Tebar Kepedulian, Menantang Maut di Dusun Momma

Tampak salah satu rumah petani nomaden di Dusun Momma yang berada di pebukitan jauh / BASHORI

Tampak salah satu rumah petani nomaden di Dusun Momma yang berada di pebukitan jauh / BASHORI

Hidayatullah.or.id — Ando, remaja usia 34 tahun penduduk dusun Momma, pedalaman jauh Mamuju, mengisahkan kalau dirinya dan 25 warga muslim lainnya sudah lama tidak melakukan shalat Jumat di masjid.

Bahkan, masjid berbahan kayu berukuran 6 x 7 meter itu terlihat kotor saat saya dan ustadz Roziqin hendak memilih bangunan itu sebagai tempat untuk mendistribusikan pakaian dari seorang pembaca setia majalah Suara Hidayatullah asal Serang, Banten.

Di sana sini dalam ruangan berlantai semen itu dipenuhi kotoran hewan dan nampak sudah lama tidak terjamah manusia, bahkan beberapa dinding papannya lapuk.

Ando dan sepupunya bergegas menuju pinggiran dusun persisnya di ujung tebing dan berteriak memanggil beberapa orang yang terlihat sedang bekerja di tebing gunung seberang untuk berkumpul.

Kami berinisiatif mendahului mereka ke masjid agar berkesempatan membersihkan dan menyiapkan bungkusan paket yang dari tadi berada di boncengan sepeda motor. Paket itu sudah dilumuri percikan lumpur jalanan dan tidak rapi lagi.

“Memang tidak ada informasi sebelumnya kepada mereka,” ustadz Roziqin menjelaskan. Karena untuk menyampaikan kabar ke sini harus datang langsung dan itu memakan waktu dan tenaga yang banyak. Selain tidak terjangkau jaringan sinyal telepon seluler.

Sejam kemudian nampak berdatangan beberapa ibu-ibu yang menggendong anak kecil bertelanjang dada mendatangi masjid. Setelah diyakinkan tidak ada lagi yang datang, ustadz Roziqin memulai pembicaraannya dalam agenda pembagian busana muslim dan mukena.

“(Busana muslim dan mukena) ini adalah wujud perhatian saudara muslim kita di kota meski mereka tidak mengenal kita,” imbuhnya setelah memberikan nasehat tentang pentingnya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di manapun kita berada.

Terhitung sebanyak 12 kepala keluarga berbahagia menerima paket busana muslim dan mukena. Sebagian langsung mengenakannya maklum sebelumnya datang tanpa mengenakan jilbab atau pakaian yang layak.

Memausuki dusun ini jangan membayangkan sepereti memasuki layaknya dusun di wilayah transmigrasi lainnya.

Seratus rumah yang disediakan pemerintah melalui program transmigrasi untuk para perambah hutan yang sebelumnya hidup nomaden ini tidak semua terlihat berpenghuni. Mereka masih nyaman dengan gaya berkebun dan hidup secara berpindah-pindah di hutan seputar dusun Moma.

Selama dua jam lebih saat meninggalkan kota kecamatan Rio Pakava harus puas dengan tepian sungai berbatu dan berkelok-kelok sebagai jalur tunggal yang mengantar ke Moma.

Selanjutnya kita akan disuguhi rute aslinya pedalaman di sini. Lereng terjal yang tidak beraturan, sesekali kalau Anda berboncengan sebaiknya turun karena tidak memungkinkan.

Bukit turunan nan curam dengan kondisi berbatu lepas menjadi masalah tersendiri bagi yang belum terbiasa dengan rute ini, warga dusun Moma menyebut itu sebagai jalan. Tetapi saya lebih suka menyebut sungai tanpa air.

Terakhir 2 kilometer sebelum memasuki Moma, sungai yang deras dan jernih alirannya tanpa jembatan seolah tempat rehat semua pengunjung untuk melepaskan peluh di tepinya.

Menurut Ustadz Abdi Roziqin, di sini belum pernah ada petugas kesehatan atau dai yang ditugaskan “Dibutuhkan niat yang kuat juga didukung kendaraan yang kuat pula,” bebernya.

Sehingga Moma nampak seperti belantara hutan muda yang didiami beberapa penduduk pedalaman yang rumahnya sedikit agak rapi meski tetap menunjukan kesunyiannya. Termasuk sunyi dari suasana dakwah sampai waktu yang tidak mereka ketahui batasnya.

Distribusi busana muslim dan mukena juga dilakukan di dusun Rio dengan rute yang sama menantangnya, sehingga terbagi sekitar 25 paket untuk warga muslim dusun Rio.

Masih dalam kecamatan Rio Pakava, warga dusun Owu beberpa juga merasakan buah tangan kedermawananan Ibu Iffat asal Serang itu. Sehingga kini ustadz Roziqin lebih mudah melakukan pendekatan kepada jamaahnya yang tersebar di beberapa tempat yang -dalam istilah Ustadz Roziqin – “bersebalahan dengan akhirat” itu. (Bashori Abu Basya / Mamuju)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.