Syarat Utama Kebangkitan Kaum Muda

Banyak anak muda yang bisa menghadirkan kalimat-kalimat superlatif, namun mereka belum mengerti betul dimana dan bagaimana kaki hendaknya dipijakkan.

Heroisme itu bukan sekadar kalimat yang disusun seakan-akan tidak biasa, tapi juga terukur dari spirit dan ketajaman berpikir sang pemuda itu sendiri. Karena itu, muda bukan usia mentang-mentang.

“Mumpung masih muda. Kalau muda ya, begini. Salah-salah dikit tidak apa-apa, tabrak saja, jangan takut,” dan seterusnya. Dalam konteks gurauan, mungkin itu pemantik suasana yang dianggap perlu untuk sebuah diskusi yang lebih menantang.

Ketika seorang pemuda telah tersibghah dengan manhaj maka pikiran, tindakan, dan pilihan gerakannya bukan lagi sebatas populer yang mengundang applause para pemandang. Melainkan, bagaimana menghadirkan kesadaran menemukan kunci-kunci kebangkitan umat.

Seperti yang dituangkan oleh Salim Fillah dalam bukunya Sang Pengeran dan Janissary Terakhir. Di sana ditulis kisah dari Syaikh Dawud Al-Fathani, dari gurunya Syaikh Abdush Shomad Al-Falimbani bahwa telah ditanyakan kepada beliau oleh seorang ulama muda dari Jawi bernama Imam Abdullah Arif Al-Bederani.

Sisi yang menarik adalah dialog yang tertuang di antara keduanya, dimana kala itu kepemimpinan Turki Utsmani kian mengalami krisis dan krisis.

Saat ditanya, “Jadi menurut Sidi, Daulah Utsmaniyah akan berakhir?” Sang guru menjawab, “Barangkali belum dalam waktu dekat. Tapi tugas kita kini adalah segera mempersiapkan penggantinya agar ummat tidak mengalami kekosongan kepemimpinan yang membuat mereka menjadi mangsa bangsa-bangsa musuh Allah di luar sana.”

Dialog masih berlanjut, “Sejarah menunjukkan, kekosongan semacam itu pernah menimbulkan malapetakan dahsyat seperti Perang Salib Pertama dan penjajahan Mongol yang mengerikan.”

Dialog kian hangat kala dan sampailah pada pertanyaan apa yang harus dilakukan saat persatuan umat telah kecil peluangnya selain sulit untuk dikembalikan.

“Tidak begitu, ya Maulana. Sesungguhnya Allah memberikan amanat untuk menjayakan agama-Nya ini kepada sesiapa yang dipilih-Nya di antara hamba-Nya. Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

Dari sejarah dialog dua ulama di atas dapat kita temukan bahwa kunci kebangkitan kaum muda terletak pada dua hal.

Pertama, kesadarannya yang menyeluruh akan pentingnya kepemimpinan dalam setiap laju gerak pikir dan langkah.

Kedua, kesadaran penuh untuk terus memantaskan diri dalam rangka memenuhi syarat-syarat kebangkitan yang sejatinya akan Allah berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Bicara kepemimpinan, Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah dalam pidato penutupan Munas V Hidayatullah yang digelar secara virtual pada 31 Oktober 2020 menerangkan dengan gamblang.

Bahwa dalam upaya memilih dan menguatkan sistem kepemimpinan hal yang paling utama dilakukan oleh beliau adalah munajah. “Munajah yang tidak henti-hentinya,” tegasnya.

Lebih lanjut beliau tambahkan, “Tidak ada waktu untuk tidak bermunajah dalam perjalanan ini. Karena (kita ingin) Allah mengirim orang-orang yang terpilih. Ini melalui munajah, melalui istikharah.”

Jadi, masalah kepemimpinan bukan semata soal kecerdasan, jaringan, apalagi sekadar populer dan berkekuatan modal. Tetapi lebih pada sisi spiritual yang tumbuh dari kesadaran intelektual yang memadai, sehingga Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah dalam upaya menempatkan para kader dalam kepemimpinan lembaga tidak didasari semata oleh aspek empiris, tapi dipijakkan di atas landasan Islam yang paling utama, munajah dan istikharah.

Karena itu, sangat rugi jika ada kader muda di lembaga yang tidak tertarik “berlatih” dalam arus kepemimpinan yang disediakan, sekalipun dengan alasan yang sangat substansial, seperti telah mengemban amanah sebagai dai, guru atau lainnya. Apalagi sekedar karena satu alasan yang tidak substansial lalu memilih enjoy di luar arena perjuangan kepemimpinan. Pemuda Hidayatullah adalah wadah untuk calon pelanjut perjuangan lembaga mengenal dan memegang kunci-kunci kebangkitan.

Kedua, perihal memantaskan diri. Tentu kita tidak pernah tahu dan tidak akan ada yang tahu kecuali Allah memberi tahu, siapa yang kelak akan membawa umat ini sampai pada titik kebangkitan. Tapi satu hal, bahwa untuk ke sana ada tanda-tanda yang perlu dimiliki, yakni kesiapan mental suatu generasi.

Jika kita telusuri hingga di masa Nabi, maka satu pesan Nabi yang sangat luar biasa bagi anak muda adalah perihal pentingnya jiwa ini menjaga Allah.

Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi).

Jadi, hal utama yang harus kokoh dalam diri kaum muda selain kecerdasan dan ketangkasan adalah kekuatan keyakinan kepada Allah, bahwa hanya Allah tempat meminta, memohon dan mendapatkan ridha-Nya. Jika ini hadir, maka tidak sulit untuk menjadi insan bertaqwa. Kata Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah, jika ingin urusannya terus mendapat solusi, maka harus bertaqwa. Satu di antara upaya taqwa yang harus ditekankan adalah berinfaq.

Infaq bukan sekedar infaq, dalam pengertian umum. Kaum muda harus berani menginfaqkan waktu, energi, umur, harta, bahkan jiwa dalam sebuah kawah candradimuka yang dapat mengantarkan diri sampai pada kesadaran untuk tampil, mengambil peran dakwah dan tarbiyah umat. Inilah kunci-kunci kebangkitan umat terdahulu dan ini pula yang tetap akan menjadikan umat masa kini dan nanti unggul dan menyinari bumi, insha Allah.

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.