Penggunaan Istilah Washatiyah Harus Proporsional

IMG_0114IMG_0145IMG_0177IMG_0197IMG_0223Hidayatullah.or.id – Sekretaris Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Drs. Hamim Thohari, M.Si mengatakan Penggunaan istilah wasathiyah harus dilakukan dengan hati-hati dan proporsional sebab banyak orang memakainya serampangan.

“Kaum muslimin tidak boleh terkecoh dalam menggunakan istilah wasathiyah secara serampangan. Umat Islam harus hati-hati dari pesan sponsor orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” kata Ust Hamim Thohari ketika menjadi panelis dalan acara Dialog Internasional bertajuk Islam Jalan Tengah, Menyikapi Ekstrimisme Pemikiran, digelar PP Syabab Hidayatullah di Hotel Sofyan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (02/02/2016).

Menurut Hamim, istilah washatiyah harus dikembalikan pada arti dan tujuan murninya sesuai al-Qur’an dan al-Sunnah.

“Istilah wasathiyah pada dasarnya harus didudukkan dalam porsi yang benar,” ungkapnya.

Istilah Washatiyah menjadi heboh dan banyak diperbincangkan akhir-akhir ini setelah timbul berbagai gerakan yang dianggap “ekstrem” di belahan dunia akhir-akhir ini, tak terkecuali di Indonesia.

Menurut Hamim, banyak motivasi yang melatari-belakangi polulernya istilah wasathiyah, diantara yang terpenting menurutnya adalah usaha untuk meredam sikap-sikap “ektrim” oleh sebagian aktifis (mujahid) yang dianggap berlebih-lebihan dalam melakukan perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan yang telah lama mapan.

“Hegemoni kekuasaan itu tidak saja di bidang politik, tapi juga dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya,” ujar Hamim.

Di satu sisi, sikap berlebih-lebihan dalam segala hal sangat dikecam oleh ajaran Islam. Tapi di sisi yang lain, sambungnya, penggunaan istilah ini juga tidak boleh sembarang dipakai orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk meredam ghirah dan semangat jihad kaum muslim.

“Istilah wasathiyah ini terlalu suci untuk dijadikan alat oleh komparador untuk mengamankan sikap berlebih-lebihan kaum liberal dan sekuler,” tegasnya.

Dikatakan Hamim, penggunaan istilah Wasathiyah harus dilakukan dengan hati-hati dan proporsional sebab banyak orang memakainya serampangan. Akibatnya istilah wasathiyah menjadi kabur, sesuai dengan kepentingan nafsunya. Salah satu contoh konkritnya adalah penggunaan istilah islam moderat yang terkadang dipahami secara salah.

Akibatnnya, lanjut Hamim, orang yang berusaha secara sungguh-sungguh berpegang teguh pada sunnah dianggap ekstrim dan tidak sesuai dengan prinsip wasathiyah.

Hamim mengungkapkan pentingnya memahami istilah Wasathiyah yang harus dirunut dari bahasa aslinya yang memiliki beberapa arti antara lain pertengahan, berada pada posisi tengah-tengah. Tidak berada di dua sisi yang berlawanan (terlalu kekiri atau ke kanan).

Hamim Thohari menguraikan bahwa sikap pertengahan adalah sikap dasar seiap Muslim, sehingga terdorong untuk mengutamakan persamaan dalam hal mendasar, sehingga tidak mudah berpecah belah, apalagi diadu domba.

“Karena itulah dakwah Islam merupakan pekerjaan sepanjang hayat. Terus menerus harus dilakukan,” katanya.

Hamim menambahkan, semangat Washatiyah berarti tidak berlebih-lebihan termasuk dalam masalah perbedaan keyakinan. Itulah mengapa, kata dia, dakwah Islam harus terus dilakukan dengan tetap menghargai dan menjaga harmoni antar sesama pemeluk agama dalam satu lingkup komunitas bangsa.

