AdvertisementAdvertisement

Dai Harus Menampilkan Diri Seindah dan Sebaik Mungkin

Content Partner

NAMLEA (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si, mengatakan seorang dai harus menampilkan diri seindah dan sebaik mungkin.

“Karena ini membawa nama Islam yang indah dan bersih. Meskipun kita masih miskin tapi jangan menampilkan diri kumuh, tidak bersemangat,” kata Aziz.

Hal itu disampaikan Aziz saat memberi pencerahan kelembagaan jelang penutupan acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Provinsi Maluku yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kecamatan Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, Ahad, 7 Rajab 1444 (29/1/2023).

Aziz mengimbuhkan dakwah Islam sebagai kebenaran hakiki harus disampaikan dengan cara yang benar. Dalam pada itu ia menekankan pentingnya konsolidasi jatidiri dan organisasi dalam menguatkan dakwah.

Menurutnya, Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah memiliki fungsi membuat konsep-konsep perjuangan dan membantu Pemimpin Umum untuk konsolidasi organisasi. Sederhananya, kata dia, Wantim sebagai Wakil Pemimpin Umum untuk mengarahkan Dewan Pengurus Pusat, Dewan Mudzkarah, Dewan Murabbi Pusat.

Ia lantas menjelaskan mengapa Wantim turun ke daerah acara Rakerwil. Tujuannya, terang dia, adalah untuk konsolidasi jatidiri Hidayatullah. Jatidiri Hidayatullah ada 6 yaitu manhaj Sistematika Wahyu (SW), Imamah Jamaah, Harakah Jihadiyah, Jamaah min jamaatil muslimin, Ahlus sunnah wal jamaah, dan Washathiah.

“Jatidiri adalah alamat atau khittah yang membedakan dengan harakah atau ormas lain. Maka penting untuk Hidayatullah merumuskan jatidirinya agar istiqamah dan bisa diwariskan kepada generasi pelanjut,” katanya.

Aziz menyebutkan, pendiri Hidayatullah Allahuyarham Abdullah Said pernah mengatakan jika tidak ada manhaj SW maka tidak perlu ada Hidayatullah karena itu hanya memperbanyak harakah yang sudah ada. Menurut dia, selama Abdullah Said masih hidup, ada dua tema yang sering menjadi stressing dari jatidiri Hidayatullah yaitu manhaj Sistematika Wahyu dan imamah jamaah.

“Salah satu kebijakan atau ijtihad Abdullah Said terkait jihad adalah dengan statemen bahwa beliau tidak miliki harta pribadi yang diwariskan kepada keluarga anak istri. Semua lebur, all out dalam perjuangan. Inilah bagian dari pemikiran jihad Abdullah Said yang luar biasa,” katanya.

Menurut Aziz, ada dua dimensi SW sebagai konsepsi dan terapan sebagaimana yang sering disampaikan Pemimpin Umum. SW sebagai konsepsi adalah pertanggungjawaban ilmiah dengan dasar dalil yang jelas dari al Qur’an, Sunnah, dan pendapat ulama yang memperkuat manhaj SW.

SW sebagai terapan dalam pelaksanaan yang salah satu wujudnya adalah dalam imamah jamaah. Contohnya, Abdullah Said sering mengumpulkan kadernya di bulan Muharam di Gunung Tembak untuk laporan perkembangan dakwah dari daerah dan memberikan penguatan manhaj kepada para kader.

Jika ada pertanyaaan, kapan dimulai kepemimpinan dalam Islam? Maka jawabannya, menurut Aziz, adalah sejak turunnya surat al ‘Alaq yang membentuk seseorang beriman untuk taat kepada Allah SWT dan Muhammad Rasulullah.

“Berislam memang bisa sendiri atau tidak berjamaah tapi tidak banyak yang dihasilkan dari kerja sendiri. Karena dakwah, ibadah, dan syariat Islam harus dilakukan secara berjamaah agar memiliki kekuatan dan banyak yang bisa dilakukan dalam berislam,” katanya.

Pada kesempatan itu Aziz juga memaparkan 6 pilar penting dalam konsolidasi dan tertib organisasi yaitu aspek administrasi, regulasi, manajemen, kepemimpinan (leadership), pelaksanaan (actuating), dan sistem evaluasi (controlling).

Menurutnya, kepemimpinan adalah bagian yang amat penting untuk menggerakkan orang atau memberikan semangat.

“Pemimpin sebagai sumber energi, inspirasi, dan motivasi bagi anggotanya. Seorang pemimpin adalah orang yang patut diteladani, punya kepekaan perasaan dengan sering memberikan hadiah atau shadaqah. Memberikan sentuhan kepada anggota agar bersemangat dan senang dalam ketaatan,” katanya.

Yang juga tak kalah penting adalah kultur organisasi. Dia mengatakan, salah satu kultur Hidayatullah adalah melayani tamu.

“Maka di Hidayatullah harus ada guest house untuk melayani tamu-tamu yang datang. Ini banyak hadist dan teladan yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para shahabat,” imbuhnya.

Dia menambahkan, seorang dia hendaknya terus menghidupkan GNH atau Gerakan Nawafil Hidayatullah sebagai sistem spritual untuk membangun amal disiplin untuk penguatan spritual.

“Maka seluruh kader dan pengurus Hidayatullah harus disiplin dan konsisten dalam pelaksanaan GNH. Meliputi shalat berjamaah, shalat sunnah rawatib, membaca al Qur’an, infak, dan dakwah fardiyah,” tandasnya.(ybh/hidayatullah.or.id)

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Rekonstruksi Peradaban Islam Pasca Ramadhan: Menjemput Kejayaan dari Syawal

RAMADHAN, bulan penuh berkah dan ampunan, telah sepekan lebih meninggalkan jejak takwa dalam sanubari kita. Takwa bagaikan benih yang...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img