Halaqah Spesial Mahasiswa Hidayatullah di Khartoum

20160320234821Hidayatullah.or.id – Dalam rangkaian kunjungan ke Sudan, rombongan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah mengkhususkan waktu untuk duduk berhalaqah dengan para mahasiswa kader setiap pagi usai shalat Subuh.

Selalu dimulai dengan membaca, menterjemahkan kata per-kata dan metadabburi ayat-ayat Al-Quran, halaqah itu lalu diisi dengan materi-materi khusus sesuai bidang tugas para anggota DPP Hidayatullah.

Pemateri pertama, Ketua Umum Ustadz Nashirul Haq, membawakan tema sejarah, visi dan misi dakwah. Lembaga ini lahir bukan secara kebetulan, bukan ikut-ikutan. Bukan pula hanya menambah jumlah pesantren dan ormas Islam yang ada.

“Hidayatullah lahir dari sebuah visi besar Ustadz Abdullah Said –semoga Allah menyayangi beliau– yang kemudian melahirkan gerakan perjuangan Islam yang saat ini hendak ikut membangun peradaban Islam,” jelasnya.

Dalam mengejawantahkan visi itu, Hidayatullah mengusung sejumlah misi. Pertama, melahirkan kader-kader yang berkualitas dari segi keilmuan, spiritulitas, moralitas, dan yang lain. Hidayatullah pun menjadikan tarbiyah dan dakwah sebagai mainstream gerakannya.

Misi kedua, membangun komunitas Islam dan jamaah yang solid dari berbagai instrumen kemasyarakatan. Misi ketiga, melaksanakan kegiatan keislaman termasuk melalui berbagai organisasi otonomnya.

Misi keempat, membangun sinergi dan kerjasama dengan seluruh komponen umat Islam ahlu sunnah wal jamaah untuk hal-hal yang memang bisa disinergikan. Misi kelima, mengajak pemerintah dan masyarakat untuk bersama membangun peradaban Islam.

Pemuda 20 Tahunan

Ustadz Nashirul Haq mengungkap sejarah singkat kelahiran Hidayatullah. Sekitar 44 tahun yang silam, Ustadz Abdullah Said yang hijrah dari Makassar ke Balikpapan merintis da’wahnya dalam bentuk berbagai pelatihan. Bahkan dalam bentuk kursus bahasa Arab dan Inggris.

Namun inti dari semua kegiatan itu menyampaikan risalah Tauhid lewat kajian-kajian Al-Quran sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah. Ustadz Abdullah Said dan para perintis Hidayatullah waktu itu adalah anak-anak muda berusia 20-an dengan semangat baja dan cita-cita menjulang tinggi.

“Jadi waktu itu beliau dan kawan-kawan memulai pekerjaan besar yang kita rasakan hasilnya 40 tahun kemudian. Ini harus jadi motivasi untuk Antum pada usia yang sama sudah menghasilkan karya apa?,” tantang Ust. Nashirul kepada para kader mahasiswa di Khartoum.

Dalam perjalanannya, da’wah Hidayatullah dimulai dari kota Balikpapan, lalu berpindah ke desa Gunung Tembak, kawasan pinggiran 32 kilometer dari kota.  Di tempat inilah Ust. Abdullah Said dan kawan-kawan, menuangkan seluruh yang menjadi cita-citanya tentang masyarakat Islam di kampus seluas 150 hektar.

Gunung Tembak sering disebut sebagai “alat peraga Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamiin”. Seiring berkembangnya da’wah, sehingga jaringan di seluruh Indonesia berjumlah ratusan, Hidayatullah merasa perlu memilih pakaian yang lebih mudah dipahami kebanyakan masyarakat.

Maka, dipilihlah format organisasi massa sebagai penghubung mata rantai persaudaraan gerakan da’wah yang sudah menyebar. Intinya tetap sama: lembaga perjuangan menyebarkan Rahmat Allah berupa Islam.

