AdvertisementAdvertisement

Cerita Emak-emak “Komunitas Mujahidah” Makassar Hadiri Silatnas Hidayatullah

Content Partner

INI cerita lain dari arena Silatnas Hidayatullah di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, baru-baru ini.

Silatnas itu tak hanya diikuti oleh para dai-daiyah Hidayatullah, tapi juga emak-emak yang tergabung dalam komunitas khusus.

Mereka menamakan diri dengan Komunitas Mujahidah. Sebanyak 16 orang anggotanya hadir langsung di Gunung Tembak. Mereka merupakan donatur dan simpatisan Hidayatullah Makassar, Sulawesi Selatan.

Emak-emak itu ikut serta dalam rombongan peserta Silatnas Kafilah Makassar yang berjumlah lebih dari 1.000 peserta.

Komunitas Mujahidah hadir di Gunung Tembak pada Rabu (21/11/2023). Ini adalah komunitas yang bergerak di bidang sosial keummatan.

Walaupun usianya rata-rata 50-70 tahun, tapi para lansia itu terlihat masih enerjik dan penuh ghirah.

Dr. Ir. Nurbaya Busthanul, M.Si, Ketua komunitas Mujahidah, mengatakan, ia mengenal Hidayatullah sejak tiga tahun lalu. Kala itu, anaknya, Muhammad Aiman Amil, bersekolah di SMA Fullday and Boarding School Al-Bayan Hidayatullah Makassar.

Ia sangat bahagia karena Aiman berhasil membawa harum nama Hidayatullah setelah meraih prestasi nasional pada ajang Fesanas (Festival Sains Nasional) September lalu.

Di matanya, Hidayatullah adalah lembaga yang ingin menjadikan santri dan santriawati memiliki akhlak terpuji, cinta agama dan bangsa.

“Kelebihan Hidayatullah itu istiqamah terhadap aturan-aturan yang telah berlaku,” apresiasi dari wanita yang telah 32 tahun menjadi dosen Univeristas Hasanuddin Prodi Agribisnis ini.

Nurbaya berharap agar Silatnas Hidayatullah bisa memperat silaturrahim, mengokohkan prinsip, menegakkan tiang agama Islam, serta mengantarkan para pesertanya mengenal lebih jauh tujuan hidup.

Bahwa dengan Silatnas, sebutnya, perilaku, sikap, pengetahuan, keterampiran, yang dimiliki dapat mencerminkan karakter Muslim berprinsip kokoh.

Semangat menghadiri Silatnas Hidayatullah juga disampaikan oleh Hajja Andi Nursiah Baso (72 tahun). Ia mengaku termotivasi hadir di Gunung Tembak setelah tiga kali mendapat sertifikat shalat khusyu yang dipandu oleh KH. Lukman Hakim. Peserta yang hadir dalam pelatihan tersebut banyak lansia.

“Sedangkan orang stroke pergi (dalam langkah kebaikan), maka di Silatnas ini saya bertekad untuk pergi, walau menempuh perjalanan jauh. Orang beriman harus mengeluarkan tenaga, biaya, untuk perjuangan,” ungkapnya.

Kehadiran Komunitas Mujahidah ini tak lepas dari peran Andi Erna, wanita berusia 48 tahun, yang mengenal Hidayatullah sejak tahun 2007 melalui BMH Makassar.

Andi Erna aktif di berbagai komunitas majelis taklim, komunitas pegiat sosial yang memenuhi kebutuhan perlengkapan dapur santri, dan sapras. Mulai di Makassar, Maros, Pangkep, Gowa, Takalar, Puce, Bollangi, Sinjai, dan daerah lainnya.

“Saya hanya berusaha menggerakan ibu-ibu, untuk memberikan infaq terbaik dari hartanya dengan kesadaran penuh. Saya tidak ingin mereka berinfak hanya karena saya yang menggerakkan,” ujarnya dengan pembawaannya yang kalem dan lembut.* (Mujtahidah/Media Silatnas Hidayatullah/MCU)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Rapimnas SAR Hidayatullah Kukuhkan Jatidiri sebagai Potensi Pencarian dan Pertolongan Nasional

BULUKUMBA (Hidayatullah.or.id) -- Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Search and Rescue (SAR) Hidayatullah 2024 digelar di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 20-22...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img