Idealnya Pemuda Islam Bisa Ngaji Qur’an dan Mengajarkan

SAM_0378Hidayatullah.or.id — Seorang pemuda Islam idealnya mampu membaca Al Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah tahsin dan tajwid serta mengajarkannya kepada orang lain. Namun, faktnya, yang terjadi adalah kondisi sebaliknya. Jangankan pemuda, realitas umat hari ini masih banyak yang buta Al Qur’an.

Demikian ditegaskan Instruktur nasional Grand MBA, Agung Tranajaya, Lc, M.Si, dalam acara Training of Trainer (TOT) Grand MBA – Syabab Hidayatullah di Pusdiklat Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (19/10/2014).

Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an atau disingkat Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Tranajaya mengungkapkan realitas umat hari ini masih jauh dari nilai-nilai Al Qur’an, bahkan untuk mempelajarinya saja enggan. Salah satu pemicunya karena diantaranya menganggap belajar Al Qur’an itu susah dan hanya diampu oleh mereka yang berbakat.

“Bisa membaca Qur’an dengan baik dan benar bukan soal bakat atau tidak berbakat. Semua kita bisa baca Qur’an asalkan ada kemauan. Jadi intinya, mau atau tidak, itu saja,” kata Agung Tranajaya.

Agung menilai, banyak orang yang tidak percaya diri (pede) menjadi guru ngaji Al Qur’an. Padahal pekerjaan sebagai guru ngaji merupakan dakwah yang sangat mulia dan disukai oleh Allah Ta’ala sebagaimana dikutip dari hadits Nabi diriwayatkan Imam Al-Bukhari.

Pandangan negatif terhadap pekerjaan sebagai guru ngaji dipicu juga oleh pengaruh materialisme yang disebarkan melalui berbagai perangkat media. Tidak sedikit orangtua yang lebih mendahulukan mengikutkan anaknya kursus menari, musik, dan les bahasa. Sementara kemampuan baca tulis Al Qur’an berada di prioritas ke sekian.

“Secara tidak sadar remaja dan anak-anak muda kita dijauhkan dari Qur’an dengan hadirnya berbagai macam pemuas kesenangan lahiriyah,” imbuh Agung yang membina puluhan majelis taklim Grand MBA di Jabodetabek ini.

Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah dalam pengarahannya saat penutupan, mengingatkan bahwa sesungguhnya tidak ada pekerjaan yang lebih patut disibuki oleh orang beriman selain belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.

Dia menegaskan hendaknya dalam setiap rutinitas keseharian kita baik seorang santri, mahasiswa, pebisnis, pemimpin, dan sebagainya, ada waktu untuk mempelajari Qur’an dan mengajarkannya. Abdullah pun menyayangkan adanya pertentangan di masyarakat soal apakah guru ngaji boleh menerima imbalan atau tidak.

“Saya justru heran dengan orang seperti ini. Apakah guru ngaji boleh menerima imbalan atau tidak. Seharusnya bukan itu yang dipersoalkan. Wong banyak orang yang di luar sana bicara sembarangan dapat duit kok, ini masa’ guru ngaji gak boleh dikasih imbalan,” ujarnya.

Namun dia mewanti-wanti tidak boleh meniatkan pekerjaan mengajar ngaji karena uang, maka itu tidak boleh pasang tarif.

“Dalam belajar Al-Qur’an ini tidak usah terburu-buru. Istiqomah saja, jangan tergesa-gesa. Insya Allah akan ada hasilnya. Targenya adalah Qur’anisasi yang itu artinya kita harus selalu mendakwahkan Islam. Bergerak secara kuantitas dan bergerak secara kualitas,” imbuh beliau.

Abu A’la mengatakan Grand MBA adalah gerakan ideologis yang digagas oleh Hidayatullah dengan spirit Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW). SNW adalah ruh dalam rangka mengajarkan Al Qur’an. Untuk itu dia berharap angkatan pertama TOT Grand MBA ini dapat terus bergulir. Menjadi pembelajar dan pengajar Al Qur’an adalah sebuah kebanggan.

“Pemuda harus mempelopori gerakan belajar dan mengajar Al Qur’an. Ini adalah sebuah kebanggan. Jangan minder, harus selalu percaya diri,” pungkasnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.