Felix Siauw Bagi Tips Medsos dengan DPP Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ustadz berjuta follower, Felix Y. Siauw, berbagi tips bermedia sosial dengan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah di sela acara Rapat Pleno Hidayatullah yang digelar di Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Dai yang kerap mendapat julukan sarkastik “radikalis romantis” beretnis Tionghoa ini membagi kiat-kiatnya dalam membangun, mengelola, dan memfungsikan media sosial dalam rangka memanfaatkannya untuk dakwah di era digital.

“Kita hari ini sedang menghadapi fenomena disrupsi, era yang memaksa kita untuk harus melakukan inovasi, atau jika tidak, akan punah. Tertinggal jauh. Begitupun dalam dakwah,” kata Felix yang pada kesempatan tersebut datang dibersamai oleh Hawaariyyun, seorang aktifis muda yang aktif di media sosial.

Felix mengemukakan, meskipun peralihan zaman tersebut nampak seperti sesuatu hal yang biasa, namun tanpa kita sadari, para pengusung ide-ide amoral nan banal yang anti Islam, sudah memainkan perannya di wadah ini dengan sangat massif.

“Mereka membayar illustrator dan visualis terbaik untuk mendisain materi dan provokasi dengan grafis, dan motion yang memanjakan mata, konseptual dan serius. Lalu menggunakan public figure, artis dan tokoh-tokoh sebagai pengeras suara mereka,” ujarnya yang membawakan materi bertema sebagaimana judul salah satu bukunya, “Art of Dakwah”.

Karena itu, lanjut Felix, dakwah digital yang menyasar generasi millenial menjadi sesuatu hal penting yang tak boleh diabaikan. Dia pun mendorong Hidayatullah terutama kalangan anak-anak muda untuk berkecimpung dalam ceruk dakwah di medium digital.

Apalagi, terang dia, dengan tingkat pengguna internet yang terus meluas, realitas tersebut kian menantang kita untuk berbuat. Dia menyebutkan, survei yang dilakukan Nielsen pada tahun 2012 saja rata-rata kita menggunakan 3 jam per hari untuk berselancar di dunia maya. Akumulasi nilai tersebut tentu semakin besar hingga sekarang.

Felix pula menyebukan karakteristik generasi milenial yang merupakan pengguna terbesar daripada media sosial seperti Twitter dan Instagram. Berdakwah kepada kalangan ini, jelas dia, membutuhkan treatment yang berbeda dengan umumnya dilakukan secara “konvensional” saat ini.

“Dulu dakwah mungkin sebatas ceramah di atas podium, dari mimbar ke mimbar, mengisi pengajian atau sebagainya. Sekarang beda. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kehadiran media sosial yang cepat sekali perubahannya, orang banyak menghabiskan waktu untuk berselancar di dunia maya dan menggunakan media sosial,” imbuh penulis produktif ini.

Karena itu, Felix mengatakan, faktor partisipasi di dunia maya harus dapat dimaksimalkan untuk menjadi ladang dakwah yang tak kalah penting dilakukan. Sebab, jika tidak, maka pihak lain yang akan merangkul generasi muda kita.

Namun, dia mengingatkan, karena karakteristik objek dakwah (mad’u) yang disasar begitu khas, maka dakwah era digital juga membutuhkan perlakuan khusus sehingga kemasan pun harus seproporsional mungkin.

Selain itu, dia menegaskan, selain kemasan, yang tak kalah penting adalah orang yang menyampaikan (dai). Tentu orang yang sudah berusia lanjut atau dalam istilah Felix, generasi “expired”, tidak cukup mampu untuk menggarap generasi millenial. Harus yang muda, yang berkompeten dan bisa menggelutinya tekun seraya mengiringinya dengan adab dan akhlak Islam yang luhur.

“Sebaik apapun kemasannya, jika yang menyampaikan tidak dapat dipercaya, pesan juga tidak akan tersampaikan dengan baik. Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa memperbaiki diri sehingga orang juga akan mempercayai apa yang kita sampaikan,” pesannya.

Acara tersebut dilanjutkan dengan tanya jawab seputar media sosial dalam fungsinya mengembangkan dakwah Islamiyah serta kegunaannya dalam mempromosikan beragam program pengembangan umat yang dimiliki seperti pendidikan dan amal sosial agar dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.