Senada dengan itu, pembicara kedua Mufti Kerajaan Negeri Perlis Malaysia Prof. Dr. Dato’ Mohd Asri Zainul Abidin (DR Maza) menerangkan bahwa perbedaan merupakan fitrah kehidupan yang harus disikapi secara dewasa.

DR Maza menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang tidak mengenal segala hal yang berlebih-lebihan dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

“Oleh kerana itu, penting bagi setiap Muslim memahami bahwa tidak perlu ada panduan dalam hidup ini melainkan dari Allah dan Rasul,” ungkap DR. Maza.

DR Maza menjelaskan antara ciri wasatiyyah ialah sikap berhati-hati dalam menghukum pihak lain dengan tuduhan kufur, laknat ataupun nereka.

Dengan logat Melayu yang khas, DR Maza menerangkan, mereka yang menghukum sedaya upaya mencari keuzuran bagi pihak yang hendak dikenakan tuduhan sedemikian. Ini kerana perkara yang nampak pada zahir, mungkin tidak sama pada hakikat yang sebenar.

“Islam dalam hal apapun pada dasarnya memiliki dasar pandangan perdamaian, termasuk hubungan dasar antara Muslim dengan orang kafir. Islam hanya bisa melakukan pembelaan diri apabile ada kelompok umat lain menganggu atau pun membahayekan kehidupan kaum Muslimin,” imbuhnya menegaskan.

Sementara itu panitia yang juga Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Syabab Hidayatullah Imam Nawawi dalam keterangannya kepada media mengatakan acara dialog ini diselenggarakan guna mengajak umat untuk kembali melihat Islam sebagai sebuah ajaran yang mengajarkan umatnya untuk mampu berpikir secara rasional, objektif, adil dan dengan bismirabbik dalam melihat segala rupa dinamika dan isu yang terus berkembang, sehingga umat Islam tidak tercerabut dari identitas aslinya sebagai ummatan wasathan.

Menurut Imam, ummatan wasathan bermakna umat yang berada di tengah, seimbang, tidak berdiri pada kutub esktrim, baik dalam pemahaman maupun pengamalan, sehingga mampu memberikan solusi terhadap problematika kehidupan umat manusia.

“Ini adalah sebuah penegasan bahwa umat Islam adalah umat yang berkepribadian khas, dimana kesadaran intelektual dan lainnya benar-benar murni bersumber hanya dari ajaran Allah dan tidak mendengarkan apapun juga dari ajaran-ajaran selain dari Allah ta’ala, yang telah memilihkan identitas ini bagi umat Islam,” imbuhnya.

Hal ini juga bermakna bahwa umat Islam bukanlah makhluk spiritual yang menegasikan material, umat Islam adalah yang berinteraksi dengan keduanya dengan maksud mendapatkan ridha Allah, sehingga hidup dengan keteraturan Ilahiyah yang akan membuat umat ini unggul dalam percaturan kehidupan umat manusia.

Pihaknya berharap melalui event ini ada kedewasaan berpikir, terutama di kalangan muda, sehingga spirit ber-Islam tidak saja disandarkan pada dinamika politik dan isu yang terus terjadi, tetapi didasari oleh kesadaran intelektual, sehingga gerakan umat Islam adalah gerakan yang rapi, tertib dan membawa dampak perubahan positif bagi negeri.

Acara yang dipandu oleh Ust Teguh Iman Perdana ini terselenggara atas dukungan Laznas Baitul Maal Hidayatullah. Sekalipun core program Laznas BMH lebih pada upaya menyemarakkan dakwah di daerah pelosok, pedalaman, kepulauan dan perbatasan, untuk masyrakat perkotaan, BMH juga memiliki perhatian terhadap dakwah.

Hal ini di antaranya diwujudkan dengan mensupport terselenggaranya International Dialogue di Hotel Sofyan ini. Acara ini berlangsung hingga pukul 23.00 dan nampak para peserta begitu antusias menyimak uraian dari kedua panelis. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.