Adi Sasono Dorong Syabab Hidayatullah Kuat Mandiri

adi sasono pp syabab dan adi sasonoadisasonoHidayatullah.or.id — Tokoh nasional yang juga mantan Menteri Koperasi dan UKM era Kabinet Reformasi, Adi Sasono, menerima kunjungan silaturrahim dan audiensi pengurus Pimpinan Pusat Syabab Hidayatullah di kantornya di Gedung Arthaloka Lt.9 Jalan Jenderal Sudirman Kav.2 Jakarta Pusat, Kamis.

Hadir dalam kesempatan silaturrahim tersebut Sekjen PP Syabab Hidayatullah Soehardi Soekiman, Kepala Biro Humas Ainuddin Chalik, dan Ketua PW Syabab Hidayatullah Jabodetabek, Mazlis Mustafa. Ketua PP Hidayatullah Asih Subagyo turut mendampingi anak-anak muda ini.

Dalam pengantarnya Syabab Hidayatullah mengutarakan terimakasih atas kesempatan audiensi yang diberikan, seraya mendoakan semoga salah satu tokoh penting gerakan reformasi ini tetap selalu diberi kesehatan dan keberkahan oleh Allah Ta’ala.

Selain dalam rangka mengutarakan maksud untuk mengundang beliau menjadi pembicara dalam helatan acara seminar nasional yang rencananya akan digelar Syabab Hidayatullah bulan Oktober mendatang, rombongan Syabab Hidayatullah juga banyak menggali ilmu dan nasihat dari tokoh penggerak koperasi ini.

Dalam sambutannya, Adi Sasono mengingatkan bahwa anak muda adalah harapan umat dan bangsa. Beliau pun mendorong Syabab Hidayatullah untuk membangun semangat kemandirian. Karenanya, beliau mendorong kalangan muda untuk tidak berhenti berfikir kreatif untuk kemaslahatan banyak orang.

Ia mengingatkan, di masa orde baru, Islam kerap kali disingkirkan. Namun, sekarang ini umat Islam bisa berjuang tidak seperti masa lalu tanpa harus khawatir didiskriminasi.

“Secara umum, kita bisa leluasa berdakwah. Yang pakai kerudung juga sudah banyak di kampus-kampus. Kita harus meneruskan perjuagan pendahulu,” katanya.

Beliau menegaskan, masa depan kita tergantung kita, bukan tergantung orang lain. Kata beliau, kita bisa nggak mensyukuri nikmat dari perubahan zaman ini dengan cara berbuat nyata untuk melakukan perbaikan kekuatan kita.

“Di dunia ini tidak ada yang gratisan, kalau anda lemah ya ditindas. Kalau anda mau diadudoma, ya dilemahkan,” imbuhnya.

Dia menyebutkan, penjajah Belanda bahkan hanya ada 200.000 yang datang ke Indonesia sebagaimana statistik tahun 1930, dan saat itu rakyat kita sudah 60 juta.

“Tapi kenapa Belanda bisa menjajah kita. Karena politik devide et impera kan. (Doktrinnya) pecah belah dan kuasailah. Akhirnya kita malah berbarung sendiri. Kita dijajah karena kalah pinter,” ujarnya.

Jepang bisa dibilang tidak punya sumber daya apapun. Kolonial juga begitu, tanahnya sedikit. Tapi kata Adi Sasono, mereka bisa menjadi kekuatan ekonomi dunia.

“Jadi kita tidak usah nengok keluar, kita lihat ke dalam aja. Ke dalam kita memperkuat diri kita dengan landasan idelologis, ukhuwah, dan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi supaya kita bisa bersaing dengan orang lain. Anda tidak akan dikasih gratis untuk kemajuan anda,” pungkasnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.