Hidayatullah dan Umat Islam Sumut Tolak Perayaan Tahun Baru Masehi

Ustadz Choirul Anam (pegang mic) saat menyampaikan materi

Ustadz Choirul Anam (pegang mic) saat menyampaikan materi

HIDORID — Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah Medan beserta sejumlah elemen umat Islam lainnya di wilayah tersebut menyelenggarakan kegiatan Pengajian Akbar Akhir Tahun. Pengajian akbar mengusung tema, “Tahun Baru Datang, Aqidah Terancam, Islam Terabaikan”, berlangsung di Masjid Jami’ Tanjung Morawa, Medan (25/12/2013) lalu.

Hadir sebagai pembicara tokoh Islam Deli Serdang Ustadz Al-Hafidz Anwar Al-Ayyubi, Ketua Yayasan Hidayatullah Medan Ustadz Choirul Anam, dan Ketua DPD II HTI Deli Serdang Ustadz Muhammnad Fatih Al-Malawy.

Acara yang diselenggarakan di Masjid Jami’ Tanjung Morawa ini dihadiri lebih dari 400 orang peserta. Acara berlangsung dalam bentuk diskusi panel.

Panitia menyebutkan, tujuan diselenggarakan acara ini adalah untuk membuka wawasan Umat Islam bahwa merayakan tahun baru Masehi adalah sesuatu kegiatan yang tidak diajarkan oleh Islam bahkan Haram bagi Umat Islam merayakannya.

Sebagaimana diketahui, manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun.

Dalam pemaparannya, pembicara mengutarakan bahwa tahun baru Masehi pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, diputuskanlah untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM.

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Dari fakta sejarah itu, elemen umat Islam Medan menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Mengutip pendapat ulama kontemporer, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah, menjelaskan bahwa perayaan tahun baru itu termasuk merayakan ‘ied (hari raya) yang tidak disyariatkan karena hari raya kaum muslimin hanya ada dua yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Menentukan suatu hari menjadi perayaan (‘ied) adalah bagian dari syari’at (sehingga butuh dalil).

Apalagi, jika melihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Karena hal tersebut bukan budaya bangsa dan bertentangan dengan nilai-nilai agung ajaran Islam, elemen umat di Medan pun menolak perayaan tahun baru Masehi tersebut.

“Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit,” bunyi pernyataan itu.

Merayakan tahun baru dinilai termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang manfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan.

“Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah, bukan dengan menerjang larangan Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya,” tutup pernyataan umat Islam usai acara tersebut. (Kiriman Muhammad Al-HasyirSyabab Hidayatullah Sumut).

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.