Syabab Hidayatullah Sulsel Gelar Seminar Kepemudaan

seminar nasiolan syabab hidayatullah sulawesi selatan (1) seminar nasiolan syabab hidayatullah sulawesi selatan (2) seminar nasiolan syabab hidayatullah sulawesi selatan (5) seminar nasiolan syabab hidayatullah sulawesi selatan (6)Hidayatullah.or.id — Dalam rangka menyambut Musyawarah Nasional (Munas) IV Hidayatullah, organisasi kepemudaan Syabab Hidayatullah menggelar acara seminar nasional di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.

Seminar dengan tema “Pemuda Menyongsong Kepemimpinan Nasional yang Berintegritas” ini digelar pada hari Rabu, 14 Oktober 2015 atau bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharram 1437 Hijriyah, kemarin.

Hadir sebagai narasumber akademisi yang juga profesor termuda UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Johannis, MA., Ph.D, Wakil Walikota Makassar Dr. Syamsu Rizal MI, dan Ir. Anggota DPD RI Asal Sulsel H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si. Dan, hadir menjadi pemandu acara adalah Ketua Umum Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad.

Seminar yang diadakan di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini, dihadiri sekitar delapan ratus peserta dari berbagai kalangan diantaranya pelajar/ mahasiswa dari berbagai sekolah/ perguruan tinggi dan perwakilan organisasi kepemudaan di Kota Makassar.

Ketua Syabab Hidayatullah Sulawesi Selatan, Muhammad Robianto, dalam sambutannya, mengatakan, pemuda harus mempersiapkan diri melanjutkan estafeta kepemimpinan di negeri ini. Estafeta kepemimpinan ini, kata Robianto, bisa berhasil jika pemuda memiliki integritas.

“Sebagai pemuda, kita harus siap melanjutkan estafeta kepemimpinan di negeri ini. Presiden Jokowi tidak akan selamanya jadi presiden, Pak Jusuf Kalla sudah juga mulai tua dan estafeta ini bisa berhasil kalau kita sebagai pemuda memiliki integritas” jelas Robianto.

Sambutan selanjutnya, oleh Rektortorat Universitas Muslim indonesia dalam hal ini diwakili oleh Profesor Abdul Ghani selaku wakil Rektor III, mengatakan bahwa pihak Universitas Muslim Indonesia sangat mengapresiasi kegiatan seminar ini.

“Seharusnya mahasiswa aktif mengikuti kegiatan seperti ini karena memang tugas mahasiswa adalah belajar dan bukan turun ke jalan raya dan menggangu perjalanan masyarakat,” ujarnya.

Sebelum mengakhiri sambutannya, secara khusus Profesor Abdul Ghani mengapresiasi Syabab Hidayatullah yang telah memasang hijab untuk memisahkan peserta ikhwan dan akhwat. Hal ini kata Ghani sejalan dengan orientasi pendidikan kita di UMI yang memisahkan laki-laki dan perempuan dalam proses belajar mengajar di kampus.

Dalam pemaparannya ketiga narasumber umumnya menekankan pentingnya peran strategis pemuda dalam menentukan masa depan perjalanan sebuah bangsa. Terutama kiprah-kiprah pemuda yang konsisten meneguhkan moralitas sebagai salah satu pelecut utama kesejahteraan dan kemandirian suatu bangsa.

Karenanya, seturut dengan tema Munas IV Hidayatullah yang mengusung jargon “Membangun Moralitas Bangsa, Menuju Kesejahteraan Ummat”, kepemimpinan berintegras menjadi isu mendasar yang dianggap penting untuk terus disuarakan.

Ketua Umum Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad dalam pengantarnya yang memoderatori acara itu, mengutarakan bahwa model kepemimpinan berintegritas merupakan serangkaian penyelenggaraan pemerintahan di semua aspek yang menjunjung tinggi nilai keagungan moral.

Bangsa yang bermoral, kata Naspi, sudah barang tentu berangkat dari sumber daya manusia (SDM) yang berintegratis. Integritas inilah yang kelak melahirkan kejujuran, keadilan, etos kerja, semangat berkorban, serta membangun kultur kesalingpengertian.

Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar yang menjadi pembicara pertama dengan membawakan materi berjudul, “Abdullah Said, dari Desa Membangun Bangsa”, mengatakan bahwa salah satu landasan epistimologis lahirnya kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Indonesia adalah apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap istri dan anaknya yang rela menempatkannya di padang yang tandus dan tidak ada tanda-tanda kehidupan karena menjalankan perintah Allah.

“Abdullah Said juga melakukan hal yang sama terhadap santri–santrinya. Setelah santri tersebut dinikahkan, dikirim ke daerah terpencil dan minoritas untuk membuka cabang hanya dengan modal sami’na wa ata’na,” kata Abdul Aziz.

Aziz memberikan contoh bahwa salah seorang santri ditugaskan ke Papua untuk membuka cabang Hidayatullah hanya dengan modal tiket kapal, tanpa alamat dan kenalan. Kala itu Abdullah Said hanya mengatakan bahwa Tuhan yang disini (Balikpapan) sama juga Tuhan yang di Papua. Dengan begitu Hidayatullah dalam waktu singkat, sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke.

“Tidak muluk-muluk, kader Hidayatullah hanya diperintahkan menceramahkan dan menyampaikan kepada umat tentang apa yang mereka terima dan rasakan selama tinggal atau dibina di Gunung Tembak. Tetapi tidak saja diceramahkan, tetapi juga dipraktikkan di mana mereka betugas. Jadi dakwah bil haal dan bil lisan sekaligus” kata Abdul Aziz.

Seminar semakin menarik saat Profesor Hamdan Juhanis memaparkan makalahnya yang berjudul “Membangun Mentalitas Pemuda Berintegritas”, yang sebagian besar materinya disadur dari buku fenomenalnya “Melawan Takdir”.

Profesor Hamdan dalam pemaparannya mengatakan bahwa untuk menjadi pemuda yang berintegritas, ada dua modal besar yang harus kita miliki yaitu kejujuran dan kedisiplinan. Hamdan mendorong pemuda untuk membangun etos kerja sebab katanya kesuksesan sejatinya tidak ditentukan oleh kecerdasan yang bahkan porsinya hanya 1 persen, yang menentukan kerja keras.

“Jangan terpesona dengan capaian yang berhasil seseorang, tetapi pahami dan terpesonalah dengan kerja keras orang besar untuk mendapatkan hasil itu. Jadi prosesnya itu yang penting,” katanya.

Profesor muda yang sukses menyelesaikan studi strata dua di Kanada serta doktoralnya di Australia ini menekankan bahwa anak muda harus berani melawan takdir. Ia memberi tanda kutip bahwa takdir yang ia maksud disini bukanlah takdir dalam pengertian teologis, tetapi lebih kepada pengertian sosiologis.

“Bangun kedisipilan, budayakan kejujuran, serta terus bekerja keras. Insya Allah, dari sini akan lahir pemuda berintegritas yang beriman dan bertakwa kepada Allah Ta’ala,” katanya.

Sebelum mengakhiri materinya, Profesor Hamdan mengungkapkan perasaan bahagianya dapat menghadiri seminar ini, karena salah satu keinginan besar dalam hidupnya adalah dapat bersanding dengan salah satu tokoh Sulsel Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar sebagai narasumber. “Dan hari keingin itu terwujud,” tutup beliau. (Arfah Bandule)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.