Pemateri kedua, Ustadz Wahyu Rahman, Bendahara Umum sekaligus CEO BMH, menyampaikan tema mencetak kader dan mengembangan jaringan da’wah.

Pria yang sudah malang melintang ditugaskan membangun lembaga da’wah dari Sulawesi, Aceh sampai Jakarta ini menekankan proses Tazkiyah (pensucian jiwa) sebagai pangkal langkah semua gerakan. Tazkiyah sangat vital untuk mengikis kesombongan dalam jiwa seorang da’i.
“Sebab kesombongan itu akan menghalangi cahaya ilmu yang berasal dari Wahyu Allah,” ujar Ust. Wahyu.

Ditambahkannya, medan da’wah yang baik justru yang memberikan banyak benturan dan rintangan bagi seorang da’i supaya dirinya semakin mendekat dan bergantung hanya kepada Allah.

Sudan Bagus untuk Tazkiyah

Dalam pandangan Ust. Wahyu, kondisi Sudan menurutnya sangat baik bagi para kader mahasiswa calon da’i dan ulama.

“Sudan ini lahan yang subur untuk mentazkiyah diri. Cuaca panas, airnya kurang, makanannya kurang, cocok dengan kita,” tukas Ust. Wahyu yang murah senyum.

Suasana di Sudan, lanjutnya, sepatutnya dimanfaatkan oleh para mahasiswa untuk menggerakkan, menginspirasi, dan membangun kesadaran dengan keilmuan mereka.

Sebagaimana telah dialami Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perjalanan da’wahnya, beliau ditempa oleh berbagai keadaan yang susah dan berat. “Maka lahirlah kader-kader da’wah beliau yang hebat,” jelas Ust. Wahyu.

Pemateri ketiga, Asih Subagio, Kepala Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah, yang menyampaikan tema tentang Sikap Mental Kader terhadap Harta dan Bagaimana Mengelola Sumberdaya Harta Gerakan Da’wah.

Ia mengatakan, almarhum Ust. Abdullah Said membangun jiwa kader yang mandiri sejak awal, yang sangat diperlukan bagi mental kewirausahaan.
Fase berdagang yang dilalui Muhammad muda sebelum diresmikan sebagai Utusan Allah, itu suatu fase yang luar biasa, kata Asih yang seorang pengusaha bidang teknologi informasi.

“Prinsip dagang, sekali Antum melakukan kecurangan, selamanya orang susah mempercayai Antum. Pilihan Antum cuma dua, jujur atau hancur,” tegas Asih, merupakan prinsip yang sangat vital bagi seorang kader.

Ia menjelaskan, Rasulullah diberi predikat Al-Amin (yang dipercaya) oleh masyarakat Arab saat beliau menjadi seorang pedagang.

Asih juga mengingatkan, delapan dari sepuluh Sahabat Rasulullah yang dijamin masuk Syurga adalah pedagang.  Asih mendorong agar para kader mahasiswa, selain tekun menuntut ilmu juga mengembangkan jiwa dan pengalaman wirausahanya.

Pemateri terakhir, Dzikrullah dari Departemen Luar Negeri yang membawakan tema Riset sebagai Alat Penting Mengenal Medan Da’wah.  Materi ini memberikan pengantar pengetahuan tentang pentingnya para kader da’wah memiliki keterampilan mengumpulkan, mengelola, menganalisa dan menyebarluaskan informasi demi memaksimalkan efek da’wah.

Para mahasiswa kader di Sudan menyatakan sangat gembira dengan program kunjungan dan halaqah-halaqah spesial ini.

“Kami berharap kunjungan seperti ini dilakukan secara rutin setahun sekali,” kata salah seorang mahasiswa kader, sembari mengingatkan agar siapapun yang akan berkunjung berkenan membawakan kardus berisi kecap, sambal botol, dan makanan apa saja khas Indonesia yang selalu dirindu-rindu oleh lidah para mahasiswa di perantauan.* (Hidayatullah.or.id)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.