Internalisasi Sistematika Wahyu Menjaga Ritme Hidayatullah

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SUKABUMI (Hidayatullah.or.id) – Melalui prakarsa dan dukungan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Syabab Hidayatullah menggelar acara silaturrahim kader dai-daiyah Hidayatullah di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Ar Raayah, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (13/10/2017).

Acara tersebut turut dihadiri oleh anggota DPP Hidayatullah diantaranya Ketua Bidang Organisasi Ust Khairil Bais dan Ketua Departemen SDI Ust Abdul Muhaimin memberikan taushiah spirit kelembagaan oleh anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust Akib Junaid.

Turut membersamai rombongan senior tersebut yakni Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah Suhardi Sukiman, Kadep Dakwah Perkaderan La Ilman, dan Kadep Organisasi PP Syabab Hidayatullah Ahmad Muzakky.

Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust Akib Junaid dalam taushiah kelembagaannya mengatakan setiap orang Hidayatullah, baik kader biologis maupun ideologis, harus memahami konsep gerakan Hidayatullah yaitu Sistematika Wahyu (SW).

Sebab, lanjutnya, dengan pemahaman yang benar terhadap SW sebagaimana diharapkan oleh para pendahulu (assaabiqunal awwalun), maka Insya Allah ritme gerakan Hidayatullah akan selalu terjaga.

Masa depan perjalanan dakwah ke depan menurut Akib sangatlah cerah dengan segala dinamikanya. Masa depan cerah tersebut dapat diteropong dan digapai manakala kader telah menginternalisasi nilai-nilai manhaj Sistematika Wahyu sebagai pijakan dalam penyelenggaraan dakwah.

Akib menyebutkan, pada awalnya Hidayatullah berdiri adalah sebentuk pondok pesantren dan hingga kini corak itu terus dirawat dengan baik. Namun, kata Akib, pesantren ala Hidayatullah ini sebenarnya sangat berbeda dengan pesantren-pesantren yang ada pada umumnya.

Jika pesantren umumnya memiliki tradisi mengkaji dengan penerapan pola pendidikan yang sangat dinamis, Ponpes Hidayatullah santri lebih banyak diarahkan bekerja praktik lapangan yang biasanya dengan infrastruktur yang juga amat terbatas.

Bukan itu saja. Jika pesantren pada umumnya membatasi penerimaan santri bahkan ada melalui tahapan seleksi yang sangat ketat, di Pesantren Hidayatullah justru sebaliknya. Semua yang mendaftar jadi santri diterima bahkan tanpa diseleksi.

“Saya tiga periode jadi ketua dewan santri di (Pesantren Hidayatullah) Gunung Tembak, selalu saja ada orang gila di asrama karena orang gila pun diterima jadi santri. Begitulah kekhasan Ponpes Hidayatullah kala itu. Bahkan boleh dikatakan, anak yang baru lahir dan tua renta yang sudah mau mati besok pun diterima,” kata Akib setengah berkelakar.

Akib berharap, ritme atau irama khas gerakan Hidayatullah tersebut perlu terus dijaga.

Kendatipun kini mungkin tak ada lagi orang gila mendaftar atau -tepatnya- didaftarkan menjadi santri oleh kerabatnya, namun nilai-nilai penerimaan dan keterbukaan tersebut sejatinya merupakan refleksi universal gerakan Hidayatullah sebagai lembaga dakwah yang merangkul siapasaja, orang gila sekalipun. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.