Begini Mestinya Sosok Seorang Pemuda

ilustrasi

Dalam Ihya Ulumuddin Imam Ghazali menulis bahwa orang yang dalam kesehariannya banyak menunda mengerjakan kebaikan serta nyaman dalam kelalaian maka ia akan disambar dengan mendadak pada saat diri tidak siap atau pun momentum yang tidak dikehendaki, sedangkan diri berlumuran dengan kerugian dan penyesalan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita temukan dengan mudah anak-anak muda yang katanya “mengisi waktu” namun dengan aktivitas yang tidak progresif apalagi membawa diri lebih beradab dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, waktu luang adalah kesempatan bermain (baca game), bukan bersungguh-sungguh menempa diri untuk berkarya.

Padahal, Allah Ta’ala telah anugerahi potensi dan kesempatan besar bagi setiap pemuda untuk hidup dengan amal dan karya yang bermanfaat besar bagi kehidupan. Namun, faktanya tidak banyak yang benar-benar menyadari dan mengamalkannya. Sebagian suka terbahak-bahak membahas hal yang receh. Di waktu yang lain, begitu mudah wajah mereka tampak sedih dan lesu, karena amat suka mengeluh, mudah pusing, lemas dan ujung-ujungnya banyak waktu terbuang percuma.

Di sini kita harus mulai melihat diri secara lebih objektif, apakah benar diri adalah sosok muda yang bertenaga atau justru sosok muda yang hanya bernostalgia?

Jika benar sosok muda bertenaga, maka langkah yang diambil dengan segera adalah mengisi hari-hari penuh perjuangan, produktivitas, dan manfaat bagi kehidupan. Tidak berfoya-foya dan berleha-leha. Dalam konteks sejarah Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said tidak mau ketinggalan manfaat walau pun hanya sedetik.

Terlebih dengan manhaj Sistematika Wahyu dimana ada perintah Iqra’ Bismirabbik, semestinya kita setiap saat membaca, berpikir, berdzikir, kemudian belajar, bergerak dengan sebaiko-baiknya, tak sebatas pada diri sendiri tapi juga mengajak yang lain, sehingga hari-hari kita adalah hari-hari penuh tenaga karena setiap gerakan dilakukan secara sistematis dan berjama’ah.

Kita perlu kembali meluangkan waktu bahkan memprioritaskan untuk membuka lembar demi lembar kehidupan Usama bin Zaid. Ia adalah sosok sahabat Nabi yang masih remaja, setiap hari aktivitas utamanya adalah menyimak taujih dari Nabi, menemani Nabi menerima delegasi dari berbagai kabilah yang silih berganti datang ke Madinah.

Pada akhirnya Usamah diberi kesempatan ikut serta dalam ekspedisi militer ke Tabuk. Kemudian, karena konsisteni dan produktivitas Usamah, akhirnya Nabi malah menunjuk pemuda itu sebagai panglimanya.

Usamah memimpin banyak sahabat senior, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, seperti Abu Bakar, Umar, Sa’ad bin Abi Waqash dan lainnya. Begitulah Usamah bin Zaid.

Apakah hanya Usamah yang demikian? Tidak! Aid Al-Qarni dalam La Tahzan menjelaskan bahwa tidak sedikit para sahabat Nabi yang masih muda tak lagi sempat merasakan masa mudanya untuk hal yang tidak perlu. Mereka terus sibuk dalam majelis ilmu, majelis ibadah, dan majelis jihad di medang perang. Hingga ada sebuah syair menyatakan, “Kilatan pedang-pedang itu laksana bayangan bunga di kebun hijau dan menebarkan bau wangi yang semerbak.”

Dengan demikian, kaum muda sadar dan bangkitlah. Rentang waktu diri dikatakan muda tidaklah panjang, bahkan kita tidak tahu kapan ujung usia datang. Jadi, mari kembali pada dasar-dasar kemuliaan yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sekiranya diri ini lemah ketika masih muda dalam intelektualitas dan spiritualitas, setidak-tidaknya jangan mengubur potensi diri dengan banyak keluh kesah, permainan yang melalaikan. Perbanyaklah amal sholeh. Sungguh banyaknya amal sholeh akan menyelamatkan diri dari hidup tanpa arti. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.