaksud Qum Faandzir di antara makna dan maksud yang tidak kalah kuat adalah, “Bangun intelektual dan hadirlah sebagai juru bicara peradaban.”

Dijelaskan lebih lanjut bahwa perintah bangkit dan berikan peringatan itu mengharuskan Rasulullah ﷺ bersama sahabat membangun kerangka kerja dakwah, dengan melihat secara visional bahwa masyarakat Arab Jahiliyah adalah objek dakwah, bukan musuh yang harus dilenyapkan.

Di sini penting disadari perlunya “rancang bangun” gerakan dakwah dalam suatu gerakan organisasi. Dalam kata yang lain, hal-hal yang sifatnya sporadis dan segmentatif tidak semestinya menjadikan kita kehilangan orientasi dasar dan kelunturan di dalam bergerak di atas kerangka kerja yang telah dibangun sedemikian kokoh dalam konsep manhaji.

Sisi yang kemudian sangat kuat kaitannya dengan bahasan di awal, yakni intelektualisme, sejarah menghadirkan fakta bahwa para sahabat dalam hal dakwah harus juga siap berdialog bahkan berdebat dengan siapapun, kapan pun dan dimanapun.

Sebagaimana dilakukan oleh Ja’far bin Abu Thalib kepada raja Habasyah yang hampir saja “terprovokasi” hasutan dari Amru bin Ash yang mendiskreditkan umat Islam yang berhijrah ke negeri Afrika itu.

Dengan demikian Qum Faandzir, tulis Suharsono, “juga merupakan perintah untuk “kebangkitan intelektual” Umat Islam.” (halaman 145).

Jika kita tarik uraian di atas dengan situasi terkini, maka pemahaman akan hal ini sangatlah mendasar disamping juga sangat menentukan. Kita ketahui bahwa Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.”

Artinya, sikap cermat, mendalam di dalam membaca, menganalisis dan termasuk di dalamnya memilih sebuah tindakan adalah hal yang mutlak diperlukan. Tanpa itu, gerakan yang dilakukan akan tidak memadai dan tentu saja sulit untuk bisa efektif dan mengantarkan para pejuangnya pada keberhasilan.

Menarik apa yang dituliskan oleh Manshur Salbu dalam buku Mencetak Kader, “Hidup ini terlalu singkat, tidak cukup waktu untuk berspekulasi dengan mengadakan berbagai eksperimen guna menemukan satu metode perjuangan. Terlalu ceroboh bila kita nekad mencari sendiri metode perjuangan yang belum terjamin ketepatan, kejituan, dan kebenarannya. Apalagi bila kita mengulang-ulang menapaki jalur perjuangan yang terus-menerus menemui kegagalan di tengah perjalanan.” (halaman 187).

Dengan demikian, di tengah era digital, disaat manusia digempur loncatan informasi yang tidak beraturan, sangat penting bagi kader perjuangan lembaga memahami manhaj dengan sebaik-baiknya. Keadaan saat ini bisa saja mengubah apapun, namun satu hal yang menjadi pesan Ustadz Abdullah Said sebagaimana dikutip dalam buku Mencetak Kader (halaman 189) adalah, “Jangan ubah gaya dan irama perjuangan ini. Teruskan!” Allahu a’lam. 

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.