spot_img

Hadapi Tantangan Ibu Kota dengan Tim Tawajjuh

Content Partner

ILUSTRASI: Pengajian akbar Pesantren Hidayatullah di ibu kota (FOTO: Dzulfiqar/ Hidayatullah.or.id)

SEKALIPUN dakwah di pedalaman penuh dengan cerita yang heroik dan tidak mudah, sebenarnya di perkotaan, terlebih ibu kota negara, juga tidak kalah serius tantangannya.

Kalau tidak menerapkan pola yang komprehensif, bisa-bisa dakwah semakin hari malah rapuh dan ujungnya satu, hapus.

Apalagi, kalau bicara kota, sepertinya orang harus ikut arus, menjadi materialis, hedonis, dan bahkan seperti kota-kota di Eropa dan Amerika, puncaknya jadi ateis.

Dan, belakangan sebagian dari negara Muslim, mulai ramai arus masyarakat kota menjadi ateis. Survei BBC International mencatat bahwa ada peningkatan persentase penduduk yang tidak beragama, dari awalnya hanya 8% pada 2013 menjadi 13% pada 2019.

Hal sama juga terjadi di Arab Saudi. Berdasarkan laporan ‘Saudi Arabia 2021 International Religious Freedom Report (2021)‘ tercatat ada 224.000 orang yang memilih tidak beragama, baik ateis atau agnostik (Sumber: CNBC Indonesia, 24/4/2023)

Nasihat Ustadz Abdullah Said

Sepertinya itulah yang menjadikan Ustadz Abdullah Said punya pemikiran mendalam terhadap dakwah di ibu kota.

Satu jurus kunci sukses dakwah dimanapun, di hutan maupun belantara beton seperti Jakarta, shalat berjamaah harus tegak.

Inilah nasihat sang pendiri Hidayatullah itu dalam Pidato Iftitah Silatnas I Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan, pada tahun 1995:

“Itulah sebabnya ditekankan untuk di setiap kampus mutlak shalat jamaah itu harus dipelihara baik-baik

Dan, inilah kesulitan DKI Jaya yang perlu dibantu untuk dipikirkan. Keadaan Jakarta meminta dan memaksakan pimpinannya Shubuh-Shubuh sudah hilang, habis Isya baru muncul, kayak kuntilanak.

Dan ini kalau terus menerus begini akan memberi peluang setan untuk masuk menggerogoti kekuatan dari dalam sehingga perlu ada kontribusi pemikiran dari kita dan saya sudah sodorkan hal itu.

Harapan shalat jamaah dengan Korwil, Pimpinan cabang, ustadz Abdul Mannan dibantu untuk lebih banyak berada di masjid daripada di luar masjid.

Cuma problema Jakarta di kota yang sesibuk itu tidak memungkinkan seorang fungsionaris untuk tetap berada di kampus. Karena kalau keluar ada urusan dalam keadaan pagi keluar, sore baru tiba. Kadang kembalinya besok pagi baru tiba

Dan, ini realita yang tidak bisa dihindari. Tapi perlu dibantu pemikiran bagaimana memecahkan problema di ibukota ini.

Saya sampai berpesan kepada Pak Mannan (Dr. Abdul Mannan, MM), bagaimana kalau membentuk Tim Tawajjuh di Cipinang itu, bahwa kalau Pimpinan keluar dari pagi sampai Isya hendaknya ada tiga warga yang tinggal di masjid yang mengiringi perjalanan Pimpinannya dengan doa, jangan mengiringi dengan mendengkur.

Tapi dengan doa agar semua urusan jalan, sebab mengharapkan kedatangannya di masjid, nanti habis Isya baru datang. Apalagi kalau sebelum Subuh sudah terbang bisa kayak kuntilanak

Jadi kita harapkan minimal Subuh ada dan paling late Isya sudah ada di tempat. Tapi kalau itu tidak tercapai minimal ada tim tawajjuh yang mengiringi perjalanan fungsionaris Jakarta dengan doa. Sebab inilah kenyataan yang tidak bisa dihindari.”

Optimalisasi Jamaah

Uraian Ustadz Abdullah Said itu memberikan satu pesan penting bahwa jamaah harus optimal. Sebagian tim dengan tim lainnya, memang tidak sama urusannya. Akan tetapi semua memiliki satu hal yang sama, yaitu tujuan.

Ketika sebagian tim berjibaku di lapangan, maka tim lain harus mengurus internal dengan baik. Bahkan kalau perlu bentuk tim Tawajjuh.

Secara bahasa “tawajjuh” artinya menghadap. Dalam hal ini maksudnya “menghadap kepada Allah Ta’ala.”

Artinya, tim tawajjuh adalah sebagian orang yang tugasnya adalah fokus dan penuh konsentrasi berdzikir dan melakukan ibadah guna memberikan energi dalam bentuk doa kepada tim di lapangan agar selamat dan sukses kala tugas dakwah.

Tim tawajjuh, setiap individu sebaiknya sepenuh hati fokus pada Allah, melepaskan diri dari belenggu pikiran dan emosi yang mengganggu, serta meruntuhkan tembok ego yang menghadang kedekatan dengan-Nya.

Proses ini memerlukan tekad bulat, kesadaran mendalam, dan usaha konsisten untuk menjalin ikatan erat dengan Allah di setiap detik kehidupan.

Jika dakwah di perkotaan menerapkan pola ini, insha Allah yang di lapangan, bertemu masyarakat, melakukan dakwah dan berinteraksi dengan berbagai macam orang, akan terjaga spirit dakwahnya.

Dan, tentu saja itu terjadi karena doa jamaah, termasuk tim tawajjuh itu sendiri. Karena memang berjamaah itu satu komando dan tujuan yang sama. Bukan masing-masing bergerak sendiri-sendiri. Kata Nabi SAW, umat Islam itu kal jasadil wahid.*

*) Penulis bergiat di lembaga kajian Progressive Studies and Empowerment Center (Prospect) | Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah 2020-2023. Publikasi pokok pokok pemikiran Ustadz Abdullah Said ini atas kerjasama Media Center Silatnas Hidayatullah dan Hidayatullah.or.id dalam rangka menyambut Silatnas Hidayatullah 2023

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sistematika Wahyu dan Gerakan Revolusi Sosial Ekonomi Dunia

PADA tahun 2012 di ruang aula sebuah hotel di Kota Malang. Pada sebuah gelaran diskusi yang diselenggarakan Pandawa Institute...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img