Silaturrahim dengan Pengurus Masjid Jogokariyan Yogyakarta

Hidayaullah.or.id – Pengurus Masjid Jogokariyan Yogyakarta yang ditetapkan sebagai Masjid Percontohan Nasional oleh Kementrian Agama RI, melakukan anjangsana silaturrahim ke kantor DPP Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I/14 Jakarta, Selasa (11/07/2017).

Rombongan pengurus Masjid Jogokariyan Yogyakarta ini disambut hangat Ketua Umum DPP Hidayaullah Ust Nashirul Haq yang turut didampingi Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto beserta sejumlah jajaran pengurus DPP lainnya.

Pada kesempatan tersebut Pengurus Masjid Jogokariyan turut dibersamai para manajemen perusahaan Penerbit Pro-u Media dan sejumlah penulis dimana kunjungan juga sekaligus merupakan rangkaian Tur Syawalan @proumedia.

Pengasuh Majelis Jejak Nabi yang juga merupakan aktifis dan pengurus Masjid Jogokariyan, Ustadz Salim A. Fillah yang memimpin rombongan mengawali perjumpaan tersebut dengan memperkenalkan satu-persatu rekannya.

Dengan gayanya yang santai dan khas, Salim A Fillah menyebut Hidayatullah baginya tidak asing lagi dan layaknya rumah sendiri.

Salim bercerita kerap mampir atau bersilaturrahim ke kampus-kampus Hidayatullah yang tersebar terutama apabila sedang keluar kota. Seraya berdoa jalinan ukhuwah tersebut senantiasa terawat dan mendapat berkah serta ridha Allah Ta’aala.

Sementara itu Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, mengapresiasi dan menyambut hangat kunjungan tersebut. Adalah kebahagiaan bagi Hidayatullah apabila mendapatkan kunjungan silaturrahim seperti ini.

“Silaturrahim memang penting dilakukan dan selalu dijaga. Di Hidayatullah, kegiatan seperti silaturrahim Syawal seperti ini sudah menjadi kegiatan kultural yang rutin dilakukan dari tahun ke tahun,” kata Ust Nashirul seraya menambahkan baru saja menghadiri acara silaturrahim kader Hidayatullah se Indonesia Timur yang digelar di Balikpapan.

Ust. Nashirul Haq bercerita tentang kebahagiaannya menyaksikan bangkitnya semangat mempelajari dan mengamalkan Islam di berbagai kalangan.

“Di bulan Ramadhan kemarin, jamaah itikaf lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya, dan semakin banyak yang shalat berjamaah di Masjid. Di beberapa tempat, jamaah Shalat Subuh sudah hampir sama banyaknya dengan Shalat Jum’at,” katanya.

Yang menarik juga, menurut beliau, di beberapa pesantren Hidayatullah, jamaah Shalat Jum’atnya justru lebih sedikit ketimbang Shalat Subuh. Alasannya adalah karena banyak da’inya yang menjadi Khatib Jum at di masjid-masjid lain.

Pertemuan itu juga membahas tentang pernikahan massal mubarak yang dipelopori oleh Hidayatullah sejak awal-awal perintisannya. Tema itu terlintas karena bulan Syawal seperti sekarang marak acara walimah.

“Alhamdulillah, tradisi ini terus kita rawat sampai hari ini. Meskipun dinamikanya berbeda. Dulu teknologi komunikasi masih sangat terbatas, sekarang serba mudah diakses,” kata Nashirul.

Kendati mengalami modernisasi dan perubahan pola interaksi semacam itu, Nashirul mengatakan, tradisi pernikahan massal di Hidayatullah tetap menganut tradisi sebagaimana warisan pendahulu yang selaras dengan syariat Islam.

“Walaupun sekarang sudah ada Facebook, ada WhatsApp, tetapi kesiapan santri untuk mengikuti pernikahan ala Hidayatullah ini luar biasa. Selalu antusias,” ungkapnya disambut senyum semringah seisi ruangan.

“Ayo, yang mau daftar,” celetuk salah satu hadirin.

Ust Nashirul mengungkapkan, dari banyak wawancara yang pernah dilakukannya kepada peserta saat dirinya menjadi tim penyelaras pernikahan, ditemukan fakta menarik bahwa umumnya mereka tidak menonjolkan kriteria fisik.

“Biasanya mereka (peserta) mempercayakan sepenuhnya kepada panitia tentang siapa kelak calon suami atau istrinya. Setelah menikah kemudian ditugaskan,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu sempat mengemuka pembahasan tentang poligami (taaddud) ketika salah seorang rombongan pengurus Masjid Jogokariyan bertanya setengah berkelakar, apakah Hidayatullah merencanakan juga mengadakan program “Taddud Barakah”.

Mendengar itu, sontak seisi ruangan pertemuan DPP Hidayatullah riuh. Ust Nashirul lalu menimpali bahwa Sunnah Nabi tersebut belum menjadi kultur di Hidayatullah.

“Tapi pelan-pelan kesadaran untuk itu sudah mulai terlihat,” seloroh beliau

Turut hadir pada kesempatan tersebut diantaranya CEO Pro-U Media Muhammad Fanni Rahman, Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI Shofwan Al Banna Choiruzzad, penulis buku-buku best seller Faudzil Adhim. Juga hadir penulis Proumedia Solikhin Abu Izzuddin dan Akmal Sjafril yang juga pendiri gerakan Indonesia Tanpa JIL (ITJ).

Sementara jajaran DPP Hidayatullah hadir Ketua Bidang Tarbiyah Tasyrif Amin, Ketua Bidang Pelayanan Ummat Fathul Adhim, Ketua Departemen Luar Negeri Dzikrullah W. Pramudya, Ketua Departemen Wakaf dan Kehartabendaan Syaefullah Hamid, Ketua Departemen Sosial Muhammad Arasy, Kabiro Humas Mahladi Murni, Kabiro Hukum Dudung A. Abdullah, Kabiro Umum Muhammad Musyafir dan Kepala Kantor dan Kerumahtanggan Sofjan Sumlang. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.